Minggu, 12 Januari 2014

Ringkasan Cerpen Maret 2013

1. Ambe Masih Sakit

Cerpen ini mengambil latar tempat masyakat Toraja yang memiliki adat kebiasaan melakukan upacara khusus untuk keselamatan jiwa orang yang telah meninggal. Tokoh Aku dan Ibu (Indo) dalam cerita ini digambarkan sebagai orang yang menghadapi masalah ketiadaan dana untuk melakukan upacara yang disebut rambu solo. Menurut cerita ini, dalam kepercayaan masyarakat Toraja dikenal istilah “To Makula” yang dideskripsikan sebagai seseorang yang telah meninggal tetapi belum upacarakan. Orang seperti itu dianggap sebagai orang yang masih sakit dan jiwanya belum terselamatkan. Upacara rambo solo dianggap sebagai kunci yang membuka pintu ke puya (surga) bagi yang telah meninggal.

Awal cerita, menampilkan aku bersama ibunya yang masih berjuang untuk melakukan upacara rambu solo untuk mendiang Ambe (ayah). Diceriterakan bahwa jenazah Ambe telah sepuluh tahun ditempatkan di dalam penti jenazah (erong) dan masih menanti diupacarakan menurut adat. Roh yang menanti diupacarakan ini disebut bombo. Jenazah mendiang ayah yang belum diupacarakan dianggap sebagai orang yang masih sakit. Ambe masih sakit bearti ayah masih sakit dalam cerpen ini berarti arti jiwanya belum terselamatkan karena belum dipacarakan.

Aku dan ibunya (Indo) belum bisa menyelenggarakan upacara rambu solo untuk Ambe karena keterbatasan dana. Sang ibu hanya bisa berharap si Aku, anaknya, bisa bekerja dengan baik dan sehingga pada waktunya terkumpul dana yang cukup untuk upacara rambu solo. Ibu mengakui bahwa tidak ada modal dan harta warisan yang bisa digunakan untuk menyelenggarakan upacara secepatnya karena satu-satunya warisan yang ada hanyalah rumah adat toraja (tongkonan). Maklum, Aku hanyalah anak dari ibu yang berstatus sebagai istri kedua Ambe. Harta warisan hanya menjadi milik anak-anak istri Ambe yang pertama dan kini semuanya seperti tak peduli pada Ambe. Beban upacara untuk Ambe dilimpahkan kepada aku dan ibu (Indo).

Di sela-sela usaha Aku dan ibunya mengumpulkan dana untuk upacara buat Ambe muncullah Margaretha Sua seorang perempuan yang meminta kepastian si Aku (Upta Liman) tentang rencana perkawinan mereka. Margaretha membawa berita bahwa ada orang lain yang mau melamarnya yang mengharuskan dia memberi jawaban secepatnya. Margaretha cemas kalau ia mengalami nasib seperti tantanya yang terpaksa masuk biara hanya karena calonnya menunda perkawinan mengingat ada anggota keluarga yang belum diupacarakan. Kedatangan Margaretha bagi Upta Liman merupakan desakan untuk menikah secepatnya. Hal itu tidak mungkin karena adat melarang adanya upacara bernada gembira (Rambu Tuka) dan terlebih lagi pesta pernikahan (Rampanan Kappa) selama masih ada anggota keluraga yang meninggal tetapi belum diupacarakan(To Makula)

Aku (Upta Liman) akhirnya mengadu dan meminta meminta maaf di hadapan jenazah Ambe karena belum melaksanakan upacara rambu solo. Itu karena ibu tak bisa dibujuk biar upacara disederhanakan. Ungkapan isi hati Upta mengundang rekasi sang ibu. Upta dinilai sebagai anak yang hanya menuntut hak mengabaikan kewajiban. Upta dianggap berniat melanggar adat jika melayani desakan Margaretha. Ibu lalu mengingatkan Upta bahwa Ambe keturunan bangsawan (tana bulaan) karena itu, untuk mengantar jiwa masuk surga harus menggunakan kerbau berwarna (tedong bonga) meskipun harganya puluahan juta untuk menjunjung tinggi martabat. Dengan berkata seperti ini ibu tidak meresetui rencana Upta menikah sebelum melaksanakan upacara untuk Ambe.

Sikap Upta didukung Tato Randa pamannya. Menurut sang paman urusan upacara itu bukan sepenuhnya tanggungan Upta tetapi harus ditanggung pula oleh anak Ambe yang merantau. ”Kontaklah saudara-saudaramu itu untuk segera pulang” begitu Tato Randa memberi saran kepada Upta.

Akhir cerita mengisahkan keributan yang terjadi pagi antara Indo dengan seorang pria berbadan tambun. Tubuh Indo bergetar, kusut, dan berantakan, menghalangi pria itu masuk sambil menntut haknya atas rumah rumah tongkonan yang ditempati Indo. Pria itubernama Rantedoping yang mengakui sebagai ahli waris rumah itu karena dia anak dari istri pertama Ambe. Rantedoping datang berniat untuk merampas serta menjual rumah Upta dan Indo.



\

2.Renjana (Rasa hati yang kuat, rindu, cinta kasih, birahi)

Cerita Pendek Renjana mengisahkan seorang yang bertahun-tahun mengadakan perjalanan ke sebuah kota untuk mencari orang yang disayangi meskipun dia sendiri mengetahui orang yang dicari tidak akan ditemukan di tempat itu. Dalam perjalan mencari seseorang itu, si aku selalu merasa seolah terkurung dalam gemuruh teriakan-teriakan demonstrasi, rentetan tembakan senapan tentara, dan tubuh teman-teman yang roboh dalm peristiwa tiga belas tahun silam. Bayangan kepedihan dan teror masa lalu coba dilupakan dengan selalu mendendangkan lagu kesayangan semasa kecil si aku. Awal gerakan demonstrasi menjadi awal perjumpaan si Aku dan orang yang kini terus dicarinya. Pikiran si aku kembali mengingat apa yang dilakukannya saat mereka berhadapan dengan penghalau demonstran. Si Aku teringat saat-saat mereka salaing menolong dan menyelematkan. Aku sungguh menyadari bahwa idirinya diselamtkan oleh dia yang saat ini terus dicarinya.

Dalam dan selama pencarian yang tampaknya sia-sia itu si aku berusaha mengusir kenangan masa silam dengan orang yang dicarinya dengan mendendangkan lagu semasa kecil. Lagu yang sama sering mereka nanyikan bersama saat berdemonstrasi di bawah ancaman moncong senjata. Meskipun si aku merasa kehilangan orang yang saat ini dicarinya, tetapi ia tetap berbangga akan sikap dan harapan-harapan yang yang melekat pada diri orang yang dicarinya ibarat matahari yang setia terbit di ufuk timur untuk disonsong dengan penuh semangat.

Perjalanan pencarian untuk menjumpai seseorang mustahil ditemukan yang dilakukan si aku sesungguhnya hanyalah pencarian sekadar mengingatkan kembali semua tempat dan peristiwa yang tejadi antara si aku dengan orang yang dicarinya. Semua tempat yang pernah mereka jejaki terasa senantiasa memberi inspirasi bagi si aku untuk melukiskan kembali segala apa yang pernah terjadi di antara mereka. Keramaian penumpang dalam gerbong kereta yang ditumpangnya tidak melenyapkan kenangan si aku akan dia yang sedang dicarinya. Di tengah deretan penumpang anonim itu, si aku membayangkan orang yang dicarinya terselip di sebuah bangku di sudut dekat sambungan gerbong, menatap kabut pagi, bercanada bersamanya menghabiskan waktu menunggu tiba di tempat tujuan.

Perpisahan antara Aku dan kekasihnya yang terus dicarinya terjadi di sebuah stasiun kereta api persis setahun setelah si aku keluar dari klinik rehabilitasi jiwa. Digambarkan, seorang perempuan dengan mata bening dan pipi cembung, mulut kecil dan bibir tipis, tengah berada di simpang jalan perpisahan dengan seorang lelaki bodoh yang telah kehilangan banyak harapan pada kehidupan yang diarunginya. Pertemuan terkahir antara si Aku dan kekasihnya terjadi di stasiun.

Perpisahan antara aku dan kekasihnya lebih karena ayah si aku tidak mau menerima atau memaafkan perbuatan sang kekasih. Ayah si aku tidak bisa memaafkan calon kekasih si aku itu karena dianggap sebagai perusuh dan menjadi generasi yang tidak tahu diri. Si aku berada di bawah bayangan ketakjauatan kepada sang ayah sehingga sulit menentukan sikap berhadapan dengan kekasihnya. Si kekasih sempat bertanya kepada si aku perihalpilihan yang harus dibuatnya berhadapan dengan sang ayah. Si aku dalam nada terpaksa harus melepaskan sang kekasih karena si aku tidak rela meninggalkan ayahnya. Dialog singkat ini menjadi titik akhir pertemuan si aku dengan kekasih yang akhirnya terus dicarinya.”Kau tak mau mengambil pilihan lain?””Aku tak bisa meninggalkan ayahku. Kalau aku memilihmu, dia akan mengambil pilihan yang mungkin membuatku menyesal seumur hidup.” Pilihan si aku berpihak kepada ayahnya sejalan dengan pesan singkat berupa peringatan untuk kekasih si aku yang berbunyi: “Aku tak sudi memiliki menantu pemberontak dan berjiwa rusak sepertimu. Jauhi anakku, tak layak keluarga kami memiliki menantu yang mengidap sakit jiwa!’

Pada bagian akhir cerita masih digambarkan pengembaraan si aku yang sia-sia mencari orang yang dikasihinya tetapi mustahil ditemukannya. Semua tempat, taman kota, trotar jalan yang penah mereka datangi dan lewati kini selalu didatangi si aku hanya sekadar mengingat kenangan indah bersama yang dicarinya. Nada-nada penyesalan tak bertepi menyesakkan hatinya. Hidupnya hanyalah sebuah kemurungan karena tidak mungkin melepaskan diri dari kenangan akan seorang yang teus dicarinya tetapi pasti tidak ditemukannya.





3. Lengtu Lengmua

Cerpen ini diawali dengan kisah tentang merapatnya sembilan perahu di ujung sebuah tanjung dekat makam keramat berhutan bakau. Sembilan perahu itu membawa sembilan celeng milik seorang juragan kota bernama Jamuri. Perahu bermuatan celeng itu dikawal sembilan cempiang atau jagoan berpakaian loreng. Dipastikan hampir semua orang tak suka memelihara celeng semisal Kiai Siti tetua kampung atau Abu Jenar pemeluk teguh syariat yang mengharamkan celeng. Jamuri sendiri sadar bahwa hutan bakau itu bukan tempat yang tepat bagi celeng tetapi hanyalah alternatif binatang itu mustahil dipelihara di kota. Lahan kota makin sempit karena banyak mal dan gedung pencakar langit. Juga banyak orang menolak memelihara celeng karena tergolong binatang rakus. Lebih dari itu alasan yang paling utama karena celeng-celeng itu sering menyerang warga kota. Orang yang diserang celeng akan berubah menjadi celeng.

Buktinya, Ustad Rosyid yang terkenal suci sempat pingsan setelah diserang celeng. Setelah sadar Ustad itu bertingkah aneh layaknya seekor celeng liar. Gerakan dan suaranya menyerupai gerakan dan suara celeng. Bahkan saat shalat magrib sang Ustad yang menjadi liar seperti celeng menyerang semua jemaahnya. Salah seorang yang digigit Ustad Rosyid juga berubah menjadi liar dan berusaha mengigit yang lain. Begitu seterusnya terjadi dalam waktu singkat sembilan orang bertingkah seperti celeng. Jalan keluar yang dipilih menangkap sembilan orang yang terserang virus celeng untuk dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Selain itu wali kota melarang pembiaakan celeng. Spanduk dan baliho anticeleng dibentangkan di mana-mana.

Jamuri, sebagai memelihara celeng merasa terancam dengan kebijakan anticeleng berusaha mencari tempat yang baru. Ia mendapat lahan di ujung tanjung. Lahan itu didapatkan dari Lurah Lantip yang berhasil mengambil lahan warga yang terusir ke tempat relokasi. Tujuh celeng betina dan dua celeng jantan harus dipindahkan. Untuk itu Jamuri meminta campiang mengusir dan menggiring celeng itu ke tepi laut sebelum diangkut dengan perahu menuju ujung tanjung.

Penggiringan celeng-celeng oleh sembilan campiang menuju pantai menjadi tontonan yang menarik bagi anak-anak karena mereka belum pernah melihat binatang seperti itu.

Kufah, salah seorang gadis, merasa senang menyaksikan binatang celeng ingin mengelus taring binatang itu dan memandikannya. Kufah mengharapkan jika diizinkan Kiai Siti, ia akan tidur bersama binatang itu di kandang. Kufah membayangkan dan yakin tengah malam pada tubuh celeng itu akan tumbuh sayap yang memungkinkan Kufah dan anak-anak lainnya terbang bersama bangau mengitari hutan bakau. Bagi Kufah celeng adalah binatang yang datang dari surga.

Orang dewasa yang belum melihat celeng mendesak Kiai Siti untuk bersikap tegas terhadap Jamuri karena bagi mereka celeng itu hewan dari neraka. Kiai santun ini tidak gegabah karena baginya Allah punya maksud mengirimkan celeng-celeng ke kota. Lain halnya Rajab seorang pemuda pemberang yang pernah sekolah di kota Wali tak sabar mengajak temannya melabrak Jamuri. Jamuri mencoba membela diri dan bersama sembilan cempiang berpakain loreng meladeni Rajab. Rajab dan warga yang datang bersenjata terusir.

Rajab dan warga terus mendesak kiai Siti agar usaha Jamuri dibekukan. Kiai kembali menegaskan bahawa celeng-celeng itu akan mati kalau Allah tidak menghendaki, dan jika Allah tidak menghendaki wabah datang pasti kampung tetap aman. Rajab tidak menerima sikap kiai itu bahkan menuduh kiai telah disuap Jamuri. Rajab meninggalkan kiai dan tidak jadi mengikuti shalat isya mencari cara mengusir celeng, cempiang dan Jamuri.

Rajan memprovokasi warga dengan menyebarkan kabar Kiai Siti telah menjadi celeng, tidak layak jadi tokoh anutan. Semua orang percaya dan yakin bahwa wabah yang sebelumnya menimpa Ustad Rosyid telah menyerang Kiai Siti. Rajab meyakinkan warga bahwa jamuri juga telah berubah menjadi celeng yang siap meneyrang. Tidak ada cara lain selain menyingkirkan Kiai Siti dan Jamuri dengan parang, celurit, linggis, bambu runcing, dll. Malam itu Rajab membayangkan dirinya sebagai Hamzah yang memimpin pertempuran melawan kemungkaran. Ia membayangkan akan segera menghunjamkan linggis ke perut celeng-celeng milik Jamuri. Rajab terjebak dalam strategi Jamuri. Sembilan celeng yang dikawal sembilan cempiang mengepung Rajab, menancapkan taring ganas ke tubuh rajab. Mereka menghendaki pemuda pemberang itu menjadi celeng pertama dari kampung penuh keharuman zikir dan shalawat itu.





4. Pertunjukan

Mengisahkan sekelompok seniman (musik) yang diundang untuk pertunjuk kesenian (Imusik). Tidak dijelaskan siapa sesungguhnya penyelenggara pertunjukkan itu entahkah pemerintah setempat atau salah satu keuskupan di Papua (Sorong?). Dalam cerita dikisahkan bahwa seniman diterima di keuskupan. Melani salah seorang anggota seniman mengkritik kegiatan itu sebagai kegiatan kurang penting dan bahkan dilihat sebagai pemborosan. Kritikan Melani ditujukan kepada Uskup. Bagi Melani pendidkan lebih penting dibandingkan mendengarkan musik.

Uskup menanggapi kritikan itu dengan mengisahkan pengalaman sang uskup ketika diminta para mahasiswa untuk menghadirkan seniman kondang dari Jakarta. Sang seniman yang notabene dikenal baik oleh sang Uskup justru meminta dibayar 100 juta. Uskup yang mengaku tidak mempunyai uang justru direkomenasikan untuk meminta pada Freeport. Uskup menyatakan sikap dan menegaskan siapa dirinya kepada sang seniman.Saya uskup bukan pengemis atau peminta-minta.

Pertunjukan yang kemudian dianggap bukan pertunjukan ini dihadiri pula oleh para pejabat tinggi yang menempati tempat terdepan. Digambarkan bahwa semua tanggapan dan apresiasi yang diberikan terhadap penampilan pemain music merupakan tanggapan dan apresiasi yang telah diatur teramsuk cara bertepuk tangan rakyat harus mengikuti gaya dan cara para pejabat bertepuk tangan. Kegiatan itu tampaknya berakhir ricuh karena dalam kegelapan terjadi pemembakan dan terdengar teriakan-teriakan histeris. Yang tampak hanyalah para polisi yang sibuk.



1 komentar: