Jumat, 03 Agustus 2012

Bilangan Tak Terbilang


68. Bilangan Tak Terbilang

Kalau dalam wacana lisan kita mendengar kata ‘bilangan’ atau dalam wacana  tulis kita membaca  kata ‘bilangan’ maka pikiran kita secara intuitif  dan bahkan otomatis membayangkan sederetan angka yang berkaitan dengan perhitungan matematis dan ekonomis. Bilangan dalam pengertian yang biasa dan paling sederhana sama dengan angka-angka. Dalam dunia hitung menghitung (matematika) dan dalam usaha mencari keuntungan (disiplin ekonomi) kita berhadapan dengan angka-angka.
Suatu hal mengejutkan kita (paling kurang pemakai dan pemerhati bahasa) adalah munculnya kecenderungan dalam diri masyarakat pemakai bahasa (pebahasa) untuk memperluas penggunaan kata bilangan itu pada konteks kehidupan yang lain. Kata bilangan tampaknya mengalami perluasan konteks penggunaannya oleh pemakai bahasa. Frekuensi atau tingkat keseringan penggunaan kata ‘bilangan’ bercorak ‘out of context’ ini sudah  sampai pada tingkat tidak terbilang. Kenyataan ini akan menjadi jelas bagi kita kalau kita tergolong orang yang cukup rajin membaca laporan dan berita yang dipublikasikan media massa lokal kita.
Kita bisa saja akan menjumpai atau menemukan penggunaan kata ‘bilangan’ itu seperti yang kami kutip dari surat-surat kabar yang memiliki segmen pembaca dalam kawasan Nusa Tenggara Timur misalnya  Harian Umum  Pos Kupang, Flores Pos, dan Surya Flores. Perhatikan dan cermatilah kalimat (a) s.d. (d) berikut ini:
(a)    Pelaku tindak kejahatan itu bersembunyi di bilangan hutan pinggir kota.
(b)    Kajahatan KKN sudah melanda semua unsur di bilangan birokrat.
(c)    Mereka yang merambah bilangan hutan lindung dijerat hukum pidana.
(d)   Kelompok masyarakat di bilangan pantai sering mengebom ikan dengan potasium.
Semua pembaca umumnya memahami (kami menduga demikian) apa yang menjadi pesan atau makna pokok kalimat (a) s.d. (d) di atas. Penggunaan kata ‘bilangan’ pada contoh-contoh di atas dalam konteks komunikasi biasa, dan terlebih lagi dalam konteks karakteristik bahasa media,  tampaknya tidak perlu dipersoalkan. Pembaca yang memiliki kompetensi komunikasi akan menilai contoh pewacanaan seperti itu berkategori ‘berterima’. Artinya, orang mengerti maksudnya. Dengan kata lain, bahasanya baik.
Bagi mereka (pembaca) yang memiliki kompetensi linguistik (pengetahuan kebahasaan yang bercorak formal), semua contoh di atas perlu dipersoalkan terutama masalah penggunaan kata ‘bilangan’. Inti persoalannya, apakah penggunaan, penempatan kata ‘bilangan’ pada contoh-contoh itu tepat jika dikaitkan dengan kaidah kebahasaan yang bukan saja berterima tetapi berterima karena memang dilandasi kaidah kebahasaan yang benar.
Untuk menjernihkan permasalahan seperti ini kita perlu melihat kembali pengertian dasar kata ‘bilangan’ itu. Secara leksikal bentuk kata ‘bilangan’ itu muncul sebagai kata bentukan (setelah proses morfologis) bentuk dasar ‘bilang’. Bentuk ‘bilangan’ sendiri memiliki arti (1)  banyaknya benda (jumlah benda), (2) satuan jumlah, (3) satuan dalam sistem matematis yang abstrak dapat diunitkan, ditambah, dikalikan (4) golongan dan lingkungan (5) lingkungan, daerah (catatan arti dalam konteks ragam percakapan), (6) ramalan tentang baik buruk, (7) takdir, (8) ideal yang bercorak abstrak (Bdk. KBBI, 1989: 116).
Berdasarkan uraian atau deskripsi leksikal tentang makna kata ‘bilangan’ ini, kita dapat melihat bahwa makna (5)  diikuti dengan satu catatan penting yang menunjukkan bahwa bentuk ’bilangan’ yang menunjukkan lingkungan, tempat, daerah, kawasan hanyalah dalam konteks bahasa percakapan. Itu artinya bentuk tersebut hanya akan menghasilkan bahasa yang baik atau pas untuk mereka yang berkomptensi komunikatif. Makna utama kata ‘bilangan’ itu merujuk pada makna (1) s.d. (4).
Kembali pada contoh wacana (a) s.d. (d) di atas kita melihat bahwa penggunaan kata ‘bilangan’ itu mengacu pada makna tempat, lingkungan, daerah, kawasan. Mengingat makna itu diterima hanya dalam konteks bahasa percakapan, kita mau tidak mau harus membenahi penggunaan bentuk ‘bilangan’ pada semua contoh tersebut. Alternatif apa yang dapat kita gunakan? Apakah harus secara eksplisit menggantikan  kata ‘bilangan’ dengan ‘daerah’, ‘kawasan’, ‘lingkungan’. Jika kemungkinan ini kita pilih maka kita akan temukan bentuk kalimat (e) s.d. (h) berikut:
(e)    Pelaku tindak kejahatan itu bersembunyi di kawasan hutan pinggir kota.
(f)     Kajahatan KKN sudah melanda semua unsur di lingkungan birokrat.
(g)    Mereka yang merambah kawasan hutan lindung dijerat hukum pidana.
(h)   Kelompok masyarakat di daerah pantai sering mengebom ikan dengan potasium.
Pilihan dengan cara menggantikan seperti ini masih menyisakan persoalan karena makna wacana (e) s.d. (h) tetap berkategori makna untuk bahasa percakapan. Bukan makna bahasa dalam pengertian yang formal. Tambahan pula penggantian atau proses substitusi seperti itu menghasilkan bentuk wacana yang tidak efektif karena penggunaan kata yang menggantikan kata ‘bilangan’ terkesan mubazir. Mengapa? Karena, semua orang tahu bahwa : hutan,  birokrat, pantai adalah kata yang bermakna/merujuk pada tempat.
Dengan demikian langkah terakhir, kita harus membenahi kembali bentuk-bentuk yang sudah diubah dengan proses substitusi kata ‘bilangan’ pada wacana (e) s.d. (h) dengan menghilangakan kata yang mubazir. Kita akan dapati kalimat efektif seperti (i) s.d. (l) berikut ini:
(i)      Pelaku tindak kejahatan itu bersembunyi di hutan pinggir kota.
(j)      Kajahatan KKN sudah melanda semua unsur di birokrat.
(k)    Mereka yang merambah hutan lindung dijerat hukum pidana.
(l)      Kelompok masyarakat di pantai sering mengebom ikan dengan potasium.
Ya…kita harus berani menghilangkan ‘bilangan’ biar bilangan tetap terbilang…..**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar