Minggu, 12 Januari 2014

Ringkasan Cerpen Februari 2012

1. Batu-Asah dari Benua Australia

Cerpen ini berkisah tentang seorang tokoh yang dipenjarakan di Pulau Buru selama 13 tahun. Nama tokoh itu tidak disebutkan di dalam ceritera tetapi dikenal sebagai tokoh aku. Tokoh aku ini dipenjarakan karena dianggap terlibat dan mendukung Partai Komunis Indonesia (PKI)tahun 1965. Si aku dianggap terlibat bersekongkol dengan PKI karena selama belajar di Universitas Waseda Jepang ia bertindak sebagai wartawan atau koresponden Koran yang berhaluan komunis. Si aku yang lulus dengan gelar master itu dikirim ke Pulau Buru dan terpaksa meninggalkan Uci istrinya dan seorang perempuan selama 13 tahun.

Salama berada di penjara si aku tetap memikirkan tentang nasibnya setelah bebasa dari penjara. Ia ingin kembali ke tengah masyarakat dan melanjutkan perjuangan hidup dalam semangat juang untuk tetap mandiri. Ia bertekad untuk menjalankan hidup secara baik setelah bebas. Ia memikirkan pekerjaan apa dan modal apa yang seharusnya ia miliki untuk memulai kehidupan setelah dinyatakan bebas dari penjara. Pada hari kelima setelah dinyatakan bebas, putrinya datang menjumpai si aku. Si aku berpesan kepada putrinya untuk mencari dan mengantarkan batu asah milik sang Eyang sewaktu berada di Australia.

Tiga hari, siang-malam, istri dan putrinya mencari-cari dan batu asa itu ditemukan sudah jadi ganjalan ember di sumur kerekan di belakang rumah tetangga. Batu asah itu diantarkan kepada si aku. Betapa senangnya sang ayah mendapat batu asah itu sebagai warisan orang tuanya. Sejak itu Si Aku berprofesi sebagai tukang asah. Setiap hari dan sudah hampir sebulan ia keliling kota menawarkan jasanya mempertajam pisau. Pada hari ke dua puluh sembilan ia menekuni profesi sebagai tukang asah pisau, dia bertemu dengan orang Jepang. Semula ia bertemu pembantu rumah tangga yang akan mengasahkan pisau yang sudah rompal, kemudian dia bertemu dengan nyonya rumah yang menyaksikan bagaimana pisaunya menjadi tajam setelah diasah. Secara kebetulan sang nyonya berbicara dalam bahasa Jepang dan si pengasah pisau pun melayani percakapan dalam bahasa Jepang.

Betapa terkejutnya sang nyonya mendengarkan cerita dan pengakuan si pengasah pisau sebagai seorang mater jebolan Universitas Waseda. Perjumpaan dan dialog dalam bahasa Jepang yang terkesan kebetulan itu memungkinkan si pengasah pisau itu diajak untuk masuk ke dalam rumah untuk dipertemukan dengan sang Tuan sebagai kepala kantor berita Jepang yang diundang pemerintah. Nasib baik berpihak kepada si pengasah pisau karena sang kepala kantor memperkenankannya bekarja di kantornya. Prestasi kerjanya meningkat sehinggamenajdi orang kepercayaan di kantor itu dan dengan demikian penghasilannya berlipat ganda. Karena sukses dan berpengahsilan besar ia bisa membiayai istrinya yang ingin naik haji. Ia tetap melayani permintaan istrinya meskipun lima tahun sebelumnya sang istri menikah dengan pria yang berjanji menyanggupi biaya naik haji tetapi kemudian bubar karena malu tak menepati janji.

Mendekati hari keberangkatannya, menjelang magrib, si aku berpesan agar Uci mengingat kuplet ketiga lagu kebangsaan Indonesia Raya yang berbunyi ’Indonesia tanah yang suci…’. Saat melempar jumroh di Tanah Suci. Ia mengingatkan Uci untuk tancapkan di hatinya bahwa batu-batu yang dihunjamkan itu merajam setan-setan kota maupun desa di tanah suci kita Indonesia ini, yang tak sempat disingkirkan karena presiden pertama keburu ditumbangkan. Pesan si aku kepada Uci: Lihatlah, sekarang, di samping setan kapitalis birokat, muncul pula setan banggarong. Mereka pesta-pora, gentayangan bermobil mewah meraung-raung suka-suka di Senayan sana. Pernah di antara mereka, suatu ketika, melintas di jalan bebas hambatan. Sudah tak bayar tol, menebas nyawa orang pula. Rajamlah mereka dengan batu-batumu itu. Rajamlah, sayangku….”





2.Pemangil Bidadari

Cerpen berjudul Pemanggil Bidadari karya Noviana Kusumawardhani menampilkan tokoh utama seorang ibu yang lanjut usia yang hidup bersama cucunya. Penulis menanpilkan tokoh perempuan renta ini sebagai perempuan yang yang memiliki kemampuan istimewa yang diwariskannya dari generasi sebelumnya. Kemampuan istimewa itu berupa kemampuan menghadirkan, memanggil bidadari melalui ritus yang dilakukannya pada malam hari. Ritus memangil Bidari ini coba diperkenalkan juga kepada Ratri, cucunya dengan harapan akan melanjutkan tradisi itu kelak.

Ritus memanggil Bidadari itu dilaksanakan dengan intensi atau tujuan tertentu yang sangat mulia. Ketika Ratri menanyakan tujuan kegiatan memanggil Bidadari itu, Simbah Ibu menjelaskannya bahawa jika Bidadari-Bidadari turun, maka kehidupan warga sedesa penuh damai. Para Bidadari itu akan masuk ke rumah-rumah dan menyebarkan bubuk bahagia melalui mimpi orang-orang yang terlelap dalam tidur. Dijelaskannya bahwa ketika orang-orang itu bangun, tanpa mereka sadari mereka sudah membawa bubuk bahagia itu di dalam darahnya. Kebahagiaan yang telah mengalir dalam darah akan membuat mereka kuat. Diyakini bahwa hanya merasa bahagia yang akan melahirkan kekuatan yang memungkinkan mereka berusaha sekuat tenaga mengejar mimpi mereka dalam hari-harinya dengan kekuatan itu.”

Cara memanggil para bidadari hanya dengan mengucapkan matra dan setelah itu Simbah Ibu menengadahkan tangannya ke atas dan berserulah dia dengan penuh cinta ke angkasa dan dalam sekejap cahaya-cahaya yang bergemuruh datang seperti hujan meteor menembus pekatnya malam. Cahaya-cahaya itu berhamburan masuk ke rumah-rumah penduduk dan setiap rumah yang didatangi selalu memancarkan terang luar biasa. Cahaya itu diyakini sebagai jelmaan bidadari. Menjelang padi cahaya-cahaya itu kembali ke angkasa dan menghilang. Kemudian muncul pula beribu kunang-kunang yang dipercaya sebagai hadiah para Bidadari dan kunang-kunang itu merupakan jelmaan roh-roh suci.

Setiap pagi penduduk desa bangun dengan wajah gemerlap penuh cahaya yang menyemburat dari dalam dada mereka tanpa mereka sadari bahwa setiap malam Bidadari-Bidadari penghuni sorga turun menebarkan serbuk cahaya pada mimpi mereka. Bidadari yang sama juga dipanggil bagi para ibu hamil agar bayi-bayi yang terlelap dalam rahim dipenuhi cinta. Harapannya, ketika mereka lahir dunia akan penuh dengan cinta karena detak jantung bayi-bayi itu memancarkan dan memompa cinta ke seluruh jaringan nadinya.

Ketika Simbah ibu meninggal ritus ini tidak dilaksanakan Ratri karena ia merasa kecewa atas kepergiaan Simbah ibu yang menjadi tumpuan hidupnya. Ia lebih memilih melupakan pesan untuk melakukan ritus bahkan berusaha meninggalkan rumah dan desanya selama beberapa tahun. Akibatnya, kehidupan warga desa mengami perubahan. Tidak ada lagi suasana damai dan penuh cinta karena bidadari tidak diundang untuk menaburkan serbeuk cinta dan kedamaian itu.

Bertepatan dengan tahun kesembilan kematian Simbah ibu Ratri pulang ke kampung dan desanya. Ia mendapati tukang kebun yang merawat rumah yang ia tinggalkan. Kedatangan Ratri memberi harapan bagi warga kampung dan desa untuk bisa mnegubah keadaan yang telah kehilangan cinta dan rasa damai. Untuk itu Ratri melakukan ritus memanggil bidadari yang telah ia tinggalkan dan seperti pengalaman bersama Simbah ibu dahulu para bidadari turun kembali memenuhi mempi setiap warga yang mamopu meluruhakan hidup dan mimpi itulah yang menggeliatkan kembali seluruh warga desa. Mimpi telah menjadi kekuatan.





3.Laki-laki Pemanggul Goni

Cerita Pendek “Laki-laki Pemanggul Goni” menampilkan tokoh utama Karmain. Karmain digambarkan sebagai seorang yang menempati sebuah apartemen di luar negeri yang makmur. Suatu hal yang sering mengganngu Karmain setiap ia menjalankan tugas ibadah di apartemennya adalah kehadiran sosok seorang laki-laki yang memanggul goni. Setiap kali Karmain beroa tirai jendla apartemennya seakan-akan ada yang menyibaknya sehingga ia melihat sosok yang memanggul goni itu di jalan. Mata pemanggul goni itu digambarkan selalu diarahkan kepada Karmain dan mengguratkan rasa murka terhadap Karmain. Hal itu terjadi berulang-ulang. Karmain berusaha turun naik apartemennya sekadar menjumpai sang pemanggul goni yang ada di jalan. Karmain selalu gagal untuk bertemu sosok misterius itu.

Setelah hampir putus asa dan kecewa karena gagal menemui sosok aneh itu, Karmain kembali ke apartemennya dan membuka album dan dokumen-dukumen tua yang jarang dibukanya. Dari dokumen itu Karmain menemukan foto menidang ibunya semasih muda. Dari album dan dokumen itu Karmain mengetahui bahwa ibunya menjanda setelah ayahnya mati tertembak saat berburu babi hutan bersama 4 temannya di hutang Madaeng. Selain itu Karmain teringat akan cerita ibunya tentang muncul seorang lelaki pemanggul goni. Lelaki itu muncul untuk mengunjungi orang-orang berdosa dan pekerjaan utama lelaki pemanggul goni adalah mencabut nyawa. Ibunya bercerita, sebelum suaminya (ayah Karmain) tertembak, pada tengah malam laki-laki pemanggul goni datang, mengetuk-ngetuk pintu, kemudian pergi tanpa meninggalkan jejak.

Peristiwa terkahir, Karmain yang siap beribadah di apartemennya kembali dikejutkan karena lelaki pemanggul goni itu terlihat lagi di jalan seperti sebelumnya dan matanya terus menampakkan kemarahan kepada Karmain. Karmain berusaha menemuni lelaki itu jalan tetapi justru lelaki itu mendahului Karmain memasuki ruangan ibadahnya. Di dalam ruangan itu terjadilah dialog panjang lebar antara lelaki pemanggul goni dengan Karmain tentang pelbagai hal dan peristiwa berkaitan dengan masa lalu kehidupan Karmain dengan kedua orangtuanya di kampung Burikan.

Hal pertama yang disampaikan kepada Karmain berkaitan dengan sikapnya yang melupakan kedua orangtuanaya yang dikuburkan di kampung halaman. Karmain yang telah menjadi orang penting, menetap di negeri yang makmur telah melupakan kampung halamannya. Kuburan ayah dan ibunya tidak terawat lagi dan terancam tergerus banjir.

Hal kedua yang ditanyakan lelaki pemanggul goni itu kepada Karmain berkaitan dengan peristiwa masa silam saat Karmain berteman dengan Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani yang dahulu tersesat di hutan Gunung Muria?” Karmaian mengaku mengenal tiga nama yang disebutkan lelaki pemanggul goni tetapi nasib mereka tidak diketahui Karmain. Lelaki pemanggul goni menjelaskan kepada Karmain bahwa ketiga temannya itu telah diambil lelaki pemanggul goni yang berkuasa mencabut nyawa. Alasannya karena ketiganya berpotensi menjadi pengacau, pembunuh, penjahat, dan penyebar nafsu kelak bila dewasa.

Sebenarnya nyawa Karmain juga diambil saat itu, tetapi karena ia baru kehilangan ayahnya yang tertembak saat berburu babi hutan, Karmain dibiarkan hidup. Potensi kejahatan ketiga teman dan Karmain itu digambarkan dalam peristiwa mencuri mangga di kampung Barongan yang kemudian mereka melarikan diri karena dikejar anjing pemilik mangga. Karena niat mencuri mangga gagal mereka membuang racun mematikan anjing itu.

Ketiga, lelaki pemanggul goni me ngingatkan Karmain bahwa mendiang ayahnya itu tergolong bejat karena lalai menjalankan tugas keagamaannya. Pada saat seharusnya dia di masjid, bersembahyang, dan kemudian membantu orang-orang menyembelih kambing, ayah Karmain justru berkeliaran di hutan. Bukan untuk menyembelih kambing, tetapi mengejar-ngejar babi hutan.

Keempat, Karmain ditanyai dalam nada menduh oleh lelaki pemanggul goni itu tentang kebenaran cerita bahwa semasa remaja Karmain menjadi penabuh beduk masjid di kampung Burikan setiap saat sembahyang tiba. Karmain tertunduk mengenang masa lalunya. Semasa kecil ia bercita-cita akan membangun gedung bioskop. Semasa kecil itulah ia merancang bioskop-bioskopan. Dia merancang bioskop mainannya dengan bahan kertas tipis dilengkapi dengan orang-orangan. Semua jendela bioskop mainan itu ditutup dengan kertas sementara lilin bernyala ditempatkan di dalam bioskop racangannya itu.

Karmain ingat kala itu saat ia sedang asyik bermain bioskop-bioskopan, tiba-tiba Karmain ingat, waktu untuk menabuh beduk sudah tiba. Ia berlari ke masjid, meninggalkan kertas-kertas tipis berserakan di lantai. Ia tak berhasil menabuh beduk karena Amin seorang anak kampung Burikan mendahulunya ke masjid. Sepulang sembahyang, Karmain dan beberapa orang lain menyaksikan asap hitam membubung ke langit. Hampir seperempat rumah di kampung Burikan terbakar, dan dua laki-laki lumpuh meninggal, terjebak dalam kobaran api. Karmain yang tertunduk dituduh berpura-pura tidak tahu padahal kebakaran itu terjadi karena Karmaian berlari ke masjid sementara lilin tetap bernyala pada bioskop mainannya.

Mengadapi tuduhan demi tuduhan itu Karmain bertanya dalam nada heran tentang kehebatan lelaki pemanggul goni perihal nasib masa depan orang termasuk tiga temannya yang telah dicabut nyawa mereka karena berpotensi menjadi penjahat. Bagi Karmain hanya Nabi Kidir yang mampu meramalkan masa depan seseorang. Argumen Karmain dipatahkan lelaki itu dengan justru nabi Kidir pernah menenggelamkan perahu seorang pemuda yang berpotensi mengacaukan dunia.

Akhirnya Karmain ingat benar bahwa dahulu menjelang kebakaran hebat melanda kampung Burikan, banyak orang bersaksi bahwa laki-laki pemanggul goni datang, laki-laki pemanggul goni itu juga masuk ke rumah Karmain, kemudian bergegas-gegas ke luar, dan melemparkan bola-bola api ke rumah Karmain.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar