Selasa, 07 Agustus 2012

Semua, Seluruh, Segala, Segenap

Saat mengikuti resepsi peringatan 25 tahun seorang rekan imam, kami mendengar  bagaimana kata : semua, seluruh, segala, segenap  digunakan berulang-ulang. Seorang yang teman kelas yang agak usil melontarkan pertanyaan yang mungkin tampaknya sepele. Dia bertanya perihal perbedaan antara pemakaian semua dan seluruh, segala dan segenap. Pertanyaan yang tampak sepele seperti ini memaksa kami menggunakan kolom rubrik bahasa ini untuk menjelaskan masalah tersebut. Kami harus mengakui bahwa pertanyaan yang terkesan usil itu mengusung masalah bahasa yang penting terutama terkait masalah diksi.
Jika kita mencermati makna dasar, makna pokok keempat kata yang menjuduli ulasan ini, maka kita simpulkan keempat kata tersebut  digunakan untuk menyatakan makna lebih dari satu atau  jamak. Meskipun makna dasar keempat kata itu sama, tetapi dalam penggunaannya pada tataran kalimat  dan wacana memerlukan kecermatan dan rasa berbahasa. Keempat kata itu memiliki karakteristik dan ciri yang unik ketika dipersandingkan pada tataran kalimat dan wacana. Sebagai pedoman atau patokan, kami menurunkan kekhasan setiap kata itu.
Pertama,  kata ‘semua’ berkarakteristik dan dikenal melalui perilakunya ketika disandingkan pada tataran kebahasaan lain. Kata ‘semua’ berciri antara lain(a) dapat berdiri sendiri (b) berlokasi baik di depan maupun di belakang kata yang diterangkan (c) menyatakan pengertian 'jumlah' benda (abstrak atau konkret) yang banyak; dan (d) dapat bergabung dengan kata benda yang mengan­dung arti 'keanekaragaman'.
Kedua kata ‘seluruh’ dikenal dengan ciri-ciri (a) tidak dapat berdiri sendiri (b) selalu mendahului kata yang diterangkan (c) menyatakan pengertian 'keutuhan'; dan (d)         tidak dapat bergabung dengan kata benda yang me­ngandung arti 'keanekaragaman'.
Ketiga kata ‘Segala’ bercirikan (a) tidak dapat berdiri sendiri (b) mendahului kata yang diterangkan (c) menyatakan pengertian 'keanekaragaman', dan (d)           selalu bergabung dengan kata benda yang berarti 'keanekaragaman'.
Keempat kata ‘Segenap’ dengan karakteristik (a) tidak dapat berdiri sendiri; (b)  selalu mendahului kata yang diterangkan (c) menyatakan pengertian semua secara lengkap/sem­purna (tak ada yang terkecuali); dan (d) tidak dapat bergabung dengan kata yang berarti 'keanekaragaman'.
Melihat karakteristik setiap kata tersebut dapatlah disimpulkan bahwa kata-kata itu tidak dapat digunakan secara bergantian mesekipun keempat kata itu tegolong sinonim. Untuk itu, perhatikan dan bandingkanlah dengan beberapa contoh penggunaan kata-kata itu dalam konteks kalimat.
Contoh:
(1)   Siswa Seminari Kisol berjumlah 380 orang. (Semua *Seluruh *Segala, *Segenap) mereka laki-laki.
(2)   Tamu yang datang  (semua,*seluruh, *segala, *segeenap) perempuan
(3)   Flu Burung sudah tersebar ke (seluruh, *semua, *segala, *segenap) Indonesia.
(4)   Pemerintah mewujudkan kesatuan dalam (segala, semua *seluruh, *segenap aspek  kehidupan.
(5)   (Segenap, Semua, Seluruh, *Segala)  anggota keluarga hadir dalam pesta itu.
Catatan:
(1)   Kata semua, seluruh, dan segala dapat dibubuhi akhiran -nya, se­dangkan kata segenap tidak dapat. Cth. (a) Mereka itu semuanya calon guru. (b) Rakyat Indonesia seluruhnya bersatu padu.
(2)   Kata semua dapat diikuti oleh kata itu, sedangkan kata seluruh, segala, dan segenap tidak dapat. Cth: (a) Se­mua itu menjadi sumber ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa'.
(3)   Kata segala dapat diikuti oleh kata sesuatu, sedangkan kata se­mua, seluruh, dan segenap tidak dapat. Cth: (a) Segala sesuatu itu ada waktunya (b) Semua siswa berkumpul di halaman sekolah. (c) Segala alat pertanian mahal.
 Untuk menyatakan jamak/kelompok lazim pula dipakai kata pa­ra, kaum, dan umat.. Para : cenderung bergabung dengan kata benda insan dan kata benda nama profesi. Kaum:cenderung bergabung dengan kata benda idiologi/faham.Umat: cenderung bergabung dengan kata benda yang berlatarbelakang agama.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar