Selasa, 07 Agustus 2012

Gubernur seluruh, Seluruh gubernur


Peristiwa pengeboman di  Bali masih menyisakan pelbagai kenangan tragis bagi keluarga yang mengalaminya. Kala itu, perhatian seluruh dunia seakan-akan terarah ke ‘pulau dewata’. Peristiwa tragis  yang menimpa seluruh penduduk Pulau Bali itu telah memperpanjang deretan kisah duka karena sebelumnya  hal serupa menimpa seluruh warga Amerika. Amerika seluruhnya lumpuh karena  bangunan yang menjadi lambang prestise dan kebanggaan seluruh warganya, hancur berantakan.
Pada paragraf di atas kita temukan konstruksi: seluruh dunia, seluruh penduduk, seluruh warganya, dan Amerika seluruhnya. Konstruksi atau pola penyusunan kata seperti ini  dalam istilah Sutan Takdir Alisjabana dikenal sebagai hukum  DM. Hukum DM dibatasi sebagai kaidah tentang unsur-unsur dalam konstruksi Bahasa Indonesia baik dalam kata majemuk maupun dalam kalimat. Segala sesuatu yang menerangkan selalu terletak di belakang yang diterangkan (Bdk. Kridalaksana, 1993:77-78). Hal ini tampaknya berlawanan dengan konstruksi dalam bahasa asing (MD) misalnya Bahasa Inggris. Pola anak pintar dalam Bahasa Indonesia, misalnya, dalam Bahasa Inggris menjadi  clever boy jika dikembalikan mengikuti pola Bahasa Indonesia harus diterjemahkan menjadi pintar anak.
Masalah yang kita jumpai dalam kaitan dengan konstruksi atau pola-pola yang dipaparkan di atas adalah masalah makna yang diemban setiap konstruksi. Apakah pola warga seluruh Amerika itu sama maknanya dengan pola seluruh warga Amerika? Inilah persoalan pokok yang kita hadapi dan harus jelaskan karena pola-pola seperti ini sering kita jumpai dalam tindak berbahasa baik lisan maupun tulisan.
Dalam Rubrik Bahasa yang lalu, telah diulas perihal penggunaan kata bersinonim: Semua, segala, seluruh, dan segenap.  Berdasarkan ulasan tersebut kita mendapatkan informasi dan penjelasan tentang makna umum (makna yang sering  dianggap benar) bahwa keempat kata itu menyatakan jumlah lebih dari satu atau jamak. Penjelasan yang menyoroti makna umum itu dapat saja membingungkan pembaca. Hal itu ternyata benar karena seorang pembaca yang sungguh mencintai bahasa Indonesia dan senang mengikuti ulasan Rubrik Bahasa bertanya tentang perbedaan antara konstruksi “Seluruh gubernur Indonesia” dan konstruksi “Gubernur seluruh Indonesia”. Bagi kami, pertanyaan seperti ini penting karena dua konstruksi seperti ini mirip dengan yang telah dicontohkan di atas.
Sebelum kita mendapatkan  jawaban untuk pertanyaan tersebut, baiklah kita mencermati beberapa konstruksi sintaksis atau struktur kalimat berikut dan maknanya sejauh yang dapat kita pahami.
(a)   Menjelang Pemilu seluruh gubernur Indonesia bersidang di Jakarta.
(b)   Menjelang Pemilu gubernur seluruh Indonesia bersidang di Jakarta.
(c)    Seluruh rakyat Indonesia diharapkan agar mengikuti pemilihan Presiden.
(d)   Rakyat seluruh Indonesia diharapkan agar mengikuti pemilihan Presiden.
(e)    Pelayan membersihkan seluruh kamar.
(f)     Pelayan membersihkan semua kamar.
Konstruksi (a) dan (b) sepintas seolah-olah memuat informasi tentang hal yang sama  atau dua kalimat itu bermakna sama.Padahal, dua konstruksi itu harus dipertanyakan makna berkaitan dengan penggunaan kata keterangan bilangan ‘seluruh’. Pada konstruksi (a) informasi yang mau disampaikan berkaitan dengan jumlah gubernur  sebanyak yang ada di Indonesia. Kata seluruh pada konstruksi (a) bermakna jamak artinya pasti banyak gubernur. Lain halnya dengan konstruksi (b) kata ‘seluruh’ itu memberi keterangan pada kata Indonesia.  Indonesia dalam pengertian sesungguhnya hanya satu.  Konstruksi (b) yang menggunakan kata ‘seluruh’ tidak harus berarti jamak karena bisa terjadi di Indonesia hanya ada seorang gubernur. Masalah yang persis sama kita jumpai pada konstruksi (c) dan (d). Kata ‘seluruh; pada konstruksi (c) pasti menyatakan jumlah jamak sedangkan pada konstruksi (d) bisa jamak tetapi bisa juga tunggal.
Kalau kita bandingkan empat konstruksi ini dengan konstruksi (e) dan (f) maka kita akan melihat secara jelas perbedaan makna pemilihan kata ‘semua’ dan ‘seluruh’ dalam kalimat. Dari perbandingan itu kita akan menemukan kesalahan pemilihan kata sebagai penyebab ambiguitas makna pada keempat konstruksi tersebut.  Kata ‘seluruh’ dalam konstruksi (e) tidak menyatakan bahwa ada banyak jumlah kamar (bukan menyatakan jamak) tetapi menyatakan  keutuhan. Kamarnya hanya satu tetapi pelayan yang  membersihkan kamar itu tidak membiarkan ada bagian yang tidak dibersihkan. Pemakaian kata ‘semua’ pada konstruksi (f) jelas menyatakan makna jamak (lebih dari satu kamar).
Dengan melihat perbandingan seperti ini, kita menyadari bahwa konstruksi (a) dan (c) yang menggunakan kata keterangan jumlah ‘seluruh’ tergolong konstruksi yang salah. Bentuk ‘semua’ dan ‘seluruh’ sebagai sinonim untuk konstruksi serupa itu harus menggunakan kata keterangan ‘semua’ dan bukan ‘seluruh’. Konstruksi (a) dan (c) seharusnya dibenahi menjadi  konstruksi (g) dan (h) berikut ini:
(g)   Menjelang Pemilu semua gubernur Indonesia bersidang di Jakarta.
(h)   Semua rakyat Indonesia diharapkan agar mengikuti pemilihan Presiden.**

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar