Kamis, 21 Mei 2015

CERPEN KOMPAS JUNI 2012



Sepasang Mata Malaikat
Kompas Minggu, 3 Juni 2012

LELAKI itu berdiri di dekat jendela. Temaram lampu kamar, membingkai bayangannya seperti setengah memanjang. Sesaat, aku hanya menangkap nuansa kesedihan di wajahnya. Wajah yang menyiratkan selaksa kepucatan yang membentang seperti iring-iringan awan melingkupi langit. Dia lebih banyak diam, mendengarkan dengan syahdu suara seseorang di seberang. Aku tahu, dia sedang mengangkat telepon istrinya. Tetapi, aku tak mendengar dengan jelas: suaranya pelan setengah berbisik, seperti dengung serangga. Sesekali, ia mengangguk-angguk.
Aku masih meringkuk dibalut selimut. Tapi tiba-tiba, kulihat segumpal warna serupa sisa badai yang menggumpal di sudut matanya. Mata yang membuatku bergidik menatapnya lebih lama. Tak sampai semenit, dia mematikan handphone, kemudian berjalan ke arahku.
”Aku harus pulang,” suaranya datar tidak terlalu mengejutkanku. Seperti hari-hari yang lain, dia tidak selalu mengungkapkan satu alasan pun sebelum pergi dari rumahku.
”Apakah istrimu tahu kalau malam ini kau di rumahku?”
Dia menggeleng. Sorot matanya kelabu dan ganjil serasa meninggalkan bekas luka pedih bagai timbunan kardus kumal yang teronggok di tempat sampah. Lama, kami bersitatap pandang. Matanya mendidih, serupa air yang dijerang di atas tungku. Aku ingin bertanya…, tetapi genangan hitam di sudut matanya itu membuatku beringsut. Dan, malam itu, dia benar-benar seperti orang asing yang baru kukenal.
Dia buru-buru berpakaian. Aku hanya menatapnya dengan diam, bahkan ketika ia pergi dengan tergesa dan meninggalkanku yang masih meringkuk setengah telanjang dalam balutan selimut.
***
IA tidak tahu, betapa aku bergidik takut tatkala istriku meneleponku. Meski itu bukan kali pertama istriku tiba-tiba meneleponku saat aku tidur di rumahnya, tetapi malam itu aku serasa digulung ombak berlipat-lipat: hanyut dalam gelombang yang hampir menenggelamkanku. Setelah aku mengangkat telepon, istriku langsung menangis tersedu. Tangisnya pecah, membuat telingaku serasa basah. Kutunggu lama, hingga tangisnya reda. Hening sejenak, sebelum kemudian istriku memintaku pulang. Anakku sakit.
Kabar itu, sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan. Tapi, aku merasakan tiba-tiba menggigil. Tangis istriku bagai gerimis yang turun seketika meninggalkan kepekatan yang membentang di cakrawala serupa kerlip lampu di sepanjang jalan yang mati tiba-tiba dan membuat seluruh kota tergeragap. Seberkas cahaya memudar, berganti gelap. Kesunyian meruncing. Dalam perjalanan pulang, hawa dingin terus menjalar ke seluruh tubuhku. Setibaku di rumah, aku membuka pintu rumah dengan gugup, seraya mencium aroma parfum yang masih tertinggal di tubuhku—sekadar menepis kecurigaan istriku sebelum aku menerabas masuk ke kamar. Tatapan istriku tak menaruh curiga, ketika aku berdiri di ambang pintu kecuali ia terlihat gugup. ”Sejak satu jam yang lalu, panasnya tak kunjung turun,” tukas istriku.
”Kenapa kau tak langsung membawanya ke dokter…” ujarku tak sedikit pun merasa bersalah
Kupegang kepala anakku. Panasnya cukup tinggi.
Tetapi, istriku tak segera menjawab. Lama, ia menatapku dengan heran. ”Tapi, anak ini butuh ayahnya. Ia tidak hanya membutuhkanku di saat sakit seperti ini. Sayangnya, ayahnya seperti tidak pernah tahu.”
”Jika kau tahu aku sibuk, kau seharusnya tak perlu menungguku sampai pulang untuk sekadar membawanya ke dokter,” tukasku, sambil membopong buah hatiku, bocah mungil yang baru menginjak 1 tahun itu. ”Ayo kita berangkat, sebelum semuanya terlambat dan tambah parah!”
Dalam dekapanku, anakku menggeliat. Kemudian, ia membuka mata. Mata itu, entah kenapa, tidak lagi dingin meneduhkan, melainkan berubah seperti nyala api unggun mata seorang hakim yang mendakwaku dengan tuduhan berat….
***
MATA lelaki itu kemerahan, bagai hamparan jalan di malam hari yang diterpa gemerlap lampu. Dan, sejak kali pertama bertemu laki-laki itu, aku seperti ditelungkupkan pada seraut kenangan. Aku tak tahu, mengapa aku tiba-tiba seperti direnggut perasaan aneh dan ganjil. Aku seketika jatuh cinta. Apa yang kusuka dari lelaki itu? Jujur, ia mengingatkanku akan masa laluku—dua tahun lalu—tatkala aku lulus dari kuliah. Aku masih luntang-lantung, belum mendapatkan pekerjaan layak, dan kerap tidur di rumah teman.
Hingga akhirnya, kehidupanku berubah setelah aku bertemu dengan seorang lelaki yang benar-benar asing bagiku—lelaki yang kemudian menjadikanku istri simpanan. Ia hampir memberiku apa yang aku butuhkan kecuali kepastian…. Ia bisa datang satu minggu sekali, kadang bisa satu bulan sekali, atau bahkan dua bulan sekali. Ia datang ketika butuh, dan ia tidak pernah datang ketika aku sedang membutuhkan kehadirannya pada satu malam tertentu. Hingga semua itu berakhir ketika istrinya tahu keberadaanku.
Dan lelaki ini, tiba-tiba datang dari balik keheningan. Aku tak tahu, bagaimana semua itu bermula. Ia tiba-tiba duduk di sebelahku, ketika aku sedang berpangku tangan di sudut cafe. Ia tersenyum, lalu mengajakku bercengkerama. Di hadapannya, aku seperti hilang…. Ia lelaki biasa, tapi tatapan matanya membuatku luruh. Dalam sekejap, persendianku seperti dialiri getaran aneh yang menjalar ke setiap pori-pori. Mata lelaki itu seperti hamparan laut, tenang dan meneduhkan. Setiap kali aku melihatnya, aku serasa ingin menyelam ke dalamnya….
Aku tidak bisa berkata-kata dan ketika lelaki itu menawarkan kebaikan untuk mengantarku pulang, aku tak kuasa menolak. Sejak itulah, aku sering jatuh sakit ketika ia lama tidak mengunjungiku….
***
SETELAH mengantar perempuan itu, aku pulang ke rumah dengan raut penuh tanda tanya. Istriku—yang biasanya anggun—menyambut kedatanganku dengan cemberut. Tidak seperti biasanya. Ia kali ini tidak tersenyum, tak membawakan tasku—apalagi mau melepaskan dasiku. Sejak ia membuka pintu, ia hanya diam—menatapku dengan mata yang aneh. Aku sudah hafal. Pasti ada peristiwa yang tak ia sukai dan ia memprotesku dengan diam.
Aku meninggalkan istriku yang masih berdiri kaku di balik pintu. Ia menutup pintu, menguncinya dan mengikuti langkahku.
”Noura sakit…,” akhirnya ia buka suara.
Aku berbalik, menatapnya dengan raut tak percaya. ”Sakit apa?”
”Demam… Tadi, badannya panas. Aku sudah membawanya ke dokter…”
”Gimana sekarang?” tanyaku penasaran, seraya merangsek ke kamar.
Putriku tertidur, meringkuk dalam balutan selimut. Entah kenapa, aku selalu menemukan setangkup ketenangan yang selalu menelusup dalam hatiku, ketika mataku menatap bola mata mungilnya. Tapi, kali ini putriku terpejam. Aku menempelkan tangan di keningnya. Kening putriku tidak lagi panas.
”Aku tadi menghubungimu berkali-kali…. Tapi sia-sia! Handphone-mu tidak aktif,” ucap istriku.
Aku tidak menanggapinya. Ia semakin cemberut bahkan kesal. Aku menciumnya putriku pelan-pelan, tak ingin bangun. Tapi, harapanku kandas. Putriku terjaga. Matanya biru, menatapku. Aku merasa tatapan mata putriku… entah kenapa, tidak lagi dingin meneduhkan, tetapi berubah seperti nyala api unggun yang membuatku bergidik takut….
Dan beberapa saat kemudian, ia menangis.
***
DI mataku, tak ada yang istimewa pada lelaki itu. Ia biasa saja—seperti umumnya lelaki lain. Hanya saja, mata lelaki itu selalu memukau dan membuatku serasa di tepi danau. Setiap aku menatapnya, aku seperti melihat hamparan air yang tenang. Bahkan, ketika aku sudah lama tidak bertemu dengannya, aku…. entah kenapa bisa jatuh sakit.
Aku tidak tahu, kenapa semua bisa tak masuk akal. Dan ketika ia menjengukku, perlahan sakitku pulih. Meski ia datang hanya diam, tak pernah banyak bercerita dan bersenda gurau. Tetapi, kedatangannya telah membuatku bisa tersenyum. Ah, lelaki ini benar-benar aneh.
”Aku ingin pergi ke sebuah danau…,” ucapku memecah keheningan.
Lelaki itu diam, dan seperti tidak mau mendengar apa yang aku katakan. Dan aku tahu, dia tak sanggup untuk memenuhi permintaanku. Aku, entah kenapa, merasakan telah meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia penuhi. Selama ini, memang tidak pernah ada kesepakatan antara kami. Apalagi, setelah aku tahu ia lelaki yang sudah beristri. Itulah yang membuatku tak pernah menuntut apa pun… Tapi, dia tiba-tiba membuatku melambung.
”Besok jika kamu sudah sembuh, aku akan mengantarmu ke pantai…” ucapnya pelan, seraya mencium keningku.
”Sekarang aku sudah sembuh.”
Lelaki itu terbaring tepat di sisiku, kemudian menyibak selimut dan meringkuk bagai sepotong daging dalam kulkas. Tubuhnya dingin dan hampa. Tetapi semua berjalan cepat. Lelaki itu selalu mengerjakannya dengan kilat, sekejap kemudian ia sudah tersengal. Aku mendengar lenguhan panjang dan setelah itu, ia berbaring lemas di balik selimut.
Hingga kemudian, seperti yang sudah-sudah, dering telepon selalu membangunkan tidur nyenyaknya. Ia terbangun, buru-buru menyibak selimut, meraih handphone dan berjalan dengan gugup ke arah jendela. Kulihat sisa embun meruapkan basah di sebagian lempeng kaca jendela saat ia mendengarkan dengan syahdu suara di seberang. Aku tahu, dia sedang mengangkat telepon dari istrinya. Tapi aku tidak mendengar jelas: suaranya pelan setengah berbisik.
Setelah hening, lelaki itu berkata pendek, ”Aku harus segera pulang.”
Aku tak mungkin mencegahnya pergi. Aku tahu, pasti ia pulang lantaran anaknya sakit. Ia pernah bercerita, setiap kali habis menemuiku, pasti anaknya jatuh sakit…
***
Dalam perjalanan pulang, aku benar-benar merasa bergidik dan disesap rasa takut. Itu karena, aku tidak ingin kehilangan anakku. Kalau kulanjutkan hubunganku dengan perempuan itu, aku tak tahu apa yang terjadi dengan anakku. Lama-lama, anakku bisa sakit menahun….
Tiba di rumah, kubuka pintu dengan gugup. Lebih gugup lagi tatkala yang menyambutku bukan istriku, tapi ibu mertuaku. Aku mencium tangan wanita yang telah melahirkan istriku itu dengan takzim, ”Kamu boleh sibuk bahkan kerja mati-matian, tapi jika karena kesibukanmu, justru anak-istrimu sakit, rasanya kesibukanmu akan membuat hidupmu hampa.”
”Ya, Bu…,” jawabku.
Hening sejenak.
”Tapi, bagaimana dengan Noura?” tanyaku gugup.
”Noura tak apa-apa, justru sekarang yang sakit istrimu.”
Aku tercekat. Jadi ia berbohong ketika tadi meneleponku? Ah, kenapa aku sekarang ini tidak peka? Aku langsung menerabas masuk kamar dan menemukan istriku terbaring dengan tubuh lemas. Aku duduk di tepi ranjang. Kulihat istriku menggeliat, menatapku dengan aneh.
”Kenapa tadi kau meneleponku mengatakan Noura yang sakit?”
Istriku diam.
”Kenapa kau berbohong?”
Lagi-lagi, istriku diam. Setelah itu, ia menatapku tajam. Dan mata istriku… entah kenapa tak lagi dingin meneduhkan tapi berubah seperti nyala api unggun yang membuatku bergidik. Mata istriku, kulihat seperti sepasang mata malaikat yang tak henti-henti menuduhku; bahwa akulah yang sebenarnya berbohong. Jakarta, 2012


Jack dan Bidadari
Kompas Minggu 10 Juni 2012
SEMALAM bidadari itu meninggalkan rumah saya. Dia menendang kursi sebelum membuka pintu depan. Di luar angin kencang sekali. Embusan angin bercampur kemarahan membuat pintu terbanting dengan keras. Suara pintu itu terasa seperti tamparan di wajah saya.
Musim dingin sudah datang. Tapi di kota ini tidak ada salju. Di Eropa, sungai dan laut menjelma daratan es. Puluhan orang mati kedinginan. Kereta membeku. Bandara membeku. Dua hari lalu televisi menyiarkan Pangeran Belanda, Johan Frisco, tertimbun longsoran salju waktu main ski di Austria. Dia masih koma.
Saya dan Bidadari sering bertengkar, di musim apa pun, tentang apa pun. Dia sering menampar saya, tapi saya tidak pernah membalas tamparannya. Sebenarnya saya ingin membalas. Tapi yang terjadi saya hanya bertahan, tidak melawan.
Dia juga melempari saya dengan barang-barang, yang kebetulan ada di dekatnya. Botol saus, gelas, piring, bantal, buku, jambangan bunga, lampu meja, sepatu, kursi…. Dia juga suka mencakar. Bidadari seharusnya tidak mencakar dan tidak punya cakar. Tapi dia mencakar. Memang bidadari yang langka. Sekarang saya bisa tersenyum membicarakannya. Tapi di saat kejadian, dunia ini seperti teraduk-aduk, berantakan sekali. Benda-benda bertaburan di sana dan di sini, seperti telur-telur ayam pecah.
Di dinding rumah saya dulu ada lukisan pastel yang bagus. Abstrak. Komposisi warnanya hitam dan putih. Lukisan itu saya beli dari pelukisnya langsung, tetangga saya sendiri. Rumahnya merangkap galeri. Pengunjung mondar-mandir dalam rumah itu. Kami bisa melihat botol-botol selai di meja makan atau piring-piring bekas sarapan yang bertumpuk di bak cucian di dapurnya, atau melewati kamar tidur si pelukis atau kamar tidur anak-anaknya yang terbuka.
Lukisan itu sekarang penuh bercak merah saus tomat, berada di gudang. Saya suka sekali lukisan itu. Saya kecewa, tapi Bidadari tidak minta maaf.
Kuku-kukunya panjang. Goresannya membuat wajah saya terasa perih. Dia juga pernah meninju mata saya, sehingga saya seperti melihat ada benang-benang hitam kait-mengait, bergumpal-gumpal, melayang-layang di udara sesudahnya, selama beberapa hari. Saya pergi ke kantor dengan mata kiri diperban untuk menyembunyikan bekas ulahnya. Sewaktu rekan kerja saya memandang heran dan ada yang bertanya, ”Kenapa mata kamu, Jack?”, saya menjawab bahwa mata saya dicium bola basket waktu saya main basket. Ciuman panas. Mereka tertawa.
Saya tidak melaporkan kejadian ini ke polisi. Bidadari bisa masuk penjara kalau saya melapor.
Di lain waktu, saya bertahan dengan melindungi wajah saya dari serangannya dengan kedua tangan saya ini, tapi dia justru makin kalap. Kalau saya diam atau bertahan, dia tambah kalap. Kalau saya belum luka atau lebam, dia belum berhenti.
Di hari yang membuat penampilan saya sangat buruk dan perasaan saya lebih kacau dibanding kejadian sebelumnya, saya memutuskan tidak datang ke kantor. Saya seharian di rumah dan kalau bosan, di sore hari saya mampir ke rumah sahabat saya, Tom. Ketika saya katakan bahwa saya seharian di rumah, dia langsung tahu apa yang terjadi. Kadang-kadang Tom bekerja sampai malam. Saya akan pergi ke rumahnya setelah jam makan malam, kemudian kami ngobrol sampai larut.
Setelah bertengkar hebat, Bidadari akan mengangkuti semua barangnya ke mobil, membanting pintu depan dan pergi dari rumah saya, seolah-olah dia tidak akan kembali lagi. Setiap selesai bertengkar dengannya, saya benci sekali pada dia, sangat benci. Andaikata mobilnya terguling di jalan dan meledak, saya lebih senang. Artinya, hubungan kami benar-benar selesai. Tapi beberapa hari kemudian dia akan menghubungi saya dan saya menerimanya lagi. Dia membawa barang-barangnya lagi ke rumah, lalu menata semuanya di tempat semula, seperti pegawai museum memajang kembali koleksi yang sempat dicuri.
Rumah Tom hanya 10 menit bermobil dari rumah saya. Dia berkali-kali meminta saya tidak lagi berhubungan dengan Bidadari. Kata Tom, sebenarnya Iblis adalah nama yang lebih sesuai untuk pasangan saya. Dia mengkhawatirkan keselamatan saya. Tapi saya tidak tahu cara yang tepat untuk menjauhi Bidadari. Dengan cara seperti menjauhi rokok, Tom memberi usul. Orang yang berhenti merokok kurang dari setengah tahun biasanya masih gampang tergoda untuk kembali merokok dan akan mencandu lebih parah. Orang bisa disebut bebas dari rokok setelah setahun tidak mengisapnya sama sekali. Setelah satu tahun itu berlalu, kamu bahkan tidak berselera lagi melihat rokok, tidak tertarik mencoba sedikit pun.
Saya tidak tahu dari mana Tom memperoleh teori semacam itu. Saya dan Bidadari paling lama tidak saling menyapa hanya satu minggu.
Kadang-kadang saya membawa Garcia, anjing kecil saya, ke rumah Tom. Garcia senang berada di luar rumah. Dia paling suka taman. Dia selalu menunggu saya pulang dari kantor untuk mengajaknya berjalan-jalan sebentar di halaman belakang atau ke taman dekat rumah. Sekarang dia sengaja saya kunci dalam kamar di lantai atas. Pagi ini saya tidak ingin dia berkeliaran di lantai bawah.
Kalau saya dan Bidadari bertengkar di akhir pekan dan itu berkali-kali terjadi, saya memutuskan tidak menjemput putri saya, Anna, untuk menginap di rumah. Saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya dalam keadaan berantakan. Anak saya harus mengenang saya sebagai ayah yang menyenangkan, membuatnya tenang dan gembira, bukan membuatnya khawatir dan sedih.
Setelah itu saya akan menelepon Sue dan mengatakan bahwa saya sangat sibuk. Saya akan minta tolong kepadanya untuk membiarkan putri kami tinggal dengannya di akhir pekan itu. Seringkali Sue kesal pada saya dan wajar saja dia kesal, karena dia sudah ada janji dengan teman. Dia ingin saya yang menghabiskan waktu akhir pekan dengan Anna, karena akhir pekan adalah giliran saya bersama putri kami. Sue tidak pernah bercerita tentang pacarnya. Saya pikir, dia memang tidak punya pacar. Tapi saya sebetulnya tidak peduli dia punya pacar atau tidak. Sue juga tidak peduli pada saya. Sudah lama dia tidak peduli, sebelum kami akhirnya berpisah.
Botol-botol minuman memenuhi tong sampah di dapur. Bir, Vodka, Tequilla….. Bidadari suka minum dan mabuk. Dulu saya jarang minum, tapi sejak saya berhubungan dengannya saya minum makin banyak.
Umur saya 50 tahun. Putri saya, Anna, masih belajar di sekolah menengah atas. Sejak saya dan Sue berpisah tiga tahun lalu, putri kami harus membagi waktu untuk tinggal di dua rumah. Di hari Sabtu dan Minggu, Anna menginap di rumah saya. Senin sampai Jumat, dia tinggal bersama ibunya.
Saya kesepian dan karena itu, saya memelihara Garcia. Sebelum Bidadari datang, saya sudah memelihara Garcia. Anna menyukai Garcia. Anjing saya mudah akrab dengan orang, sehingga siapa saja yang berkenalan dengannya langsung suka. Tom sebenarnya tidak suka anjing, tapi dia suka Garcia.
Kadang-kadang saya mengajak Anna ke rumah Tom. Dulu saya dan Tom bertetangga. Rumah kami bersebelahan waktu saya baru menikah dengan Sue. Persahabatan kami ternyata langgeng, hampir 20 tahun. Tom berpisah dari Lizzy waktu anak mereka, Ricky, berumur delapan tahun. Lizzy menikahi pacarnya sebulan kemudian sesudah mereka bercerai. Tom sempat jadi peminum berat. Dia hancur-hancuran selama setengah tahun.
Lizzy kehilangan selera terhadapnya. Tom terlalu suka bahaya. Dia pernah terancam hukuman mati dua kali, disandera pemberontak satu kali dan kena tembak tiga kali.
Keuangan saya cukup kacau, setelah Bidadari hadir dalam hidup saya. Tapi saya memang bukan orang pelit. Teman-teman saya menganggap Bidadari hanya mengincar uang saya saja. Saya punya karier yang baik dan pemasukan yang lumayan. Saya merintis karier saya di kantor pemerintah kota. Bidadari kerja di sebuah klab malam. Gajinya tidak banyak.
Kami sudah berhubungan selama dua tahun. Di tahun kedua kami berhubungan, dia pindah ke rumah saya. Sebab saya membutuhkan teman.
Sejak Bidadari tinggal di rumah, saya jarang mengundang teman-teman saya untuk makan malam di rumah atau mampir di akhir pekan. Bidadari merasa tidak nyaman dengan kehadiran teman-teman saya. Dia merasa mereka mengejeknya di belakang punggungnya. Dia merasa dikucilkan tiap kali kami berkumpul. Itu tidak benar. Tom, meski kesal, justru paling ramah pada Bidadari. Dia senang membantunya menyiapkan makanan. Bidadari jauh lebih muda dari saya. Umurnya baru 30-an. Cantik? Bagi saya, dia menarik. Tapi dia memang tidak pernah keluar rumah tanpa riasan. Lagipula dia bekerja di tempat yang mengharuskannya berpenampilan begitu. Secara fisik, dia laki-laki, sama seperti saya. Tapi dia merasa perempuan.
Sebenarnya orang-orang di kota ini ramah, bahkan kepada orang asing seperti kamu. Tidak seharusnya saya kesepian. Saya juga punya teman-teman baik. Tom sering menemani saya sarapan pagi di kedai kopi kesukaan kami atau menemui saya di jam makan siang, tapi bagaimana pun dia punya kehidupan sendiri.
Kedai kopi favorit saya dan Tom, itu asyik sekali. Kedai Mexico. Makanan di sana murah. Saya dan Tom biasa memesan kopi, roti, dan tortilla isi telur dan keju. Tidak sampai enam dollar.
Hari ini saya sengaja tidak sarapan di kedai kopi yang sama. Aneh rasanya Tom tidak akan sarapan lagi bersama saya di sana. Dua minggu lalu dia meninggal di Suriah, karena bom meledak. Dia sedang mewawancarai orang waktu itu.
Di kedai ini makanan juga enak. Saya pernah makan di sini satu kali, dengan Tom dan anaknya, Ricky. Kalau Ricky lebih suka kedai kopi yang ini. Dia menawari saya untuk memesan eggs benedict waktu itu. Sekarang saya memesan eggs benedict lagi. Ricky anak yang baik dan perasa. Dia juga pintar masak. Saya suka beef brisket buatannya. Dia pasti sangat kehilangan ayahnya. Saya ingin panjang umur untuk putri saya, Anna. Besok saya ada janji dengan Ricky untuk menemaninya di rumah. Saya benar-benar berantakan. Tapi saya harus menemaninya.
Apakah blueberry pancake kamu enak? Tidak terlalu manis? Saya tidak suka makanan manis. Kalau sudah berumur seperti saya, sebaiknya kamu mengurangi makanan yang manis-manis. Kamu sering sarapan di sini? Kamu beruntung kuliah di kota ini. Orang-orangnya ramah pada orang asing. Terhadap orang-orang Asia, tidak ada masalah. Tapi orang hitam dan Hispanik mengalami diskriminasi. Mereka dianggap sering membuat masalah. Kemiskinan dan kejahatan sering dalam satu paket. Tapi siapa yang tidak mudah naik pitam, kalau lapar? Saya tidak bisa berpikir di saat lapar. Eggs benedict ini porsinya terlalu besar. Dua telur. Kolesterol saya bisa naik. Kamu mau satu? Dulu saya mengira Bali itu satu negara tersendiri. Ternyata itu bagian dari Indonesia juga ya? Mudah-mudahan saya bisa ke sana.
Saya tahu wajah saya berantakan sekali. Mata saya bengkak? Saya hanya tidur dua jam tadi malam, kemudian tidak tidur lagi sampai pagi. Hari ini saya tidak akan masuk kantor.
Saya benar-benar pusing.
Menurut kamu, apa yang harus saya lakukan kalau kejadiannya seperti ini.
Semalam, setelah Bidadari pergi, saya sempat tertidur dua jam. Tiba-tiba telepon seluler saya berbunyi keras. Bidadari datang lagi. Dia sudah di pintu depan, dia mengatakannya dengan nada datar. Saya pikir, ada barang yang ketinggalan. Dia minta saya segera membuka pintu. Saya turun ke lantai bawah, membuka pintu. Dia langsung menerobos masuk, lalu menodongkan pistol ke arah saya.
Wajah Anna terbayang. Saya tidak mau mati. Saya membujuk Bidadari untuk meletakkan pistol di meja, lalu kami bicara. Dia tidak mau. Dia menarik pelatuk, membidik ke arah saya. Meleset. Kena dinding. Pistolnya berperedam. Dia berancang-ancang untuk menembak lagi. Saya secepat kilat melempar jambangan perunggu ke arahnya. Dia terjatuh. Kepalanya menghantam meja marmer. Dia pingsan. Saya tidak berpikir panjang lagi, langsung mengikat kaki dan tangannya. Mulutnya saya sumpal dengan beberapa serbet. Dia sekarang di rumah, di ruang tamu. Pistolnya saya masukkan ke dalam kantong plastik yang biasa dipakai untuk menyimpan makanan di kulkas. Setelah itu saya mengendarai mobil keliling kota, sampai pagi, sampai kedai kopi ini buka.
Saya akan menelepon polisi sesudah sarapan. Nama saya, Jack. Kamu? Rati? Rati-h?
Di bioskop, film Almodovar yang baru sedang diputar. Kamu mau menonton nanti malam? Ajak teman-teman kamu juga. Saya traktir. Huuuhh…. Udara di luar dingin sekali.


Perempuan Balian
Kompas, Minggu 24 Juni 2012
Sebelum peristiwa malam itu yang akan kuceritakan nanti, Idang dikenal sebagai perempuan kurang waras. Kerap mengamuk kesurupan, dan meracau menceritakan tentang mimpi-mimpinya yang aneh. Kepada orang-orang ia sering mengatakan, ”Ada ular-ular besar menyusup dalam mimpiku. Ular itu bukan mimpi, tapi ular yang menyusup dalam mimpiku. Dalam mimpi juga aku sering bertemu Ayah.”
Idang memang tak seperti kebanyakan perempuan lainnya yang hidup di pegunungan Meratus. Ia suka memanjat pohon, hal yang hanya pantas dan perlu kekuatan seperti dimiliki anak laki-laki. Ia juga kerap melakukan perjalanan sendiri ke hutan-hutan terdalam, hutan-hutan terlarang.
”Aku banyak menemukan makhluk-makhluk aneh di sana. Mereka bersahabat,” ceritanya kepada teman-teman sebaya, yang karena cerita semacam itu pula menyebabkan ia perlahan-lahan dijauhi teman-temannya. Namun ia mengaku tak pernah merasa kesepian. ”Teman-temanku di dunia lain jauh lebih banyak,” seseorang bercerita kepadaku menirukan ucapannya.
Tabiat ini kemudian dikait-kaitkan orang dengan almarhum ayahnya yang seorang balian, seorang dukun kesohor. Ayahnya dikenal sebagai panggalung, dukun sakti yang karena karismanya sanggup memanggil, mengikat, dan mendatangkan orang-orang dari kampung-kampung jauh. Ayahnya meninggal kala ia usia 12 tahun. Ibunya lebih dulu tiada, tak tertolong saat melahirkannya. Entah dari mana mulanya, kenyataan itu membuat Idang dianggap sebagai pembawa kemalangan dalam hidup.
Dengan hidup hanya ditemani nenek dari ibunya, Idang tumbuh menjadi perempuan pendiam, penyendiri. Dan bila pun ia bicara dan bercerita kepada anak-anak sebayanya, maka itu adalah cerita tentang mimpi-mimpi, tak jauh dari cerita tentang ular dan ayahnya.
***
Balai Atiran terang benderang. Orang-orang mulai berdatangan memasuki rumah besar panggung itu. Enam keluarga yang berdiam di dalam balai, sudah sejak gelap pertama duduk di depan pintu bilik masing-masing yang tampak gelap seperti goa, hingga pintu yang terbuka itu layaknya kain hitam yang menempel di dinding balai. Mereka menjamu, menjadi tuan rumah aruh yang dihelat di tengah-tengah ruang balai yang malam itu berbilas cahaya dari lima lampu petromaks.
Barisan-barisan tamu dari bukit-bukit jauh silih bergantian datang. Arak-arakan kecil itu sebagian datang dengan berpenerang obor, sinter, atau hanya mengandalkan terang langit di atas jalan yang membelah hutan pegunungan Meratus. Malam tak berbulan.
Kaki-kaki tak beralas menapaki jalan-jalan basah dibasuh sebelum menaiki tangga balai sepuluh undakan. Tua muda, laki perempuan, dan anak-anak. Di antara mereka ada yang membawa hasil kebun: kemiri, keminting, atau sayuran yang diberikan kepada ibu-ibu dan dara-dara yang bekerja di dapur mempersiapkan jamuan. Ada dua ekor babi yang telah dikorbankan untuk upacara, dan setengah karung beras dimasak di dalam sebuah kuali besar.
Para undangan sudah mulai memenuhi ruangan balai. Duduk berlapis-lapis membentuk segi empat sepanjangan ruang balai yang polos, hingga mempertegas tiang-tiang kurus ulin balai yang menjangkau langit-langit tinggi. Hanya ruang segi empat kecil di tengah-tengah balai yang dibiarkan terbuka, dengan segenap syarat-syarat upacara: menyan dan sebilah keris tua telanjang jangkung kehitaman. Seorang lelaki tua namun terlihat penuh wibawa duduk bersila. Kepalanya dibebat kain. Sementara mulutnya tak henti mengembuskan asap tembakau yang dilinting kulit jagung kering. Dialah damang, yang konon usianya sudah lebih satu abad. Wajahnya yang penuh kerutan waktu mengingatkan pada rekahan-rekahan batang pohon tua dalam hutan terdalam. Damang Itat, begitulah orang-orang Meratus memanggilnya, yang malam itu akan menjadi pemimpin upacara aruh.
Segala berpusat pada lingkaran tari di tengah. Berputar-putar. Bergelombang. Menyedot seperti kitaran angin limbubu. Diam yang mengalir dalam mantra-mantra dan tarian purba. Pada apa kata menjadi sakti. Tiga lelaki terus bergerak. Kadang seperti melayang, membayang, tak berpijak tanah, tak berpijak bumi, mengambung dalam kisaran waktu yang terus beringsut susut.
Tiga tubuh terus berputar-putar dalam tarian. Madah-madah dinyanyikan merasuk dalam rampak tabuh gendang dan denting gelang. Seperti suara alam yang tak pernah terduga. Mengentak. Melenting tajam menembus langit-langit balai. Menggetarkan udara yang berkibar-kibar dalam satu ruang. Tubuh-tubuh liat lepas, tak mengenal jeda, tak mengenal kantuk, tak mengenal tanah pijak. Mereka para balian yang menjalankan ritual pengobatan untuk seonggok tubuh yang terkulai layu di tengah-tengah balai, tempat segala sesembahan diluahkan.
Balai itulah cahaya benderang satu-satunya di belahan hitam hutan Kalimantan Selatan yang sebenarnya tak lagi perawan. Sebuah kampung kecil, yang malam itu menghelat upacara ritual untuk si sakit.
Tubuh kecil kurus anak usia empat tahun itu seperti kehilangan daging dan air. Hanya tulang-tulang berbalut kulit kering layaknya kulit kayu tua mengerut keras, yang cepat meretas seperti ilalang terbakar di musim kemarau yang mengerontangkan ceruk kehidupan. Warna kulitnya kuning serupa kunyit. Hanya matanya masih menyimpan kilat hidup, meski juga sudah meredup dalam napas yang beringsut ingin melepaskan rongga dadanya yang tipis, membayangkan keretak kayu lapuk. Jari-jari sapu lidinya menjentik pelan pada lantai beralas lampit, mengikuti irama tari tiga balian.
Diisap buyu, penyakit menakutkan yang mengakrabi tubuh kecil tergolek di tengah-tengah balai. Tubuh yang diisap buyu adalah seperti merentangkan hidup di antara kematian. Darah, daging, dan air yang menjadi sumber tubuh menjadi tercemar dan kering, serupa hutan kehilangan keperawanannya menjadi ranggas dimakan hantu-hantu besi bernama buldoser dan gergaji dengan sang kendali pemakan segala; manusia.
Sudah satu bulan tubuh kecil itu tak berdaya dalam pagutan buyu. Sudah tiga hari tiga malam tiga balian seolah terbang menari-nari mengusir sang buyu yang betah menghuni tubuhnya. Sebuah pengobatan yang dipercaya turun-temurun dapat mengusir roh jahat dalam tubuh si sakit. Namun, sudah tiga hari tiga malam ritual pengobatan dijalankan, roh jahat di tubuh si anak tak jua pergi. Segala permohonan dan doa telah dihaturkan para balian kepada sang ilah. Segala syarat: gula, beras, ayam, bubur, kopi, menyan, telah dipersembahkan. Si sakit tetap terkulai. Dingin tubuhnya, terkatup matanya. Tinggal jari sapu lidinya menjentik-jentik lantai.
Tiga balian masih menari beriringan, berputar-putar dalam rampak gendang dan denting gelang yang tiada sepi.
Seorang ibu muda yang telah kehabisan air mata terduduk lemas di sudut belakang balai. Kantung matanya menebal, rambut terbiarkan tergerai kusut berhari-hari tak tersisir tangan dan dilembutkan minyak jelantah. Ialah ibu si anak yang kini nyawanya tengah di awang-awang dalam pertolongan para balian yang terus menari dan merapalkan mantra-mantra. Kepala perempuan itu terkulai miring ke kiri bersandar pada bahu seorang ibu yang menjaganya. Sang ayah, yang duduk di antara para pria di dekat lingkaran upacara, sesekali menengok kepadanya. Hanya karena ia seorang ayahlah yang membuat lelaki itu tetap tegar mendampingi anak semata wayang mereka didera penyakit tak berampunan. Walau jauh di lubuk hati, ia sebenarnya telah mulai memupuk kerelaan bila sewaktu-waktu sang anak diambil sang ilah.
Seperti menyibak kegelapan malam, meredam guruh gemuruh suara gelang dan mantra tiga balian, seorang perempuan muda tiba-tiba menghambur ke tengah upacara, menari-menari. Mulutnya merapal mantra-mantra yang tak pernah terbaca oleh balian mana pun juga, dengan diiringi denting gelang di kedua tangannya. Tiga balian lelaki terhenti. Orang-orang tersihir, terpaku menatap dalam keheningan. Hanya perempuan itu, ya, hanya perempuan itu yang menjadi pusat segala gerak, segala hidup. Ia terus berputar-putar, menari, merapalkan mantra dan mendentangkan gelang-gelang berat di kedua tangannya yang kurus panjang.
Aduhai,
Naik Kuda Sawang, sayang
Dibelai angin *)
Tak ada seorang pun yang tergerak menghentikan perempuan itu. Hingga akhirnya perempuan muda berambut panjang itu tersungkur ke lantai balai. Seluruh tubuhnya kuyup oleh peluh. Bersamaan itu pula, anak lelaki yang menjadi pusat pengobatan di tengah balai pelan-pelan bergerak seolah ingin bangkit. Orang-orang menyaksikan, kulit sang anak yang semula kering layaknya kulit kayu tua berubah seolah di bawahnya telah mengalir air kehidupan. Butir-butir peluh membasahi wajah dan seluruh tubuhnya. Kuning kunyit kulitnya pun memudar. Perlahan matanya terbuka, bercahaya. Bibirnya, yang meski masih tampak kering, perlahan berucap, ”Ayah….” Panggilannya pelan namun jelas.
Seketika saja, orang-orang menghambur ke depan, mendekati tubuh kecil itu. Sang ayah dan ibu langsung memeluk dan menciuminya. ”Anakku… anakku… anakku..,” ucap keduanya sembari menangis dalam kegembiraan mendapati sang anak telah terlepas dari maut.
Seolah tersadar, orang-orang kemudian mengalihkan perhatian kepada sosok perempuan muda yang masih tersungkur tak sadarkan diri di lantai. Sekejap saja mulut-mulut bergeremeng seperti sekumpulan laron terperangkap dalam botol.
”Siapakah dia?”
”Dari mana asalnya?”
Tubuh itu tetap sepi, tertelungkup dengan rambut panjang tergerai masai. Satu dua orang kemudian tergerak menghampiri, lantas diikuti yang lain, lalu mengangkat tubuh perempuan itu ke salah satu bilik balai dan merebahkannya ke atas kasur tipis.
***
Orang sekampung tidak pernah melupakan malam itu. Seorang perempuan terbilang muda tiba-tiba menjadi balian, menjadi dukun. Tidak pernah sebelumnya, sejak nenek moyang, seorang perempuan menjadi balian. Paling tinggi ia hanya menjadi pinjulang, pembantu dukun laki-laki.
Tapi malam itu, Idang, seorang perempuan muda yang dianggap gila, menyeruak ke tengah-tengah upacara. Menari-nari, menyanyi, merapalkan mantra-mantra yang sebelumnya tidak pernah dibaca para balian.
”Ini menyalahi adat. Tidak pernah ada seorang perempuan, apalagi perempuan itu dianggap gila, bisa menjadi seorang balian. Ini alamat mendatangkan bencana,” ucap seorang lelaki tua di warung kepada dua lelaki yang lebih muda. Aku, yang meski berseberangan meja dengan mereka, masih dapat mendengarkan ucapan itu.
”Tapi ia telah berhasil menyembuhkan anak itu,” sahut salah satu lelaki muda sembari mengisap rokok.
”Betul, Pak. Saya ikut menyaksikan malam itu,” timpal yang seorang lagi setelah meneguk kopi hitamnya.
Dengan wajah agak memerah, orang tua itu berucap, ”Kalian anak muda ini, tahu apa kalian tentang balian. Kalian lihat saja nanti, hutan dan kampung kita ini nantinya akan ditimpa bencana. Dan itu karena perempuan gila yang hendak menjadi balian.” Setelah membayar kopinya, lelaki tua itu pun pergi meninggalkan warung sambil menggerutu, ”Celaka… celaka… celaka.”
Setelah lelaki tua itu agak jauh, seorang dari lelaki di warung berucap, ”Mungkin ia kecewa dan malu karena tak mampu menyembuhkan anak itu, meski diupacarai selama tiga malam.”
Aku melakukan hirupan terakhir kopiku sebelum bersiap pergi meninggalkan warung. Aku harus segera memulai perjalanan sebelum matahari meninggi. Tugasku selama dua minggu melakukan penelitian, termasuk menyaksikan upacara balian, sudah berakhir.
Selama perjalanan meninggalkan kampung di pinggiran hutan pegunungan Meratus itu, benakku terus dihantui cerita tentang Idang perempuan balian, dan lelaki tua di warung yang mengabarkan akan datang bencana di kampung dan hutan mereka.
Entah, makna apa yang harus aku pahami. Namun aku tahu, sebentar lagi hutan tak jauh dari kampung itu akan dibongkar oleh sebuah perusahaan besar untuk mengeruk emas hitam dari perutnya.
*) Kutipan ”Syair Induang Hiling” dalam buku ”Di Bawah Bayang-bayang Ratu Intan” karya Anna Lowenhaupt Tsing, yang sekaligus mengilhami cerpen ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar