Selasa, 09 Juni 2015

cerpen Aokigahara



Aokigahara

Tahun demi tahun semakin banyak saja orang Jepang yang bunuh diri di hutan ini. Aokigahara. Tempat favorit bagi mereka yang ingin bunuh diri. Yah… aku tidak akan mengeluh, karena bagaimanapun juga, semakin banyak mereka yang mati berarti pendapatanku semakin bertambah.
Orang Jepang menyebut hutan ini sebagai ”hutan bunuh diri” sehingga mau tak mau tak jarang orang berpersepsi keliru mengenai orang-orang yang datang ke hutan ini. Aku datang ke sini bukan sebagai turis entah untuk menikmati pemandangan gunung Fuji di sebelah barat ataupun suasana mistis yang hanya dimiliki oleh tempat di mana ratusan bahkan ribuan nyawa melayang di lokasi yang sama.
Aku datang untuk mencari nafkah. Untuk bertahan hidup. Seperti yang telah kuamati selama ini, malam-malam pada perayaan seperti tahun baru inilah yang biasanya digunakan oleh sebagian orang Jepang untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Di tengah tawa dan pesta penduduknya, ada segelintir orang yang mengasingkan diri dan merasa bahwa saat itulah… saat terbaik untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia.
Kupikir aku datang terlalu cepat, tapi ternyata sudah ada klien yang pergi ke dunia sana. Pria itu tergantung pada sebatang pohon dengan menggunakan ikat pinggangnya. Aku memeriksa denyut nadinya dan merasakan mayatnya masih hangat. Aku menunggu satu dua menit karena tidak ingin mengganggu perjalanannya ke alam sana. Setelah itu aku merangkapkan kedua tanganku di depan dada—meniru pengikut-pengikut Buddha yang biasanya sembahyang di kuil-kuil.
”Lima puluh tahun di bawah langit! Lima puluh tahun di bawah langit!” bisikku berdoa.
”Aku tak minta hidup lama-lama. Cukup berikan aku lima puluh tahun di bawah langit saja. Maafkan aku. Aku akan membakar dupa untukmu besok. Aku janji,” doaku khusyuk. Setelah itu aku menurunkannya dan membaringkan mayat pria itu di tanah. Aku mempunyai kode etik untuk selalu mencari tahu nama mayat yang sedang kujarah sebelum mengambil barang-barang peninggalannya. Menurutku adalah suatu hal yang ironis apabila tidak berusaha mencari tahu nama mereka yang sudah mati, padahal selama hidup pun mereka juga diabaikan.
Aku mengeluarkan KTP dari dompetnya. Ken’ichi Matsuyama, 32 tahun. Dua kali lipat dari usiaku. Masih ada delapan belas tahun sisa hidupnya, tapi ia memilih mengakhirinya malam ini. Aku tidak terlalu berharap pada uang tunai klien-kilenku karena biasanya kebanyakan alasan mereka bunuh diri adalah karena kekurangan uang. Namun aku terkejut ketika menemukan 58.000 yen di dalam dompetnya. Aku buru-buru mengambil setengahnya dan menyisakan sebagian pada kolegaku yang lain.
Walaupun disebut kolega, sebenarnya kami belum bertemu satu sama lain. Orang Jepang adalah orang yang memiliki kehormatan yang tinggi sehingga mereka merasa amat malu apabila ada orang lain yang mengetahui pekerjaan mereka yang hina ini. Bagi mereka, lebih baik mati daripada harus hidup menanggung aib karena ada orang lain yang tahu bagaimana cara mereka bertahan hidup.
Hal itu kupelajari setelah tanpa sengaja bertemu dengan pemulung lain, seorang bocah berusia 12 tahun yang mungkin disuruh orangtuanya. Bukannya mengancam layaknya binatang buas agar aku tidak mendekati bangkai yang sedang dijarahnya, dia malah meninggalkan hasil rampasannya dan kabur begitu melihatku.
Di kemudian hari, aku mengetahui dari koran bekas bahwa bocah itu gantung diri tak lama setelah bertemu denganku. Aku berpikir benarkah bocah seusia itu merasa harus mempertahankan kehormatan keluarganya ataukah kematiannya itu pun adalah perintah dari ayahnya yang merasa anaknya sudah membawa aib?
Misteri itu tidak pernah terpecahkan dan aku menyesal harus bertemu dengan bocah itu. Sejak saat itu aku menajamkan pendengaranku dan berusaha membuat sedikit suara setiap kali sedang menjarah. Kami biasanya memberi kesempatan pada yang datang duluan.
Aku mengambil kartu kredit milik Ken’ichi. Tiket kereta api berlangganan, SIM, dan juga jam tangannya. Suara gemerisik rumput di belakangku membuatku bereaksi dan menoleh ke belakang.
”Haaanttuuu,” pekikku tertahan.
Biar kujelaskan. Jangan dulu katakan aku ini pengecut, ok?
Aku sudah terlalu terbiasa melakukan pekerjaan ini sehingga tidak ada perasaan takut dalam diriku untuk bertemu hantu mereka yang bunuh diri. Sebaliknya, seperti yang kuceritakan tadi, aku justru takut bertemu manusia-manusia sepertiku yang berusaha bertahan hidup dari peninggalan mereka yang memilih mati.
Hanya saja gadis itu terlalu cantik untuk seorang manusia. Kecantikan yang kupikir hanya bisa ditiru siluman atau hantu untuk memperdaya manusia. Aku sudah menyiapkan mentalku untuk bertemu setan-setan yang bonyok di wajah dan mengucurkan darah sehingga sama sekali tidak siap memandang kecantikan surgawi yang terpancar dalam diri gadis itu.
Rambutnya yang panjang menjuntai di samping pelipisnya. Dia pun memakai kimono putih yang indah bersulam burung-burung bangau yang terbang ke selatan. Wajahnya tampak dibedaki tipis-tipis dan bibirnya diberi pewarna merah yang menandakan bahwa ia telah beranjak usia akil balig.
”Memalukan sekali!” bibirnya yang mengerucut dan senyum sinisnya itu mengembalikan aku pada dunia nyata.
”Hidup dari jerih payah orang-orang yang sudah mati. Kau benar-benar memalukan!” ulang gadis itu memancing reaksiku.
Aku tahu seharusnya aku berbalik dan kabur seperti yang dilakukan bocah itu dan kembali ke sini esok malam untuk menggantung diri di salah satu pohon. Hanya saja aku bukan orang Jepang dan tidak mempunyai mental orang Jepang meskipun aku mengagumi kebudayaan mereka.
”Mereka mati itu pilihan mereka. Aku hidup itu pilihanku sekalipun dengan cara ini.” Wajahku terbakar rasa malu yang luar biasa ketika mengatakan hal itu.
Gadis itu mengerutkan kening sedikit. Wajahnya terlalu anggun untuk mengekspresikan rasa jijik yang ia rasakan pada diriku sehingga hanya melalui matanya aku tahu ia menatapku dengan hina dan jijik.
Ia tak berkata apa-apa lagi dan hanya melepaskan giwangnya dan memberikannya padaku. Sebagai penadah barang curian aku tahu giwang hijau itu terbuat dari mutu yang bagus. Aku terlalu sibuk menaksir harganya sehingga tidak menyadari situasi yang sedang kualami.
”Untuk apa ini?” tanyaku seperti orang bodoh.
”Aku tidak ingin kau menjamah tubuhku ketika aku sudah mati. Hanya ini yang kupunyai. Ambillah!” jawab gadis itu.
”Kau tidak bawa uang?” tanyaku spontan.
Gadis itu tergeragap mendengar pertanyaanku yang kurang ajar, tidak manusiawi, dan tidak pada tempatnya. Ia melepaskan kalungnya yang dibandulnya terdapat sebuah kantung kecil.
”Di dalamnya ada sekeping uang logam zaman dulu. Pemberian dari kakekku. Kupakai sebagai jimat dan mungkin cukup ampuh untuk mengusir hantu sepertiku jika kita bertemu lagi.”
Aku berani bersumpah bahwa ia tersenyum kecil sewaktu menyindirku tadi! Jika hujan tidak segera turun, aku yakin sebentar lagi ubun-ubun kepalaku akan mengeluarkan asap.
Aku tak tahu harus berkata apa sehingga aku hanya menganggukkan kepala kepadanya. Dengan raut sedih ia membalas anggukanku dan berbalik menuju jalan yang dipilihnya.
Dua-tiga langkah kemudian ia berbalik padaku dan berkata dengan tajam, ”Ingat! Jangan menyentuhku atau aku akan menggentayangimu, ok!?” gadis itu mengedipkan matanya padaku.
Aku terlalu percaya takhayul bahwa permintaan orang yang akan meninggal harus dipenuhi dan perintahnya harus dipatuhi sehingga kedipan itu pun tidak dapat membuat hatiku tenang.
Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku bukan seorang nekrofil (aku memang tidak terdidik, tapi aku tahu arti kata itu) dan tidak memiliki minat pada mayat yang secantik apa pun—meskipun aku sedikit berharap dia berbuat sedikit kebaikan di akhir hidupnya dengan memberiku kecupan selamat tinggal.
Terakhir kali aku melihatnya, dia sedang berusaha mengaitkan ikat pinggang kimononya pada sebuah cabang pohon. Membentuk sebuah simpul. Aku melayangkan pandanganku dengan sedih dan berbalik berjalan di jalan kehidupan yang sulit.
”Kosong adalah isi. Isi adalah kosong,” aku berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk berusaha tampak bijak dan arif seperti pendeta-pendeta tao zaman dulu.
”Pertemuan adalah perpisahan. Akhirku adalah permulaanku,” ceracauku tak jelas. Sedetik setelah itu, aku dikejutkan sedemikian rupa oleh gadis itu yang tiba-tiba muncul di depanku sehingga aku terlompat mundur beberapa langkah ke belakang.
”Bagaimana bisa? Tadi kau di belakangku!” kataku padanya.
Gadis itu tersenyum. Senyum yang manis dan menghanyutkanku.
”Aku mengenal hutan ini lebih baik darimu.”
”Ta-tapi…,” aku hendak protes sewaktu gadis itu merapatkan bibirnya pada bibirku. Rasanya basah, dingin dan hmm… tak bisa kujelaskan.
Lidahku kelu sehingga tak dapat menanyakan untuk apa ciuman itu.
”Mengapa kau tidak berusaha menyelamatkanku?” tanyanya merajuk padaku.
”Aku, aku tidak tahu kau ingin diselamatkan. Kupikir kau memang sudah berbulat hati memilih jalan itu.”
”Kauu jahattt!” ia memukulkan tangannya yang kecil pada dadaku dan merebahkan kepalanya pada pundakku.
Aku membelai rambutnya yang halus. ”Kau tidak jadi mati?” tanyaku, lagi-lagi salah ucap. Kugigit lidahku.
”Kau ingin aku mati?” dia tiba-tiba menarik kepalanya dan menatapku dengan serius.
”Bu, bukan begitu! Maksudku, aku bingung apa yang membuatmu mengubah keputusanmu?”
Air matanya bergulir sewaktu dia menjawab pertanyaanku.
”Tidak ada yang peduli padaku,” katanya. ”Seumur hidupku tidak ada yang peduli padaku. Aku ingin ada seorang saja yang peduli padaku jika aku berusaha bunuh diri.”
Sorot matanya tampak seperti anak kucing yang tercebur di sungai dan minta pertolongan. Tanpa sadar aku telah mengulurkan tangan untuk merengkuhnya dan mendekapnya dalam pelukanku.
”A-aku peduliii…,” kataku dengan gugup dan malu.
”Benarkah?” matanya menatap lekat padaku, seolah sedang mencari jejak-jejak kebohongan.
”Ya,” jawabku pendek untuk mengukuhkan suatu komitmen.
Gadis itu tersenyum dan membenamkan wajahnya di bahuku. Tangannya mencari tanganku dan menggenggamnya. Kemudian tiba-tiba dia membuka telapak tanganku dan mengambil giwang dan kalung miliknya.
”Kau sudah memiliki aku, jadi tak membutuhkan ini!” katanya seraya melemparkan benda-benda miliknya itu ke kedalaman hutan. Apakah dia sedang berusaha menghapus masa lalunya? Entahlah.
Malam itu kami berjalan bergandengan tangan dan aku merasa jalan pulang yang kulalui telah berubah dan membentuk sebuah cabang baru. Sebuah perasaan aneh dalam diriku membuatku berbalik dan menatap hutan Aokigahara—yang entah kenapa kurasakan untuk yang terakhir kalinya. Hutan yang telah menelan banyak korban. Bahkan orang-orang asing dari benua Eropa pun tertarik dengan keeksotisan hutan ini dan memilih mengakhiri hidupnya di sini.
Mungkinkah hutan ini sudah insaf dan ingin bertobat? Ataukah kisahku hanya salah satu dari sedikit cerita yang belum dikonsumsi umum bahwa di samping meminta banyak kematian, hutan ini juga mampu memberikan kehidupan?
Entahlah. Aku tidak tahu dan aku tidak yakin dengan tapak langkahku di jalan baru ini. Aku tidak yakin hutan ini dapat menghidupi kami berdua. Atau bertiga.
Aku harus mencari pekerjaan lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar