Selasa, 07 Agustus 2012

Perhitungan atau Penghitungan?


Pesta demokrasi, Pemilu, untuk memilih calon anggota legislatif telah kita lewati. Bagi calon yang beruntung, tentu saja bergembira karena mendapat dukungan dari massa pendukungnya masing-masing. Bagi yang belum beruntung, meskipun mungkin telah mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan modal, kita harapkan tidak perlu merasa kecewa. Politik memang menempatkan orang pada dua posisi untung dan rugi. Politik juga mengandaikan kemampuan menerapkan aneka metode dan strategi menarik simpati massa pemilih. Di sanalah kita akan berhadapan dengan suatu ‘permainan’ yang tidak dapat dijelaskan secara akal sehat.
Rubrik Bahasa edisi ini tidak bermaksud mempersoalkan substansi pesta demokrasi atau pemilu yang telah kita lalui. Hal yang diangkat dalam ulasan ini hanya berkaitan dengan penggunaan kata dalam keseluruhan proses pemilu. Setelah pemilu berlangsung muncul dua kata kunci yang frekuensi penggunaannya paling tinggi yaitu kata ‘Perhitungan’ dan kata ‘Penghitungan’. Berita yang dipublikasikan melalui media massa seperti siaran televisi, radio dan surat kabar antara lain seperti yang kami kutip berikut ini:
1.      Semua saksi partai turut menyaksikan acara penghitungan suara.
2.      Perhitungan suara di daerah pedesaan mengalami hambatan.
3.      Beberapa caleg tidak yakin akan perhitungan suara di beberapa daerah pemilihan.
4.      Hasil penghitungan suara di setiap TPS tidak mencapai target karena banyak kartu suara yang rusak.
5.      Perhitungan suara secara manual terjadi di daerah pedesaan.
6.      Sistem penghitungan suara dapat  dilakukan secara bertahap.
Contoh (1) s.d. (6) di atas memuat kata perhitungan dan penghitungan secara bergantian. Bagi, massa pemilih dan caleg yang berambisi meraih kursi legislatif, kemungkinan tidak  perlu mempersoalkan pemakaian dua kata itu secara bergantian. Dalam kondisi politik seperti ini, urusan bahasa seolah-olah tidak perlu dipersoalkan karena ada pengandaian bahwa semua orang yang mendengar atau membaca dua kata itu memahami maknanya. Tentu lain soalnya, untuk seorang yang ingin mencermati ketepatan pemilihan kata dalam tindak berbahasa. Pemerhati bahasa jelas mempersoalkan ketepatan penggunaan kata, ‘perhitungan’ dan ‘penghitungan’ pada wacana di atas.
Apa sebenarnya pokok masalah yang dipertautkan dengan dua kata itu? Untuk menjawab persoalan seperti ini, mau tidak mau kita harus merunut proses penurunan (derivasi) atau pembentukan dua kata tersebut.  Jika ditilik berdasarkan kaidah morfofonemik, maka kita akan temukan bahwa bentuk dasar untuk dua kata itu sama yaitu ‘hitung’. Bentuk seperti itu secara meyakinkan dicantumkan dalam leksikon (Bdk. KBBI,  1998:311).
Menurut kamus kata hitung itu berkategori verba (kata kerja) makna perihal membilang yang mencakup menjumlahkan, mengurangi, membagi, memperbanyakkan. Bentuk-bentuk lain yang dapat diturunkan dari bentuk dasar itu adalah: berhitung (mengerjakan hitungan); menghitung (mencari jumlahnya); dihitung (dimasukkan dalam bilangan, dianggap sebagai); menghitungi (menghitung berkali-kali); menghitungkan (menghitung untuk orang lain); memperhitungkan (mengira-ngira dan menghitung berapa banyak); terhitung (sudah dihitung); hitungan ( pendapatan, hasil menghitung); perhitungan (perbuatan memperhitungkan); penghitungan (cara, proses, perbuatan menghitung).
Dalam deretan bentuk turunan dari kata atau bentuk dasar hitung itu, kita temukan bentuk perhitungan dan penghitunganPerhitungan berarti perbuatan memperhitungkan sedangkan penghitungan mengacu pada makna proses, cara, perbuatan menghitung. Dua bentuk ini memperlihatkan adanya proses morfofonemik yang berbeda terhadap bentuk dasar hitung. Pada bentuk perhitungan kita temukan bentuk dasar hitung yang mengalami afiksisasi dengan konfiks per-/-an. Pada bentuk penghitungan bentuk dasar hitung  mengalami afiksisasi dengan konfiks pe(N)-/-an. Jika kita mencermati kedua bentuk itu, maka jelaslah bagi kita bahwa ada perbedaan kaidah morfofonemik kata yang diimbuhi konfiks per-/-an dan pe(N)-/-an .

Bentuk perhitungan dan penghitungan dapat dijelaskan berdasarkan kaidah morfofonemik  kata berkonfiks per-/-an dan pe(N)-/-an ini. Konfiks per-/-an, menurut kaidah, berfungsi membentuk kata benda, dengan makna  (a) menyatakan hal yang berhubungan dengan apa yang disebutkan dalam kata dasar (b) menyatakan hal atau hasil (c) menyatakan tempat. Konfiks per-/-an ini dalam kajian morfofonemik paralel dengan kata kerja berafiks ber- atau memper-.Kata kerja hitung yang diimbuhi konfiks per-/-an menurunkan bentuk perhitungan, memperhitungkan. Jadi, bentuk perhitungan itu berkaitan dengan kegiatan berhitung.
Bentuk penghitungan diturunkan dari bentuk dasar hitung yang diimbuhi dengan konfiks pe(N)-/-an. Konfiks ini, jika dilekatkan pada kata dasar yang diawali fonem /k,g,h,x, dan vokal/ akan mengambil alomorf peng-. Kata seperti gali, hitung, hibur misalnya akan menurunkan bentuk penggalian dan penghitungan, penghiburan. Konfiks pe(N)-/-an ini paralel dengan bentuk kata kerja aktif yang ditandai dengan penggunaan bentuk me(N)-.  Bentuk penghitungan itu bermakna proses menghitung. Menghitung berarti mencari, menentukan jumlah  dan penghitungan berarti keseluruhan proses mencari dan menentukan jumlah sesuatu.
Bertolak dari penjelasan seperti ini, kita dapat menentukan bentuk  pemakaian yang tepat  antara perhitungan dan penghitungan pada contoh-contoh di atas. Melihat konteks kalimat yang dikutip sebagai contoh di atas, kita dapat memastikan bahwa yang ditekankan sebenarnya berkaitan dengan masalah hitung  menghitung. Proses menghitung jumlah suara pemilih disingkat menjadi penghitungan suara. Penghitungan atau proses menghitung itu menyatakan aktivitas subjek. Mengingat kata perhitungan  juga bermakna pertimbangan, kita lebih tepat memilih bentuk penghitungan daripada perhitungan. Dengan demikian kita dapat membenahi kalimat-kalimat di atas menjadi seperti kalimat (7) s.d. (12) berikut ini:
1.      Semua saksi partai turut menyaksikan acara penghitungan suara.
2.      Penghitungan suara di daerah pedesaan mengalami hambatan.
3.      Beberapa caleg tidak yakin akan penghitungan suara di beberapa daerah pemilihan.
4.      Hasil penghitungan suara di setiap TPS tidak mencapai target karena banyak kartu suara yang rusak.
5.      Penghitungan suara secara manual terjadi di daerah pedesaan.
6.      Sistem penghitungan suara dapat  dilakukan secara bertahap.
 

2 komentar:

  1. lalu bagaimana dengan istilah quick count???

    BalasHapus
    Balasan
    1. quick count itu bisa dikatakan juga dengan penghitungan cepat...(?)

      Hapus