Minggu, 31 Mei 2015

Cerpen Seperti Gerimis yang Meruncing Merah



Seperti Gerimis yang Meruncing Merah

Kau tak akan pernah membayangkan betapa gerimis November bakal seruncing ini, Hindun. Kau tak akan pernah tahu suara beduk magrib pada Ramadhan terakhir teramat mengiris dan takbir menjelang Lebaran itu mengingatkanku pada ketololanmu memaknai bendera-bendera kemenangan yang terpancang di langit Uhud.
Tentu saat itu gerimis tak sedang mendera medan perang yang riuh oleh denting pedang atau tombak yang sedang beradu. Tentu kilat juga tak sedang menyambar-nyambar di keriuhan ringkik kuda dan debu-debu yang beterbangan seperti abu. Namun, siapa pun tahu, serupa gerimis, anak panah-anak panah dari busur-busur buta itu kian mendesing, mengabaikan jerit, mengabaikan mayat-mayat yang telah mengonggok di bukit berbatu.
Dan kau, Hindun, mengapa masih mengasah pedang juga? Mengapa pada saat tak ada burung-burung ababil melintas di atas kuburan kau tetap mengenang pertempuran sengit di Jabal Uhud itu? Bukankah telah kau hentikan segala puasa dan sakit yang mengharu-biru?
Sudah kuduga kau mengabaikan teriakan parauku. Bersama kaum Quraisy-wahai pahlawan-pahlawan kencanaku-kau bergegas menghitung dan mencari orang-orang yang gugur dalam perang besar itu. Aha! Kuhitung 55 tentara Nabi telah tewas, sedang pasukan Quraisy cuma 22 orang. Ini jelas kemenangan tak terperi. Kemenangan terindah setelah jauh sebelumnya, kudengar suara Ibnu Qami’ah berteriak membelah gurun, ‘”Muhammad sudah mati! Muhammad sudah pergi!”
Perang memang hampir usai. Namun, sungguh aneh, gelegar kabar kematian itu tak membuat wajahmu melesatkan harum cahaya minyak zaitun. Kau seperti tak percaya betapa Nabi gampang ditaklukkan, betapa pedang Ibnu Qami’ah bisa melukai pelipis, dan membuat Muhammad tersungkur ke tanah.
Aku memang bodoh. Pada saat-saat semacam itu, seharusnya aku tak perlu mengusik hatimu, hati perempuan cantik yang haus darah itu. Toh kau lebih terpesona pada Wahsyi, pemuda Abyssinia, yang telah berhasil menancapkan tombaknya ke tubuh Hamzah. Toh Muhammad mati atau tak matitak mengubahwajahmu menjadisemanis kurmaajwa.
Dan, kulihat kau tertawa terbahak-bahak setelah tahu Wahsyi menyobek perut Hamzah dan mengeluarkan hati Sang Singa Gurun. Ya, wajahmu pun bercahaya ketika menatap Wahsyi hendak menyerahkan hati berlepotan darah itu kepadamu.
“Kau lihat, Hindun, aku telah membunuh jagoan yang membunuh ayahmu!”
“Ya, dan kau pasti tahu apa yang akan kuhadiahkan kepadamu. Milikilah seluruh rampasan perangku. Hiduplah bahagia setelah didera kesakitan yang tak kunjung habis.”
Wahsyi tersenyum. Dadanya membusung.
“Apakah harus kuserahkan hati ini kepadamu?” ujar pria perkasa itu.
Tak menjawab pertanyaan bodoh itu, kau langsung merampas hati Hamzah dari genggaman tangan terlena. Dan sungguh di luar dugaan, dengan gigi bertaring runcing kau menggigit, mengunyah, dan rakus menelan sepotong daging kenyal yang masih menyisakan darah segar itu. “Inilah sumpahku, Wahsyi! Aku tak akan puasa lagi. Selesailahperangku! Lihatlah,aku sepertiterlahir kembali.”
Dan tak salah jika siapa pun menyangka aku tak mampu menghentikan gelegak tawa kemenangan yang menguar dari bibirmu yang bergincu darah itu. Setelah puas mencabik-cabik jasad Hamzah, kau bahkan meloncat ke sebongkah batu dan melantunkan lagu-lagu perang yang menganyirkan seluruh gurun, seluruh bukit yang menjulang.
Memang Hamzah telah gugur. Namun, kau keliru kalau menganggap Muhammad telah binasa. Dan aku tahu semua peristiwa yang tak kauketahui. Sebab, setelah kau mengabaikan segala pertanyaanku, aku terbang melesat ke ruang yang lain, ke waktu yang lain. Karena itu, aku tahu betapa setelah orang-orang Quraisy terlena oleh kemenangan sesaat, kesadaran Nabi berangsur-angsur pulih. Dan itu berarti kau harus terus-menerus menggelorakan semangat orang-orang Quraisy untuk berperang, menancapkan tombak ke dada orang-orang mukmin, menusukkan pedang ke perut pasukan berhati lembut, dan mengasah amarah lagi.
Kusangka setelah abad demi abad lewat, setelah kulupakan angin November yang perih, tak akan kutemui lagi perempuan perkasa sekeras dan setolol kamu, Hindun. Nyatanya, di kota ini-tempat malaikat gampang diledek dan dianggap sebagai pria kencana yang gampang dicumbu pria lain-kau muncul lagi.
Mungkin kau bukan Hindun yang dulu. Mungkin kau hanya bayang-bayang kabur yang cepat memudar. Namun, lihatlah, sebagaimana Hindun, setiap hari kau mengasah dendam, mengasah amarah untuk sesuatu yang hampa, untuk sesuatu yang tiada guna.
“Sia-sia? Tak ada yang sia-sia. Pembalasan atas kematian anakku kau anggap sebagai sesuatu yang sia-sia?” katamu, sambil mengenang kota yang terbakar dan pria-pria serigala yang tak henti-henti merobek-robek gaun malam setiap perempuan gading yang melintas di jalanan.
“Tapi masa-masa kesedihan telah lewat, Hindun. Lagi pula buat apa kau puasa sepanjang waktu jika menjelang Lebaran, kau justru…,” kataku, setelah sebelumnya aku mengubah diri menjadi Rosa, teman sekantormu.
“Justru apa? Enak benar pemerkosa anakku kalau dibiarkan hidup. Sudahlah, jangan berlagak seperti malaikat. Khotbah macam apa pun tak menghentikan dendamku, Rosa. Bahkan, jika kau malaikat pun, aku tak akan peduli pada segala nasihat bodohmu. Yang jelas, pria itu harus mati.”
Oo, hampir saja aku mengaku siapa sesungguhnya diriku, Hindun. Namun, kupikir kau belum perlu tahu siapa aku dan mengapa aku sangat berhasrat menghalangi perbuatan bodohmu. Karena itu, kubiarkan kamu mencerocos lagi, kubiarkan saat takbir mendera malam, kau terus-menerus mengasah samurai dan kebencian.
“Setelah melewati hari-hari yang melelahkan, akhirnya aku tahu siapa yang memerkosa dan membunuh anakku, Rosa. Bukan orang jauh. Bukan pria-pria serigala yang membakar hampir seluruh kota ini.”
“Lantas siapa?” aku pura-pura bertanya, sekalipun sesungguhnya aku sangat tahu siapa serigala busuk-pria sangat indah-yang dia maksud itu.
“Kau pasti terkejut, Rosa. Kau pasti tak menyangka….”
“Siapa?” aku berpura-pura lagi sambil melihat perubahan wajah Hindun yang kian menegang.
“Dia anakku sendiri, Rosa. Dia… Hamzah!” teriakmu sambil bergegas meninggalkan aku, mengambil samurai, dan melesat ke kuburan.
Ya, ke kuburan-tempat jasad putri terkasih disemayamkan. Tentu tak kubiarkan kau melesat sendirian. Tentu tak kubiarkan kau bersembunyi di semak-semak menanti Hamzah menunduk pasrah di atas pusara adik semata wayang.
Hindun! Hindun! Sungguh, mengapa kau ingin mengulang pembantaian tanpa guna itu? Mengapa tak kaubiarkan gerimis November meruncing tanpa melukai siapa pun?
Tidak! Tidak! Ini tak bisa kubiarkan. Hamzah harus diselamatkan. Aku akan terbang dengan sepasang sayap indahku dan menghalang-halangi pria pujaanku itu menyerahkan nyawanya untuk kematian yang tiada guna.
Dan kau, Hindun, kau mungkin ingin bertanya: mengapa Hamzah harus diselamatkan? Kau pasti ingin berkata: mengapa kau kularang untuk memenggal kepala Hamzah? Hamzah adalah kekasih pujaanku. Sejak kecil dia memang kudidik untuk menjadi pria yang abai pada nasihat seorang ibu. Kau memang melahirkan pria perkasa itu. Namun, perutmu hanya kupinjam untuk membiakkan manusia busuk.
Maka, sejak kecil telah kusematkan di otak Hamzah segala keinginan-keinginan buruk. Mula-mula kukatakan kepada Hamzah betapa Nur, putri terkasihmu yang telah terbunuh itu, bukanlah adik kandungnya. Kukatakan kepada Hamzah, Nur adalah putri pelacur yang kautemukan di tong sampah saat dia lahir. Dan Hamzah percaya justru ketika dia kian menyelam ke keindahan tubuh dan paras adiknya.
Maka, ketika kota ini diamuk oleh kerusuhan dan hampir semua perempuan berkulit kuning gading diperkosa beramai- ramai oleh para zombi bayaran, kubisikkan kata-kata busuk ke telinga Hamzah.
“Ayo, Hamzah! Kapan lagi, kalau tak sekarang!” sambil mengenang arwah Hamzah lain yang kupastikan berusaha menghalang-halangiku, kalau Sang Singa Gurun itu masih hidup.
Mula-mula dia agak ragu. Namun, karena tak menutup telinga untuk kata-kata busukku, segalanya pun akhirnya terjadi. Dia menyeret Nur ke ujung lorong. Nur menolak. Nur mencoba melepaskan diri dari dekapan dan amuk alkohol di mulut Hamzah.
Pada saat semacam itu, Hamzah sebenarnya ingin menyarungkan kembali nafsu busuknya. Namun, aku bergegas menyusup ke dalam jiwanya. Kupompa berahinya. Kupompa amarahnya. Kukuatkan cengkeraman tangan Hamzah ke leher Nur yang kian tak mampu mengembuskan napasnya.
Dan setelah segalanya terjadi, aku terbang dan menyatu dengan asap yang mengepung kota ini. Aku lihat Hamzah termangu-mangu. Aku lihat dia menyesali perbuatan busuknya.
“Jangan pernah menyesal, Hamzah. Jangan pernah menyesal! Larilah! larilah sejauh yang bisa kautempuh!” kudesiskan kata-kata itu dan dia menurut.
Ya, dia menuruti semua perintahku, paling tidak sampai beberapa tahun lamanya. Sayang, pada akhirnya dia tak mampu memenuhi seluruh permintaanku. Dan menjelang Lebaran ini dia menelepon kamu bukan? Menjelang Lebaran ini, dia katakan seluruh perbuatan busuknya kepadamu, bukan?
Maka, sebenarnya aku pun tahu, Hindun. Malam ini, saat takbir mengumandang, dia akan pulang. Dia akan mengunjungi pusara Nur sebelum bersimpuh di kakimu, di kaki seorang ibu yang sejak dulu diabaikan.
Maka jika bisa melesat mengikuti kecepatan gerakanku, kau bisa melihat bagaimana aku menghalang-halangi Hamzah agar mengurungkan niatnya mengunjungi pusara Nur dan menemuimu. Dan di stasiun itu, tentu aku sudah mengubah diriku menjadi dirimu. Menjadi Hindun yang lembut hati. Menjadi Hindun yang tak mengasah samurai untuk membunuh putranya sendiri.
“Jangan pulang, Hamzah. Aku sudah menceritakan perbuatanmu kepada Rosa. Dia tentu bercerita kepada orang sekampung dan mereka akan membantaimu,” kataku setelah dia turun dari kereta, setelah dari masjid terdekat takbir mengumandang dan melukaiku.
Hamzah hanya tertunduk. Dia tak berani memandangku.
“Pergilah lagi ke mana pun, ke tempat yang tak memungkinkan orang-orang kota ini menjangkau tubuhmu.”
Hamzah masih tetap menunduk. Meski demikian, dia mulai berani mendesiskan kata-kata yang tak kuduga bisa melesat dari bibirnya yang kian rapuh.
“Hari ini hari penuh ampunan, Ibu. Tak seorang pun akan mengotori dirinya dengan perbuatan busuk. Izinkan aku mengunjungi pusara adikku. Izinkan aku tersungkur dan menangis di keheningan makam itu.”
“Jangan, Hamzah!” teriakku, “Kau tak boleh selemah itu.”
Hamzah kian tafakur. Dia mulai menangis.
“Sudahlah, Ibu, bukankah semua orang telah melupakan peristiwa itu. Kalau pun pada akhirnya akan ada yang membunuhku, aku sudah siap, Ibu. Mungkin kematianku akan….”
“Akan apa? Kau tak boleh mati. Aku tak ingin kehilangan kedua anakku. Aku tak ingin kehilangan kamu,” aku berpura-pura meledakkan tangis.
Rupa-rupanya tangis itu tak ada gunanya. Hamzah berpaling dan dia meninggalkanku.
Apakah di kuburan kau juga menangis, Hindun? Apakah sambil mengasah kebencian kau juga merasa bakal kehilangan anakmu?
Kini mengertilah, Hindun, aku memang setan. Namun, aku pun bisa punya rasa kehilangan yang mendalam. Dan, Hamzah adalah putra pujaanku. Aku tak mau kehilangan dia. Aku tak ingin kau membunuh dirinya. Aku tak ingin sebagaimana Hindun yang lain kau menyerupai, bahkan melebihi kekejamanku.
Tapi rupa-rupanya lengking takbir kian melukaiku dan gerimis abai pada segala teriakanku. Mungkinkah gerimis itu telah bercampur dengan darah Hamzah? Mungkinkah kau telah menebas leher putramu, membedah perut, mengambil hati, dan menggigit daging kenyal itu sambil meneriakkan kemenangan? Mungkinkah Hamzah rebah dan kepalanya membentur nisan Nur yang meruncing menunggu kematian laki-laki yang paling kaulaknat? Apakah sebagaimana Hindun, perempuan perkasa itu, kau akan akan bilang, “Telah kubunuh musuh sejati. Telah kuakhiri puasa panjangku dan aku tak akan menangis lagi.” Tak mungkin lagi kujawab pertanyaan itu. Takbir itu kian merontokkan sayapku. Aku tak bisa terbang. Aku tak bisa melesat ke kuburan dan membunuh amarah agungmu. Tapi, Hindun, mengapa harus Hamzah lagi? Mengapa harus dia lagi? Mengapa tak kaurasakan gerimis November kian meruncing merah dan menyakiti?
Semarang, 11 November 2003
Catatan:
1) Ajwa adalah kurma yang konon ditanam oleh Nabi untuk disantap saat berbuka puasa. Buah itu diyakini sebagai kurma paling dianggap berkhasiat di antara puluhan jenis kurma lain.
2) Bagian kisah ini bertolak dari film The Message yang antara lain dibintangi Anthony Quinn dan Irine Papas serta buku Muhammad karya Matin Lings.
3) Setan, paling tidak menurut buku Biografi Setan karya Dr Ahmad Skr, dapat bepergian ke mana saja di dunia ini. Waktu yang dibutuhkan hanyalah beberapa detik saja. Kaki kirinya siap melayani atau di tangan kita, sedangkan kaki kanannya ada di cakrawala. Dia bisa tampil dalam wujud manusia atau apa saja. Ia meruang dan mewaktu di mana dan kapan pun.
4) Frasa “meruncing merah”, saya adopsi dari ungkapan “Ada sepasang bukit, meruncing merah/dari tanah padang-padang yang tengadah” dalam sajak “Di Muka Jendela” pada antologi Goenawan Mohamad, Sajak-sajak Lengkap 1961-2001.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar