Senin, 02 September 2013

CERPEN: KUPU-KUPU UNTUK BUNGA

Kupu-Kupu untuk Bunga
Ratna Indraswari Ibrahim
Kompas, Minggu, 19/4/1998 hlm. 13.

Tepat di saat-saat usia­nya 18 tahun, Kembang selalu mengalami kesa­kitan luar biasa di sekujur tubuhnya. Begitu sakitnya penderitaan itu, sehingga harus meredamnya dengan bentur-benturkan badan di setiap dinding rumahnya.
Anehnya, kesakitan yang luar biasa itu selalu disertai adanya dorongan dari dalam dirinya untuk mengejar-ngejar setiap lelaki yang dijumpainya.
Pada saat seperti itulah dokter keluarga akan segera menyuntikny­a sehingga Kembang bisa tertidur pulas di kamar. Sejak peristiwa itu, Bunga suka menyelin­ap masuk ke kamar Kembang, menunggui mbak-nya sampai terjaga dari tidurnya.  Sebab, kalau mbak-nya terbangun, dia pasti akan berkata begini, "Kau mau kuceritai apa, Malinkundang ­atau Cinderella lagi?" Bunga selalu ingin mbak-nya menceritakan lagi tentang Cinderella, sebab setiap kali mbak-nya ­bercerita dibarengi dengan peragaan bagaimana Cinderella dan Pangeran yang sedang jatuh cinta itu berdansa.
Peragaan dansa Cinderella dan Pangeran itu sangat mempesona Bunga.  Mbak Kembang persis kupu-kupu cantik yang hinggap dari satu bunga ke bung­a yang lain.
Namun, suatu hari orangtua­nya memasukkan seluruh pa­kaian Kembang ke dalam koper selanjutnya dimasukkan ke bagasi mobil.  Dan Kembang dibawa pergi!  Besoknya orang­tuanya pulang tidak bersama Kembang lagi!
Mama memberi keterangan sangat singkat, "Mbak-mu Kem­bang harus dirawat di rumah sakit jiwa di Malang, dia akan kembali ke rumah, kalau sudah sembuh dari depresinya!"
Sejak saat itu (sepuluh tahun lampau), Bunga tidak pernah bertemu lagi dengan mbak-nya, Kembang.  Namun, dua minggu setelah ulang tahunnya yang ke-21, Bunga mengatakan kepada orangtuanya akan mengunjungi mbak-nya, Kembang, yang minggu depan juga berulang ta­hun ke-28.  Mama bilang, "Seta­hun yang lewat, ketika aku me­ngunjunginya dokternya bilang, kalau lagi sehat, mbak-mu suka menyulam.  Oleh karena itu, saya akan memberikan kado sepe­rangkat alat sulam.  Papa akan memberikan kado CD yang baru, iya kan Pa?  Kau sendiri kalau memberi mbak-mu kado harus yang diperlukan saja olehnya."
"Bunga, saya menyangka ke­lompok diskusimu menyuruh kau menjadi pahlawan, bagi ge­landangan, orang miskin dan gi­la. Itu yang sering kau sebut-se­but padaku sebagai kelompok pinggiran yang paling terpuruk dalam masa ini kan?  Non, Papa mau tanya sudah berapa jauh pemahamanmu tentang ekonomi, sosial, dan politik.  Saya an­jurkan kau menghabiskan libur­an semester ini sesuai dengan rencanamu semula yakni libur­an ke Bali bersama teman-te­manmu.
Perjalanan dari Jakarta ke Malang begitu panjang. Bunga merasa asing di kota yang sudah banyak berubah ini. (Dia dan Mbak dilahirkan dan bermasa kecil di kota ini).  Oleh karena itu, ketika Bunga merasa berjalan ke sembarang arah, yang pada akhirnya berdiri di se­buah mal.  Bergegas Bunga me­masukinya. Ia merasa harus membeli kado yang istimewa un­tuk Mbak Kembang. Sesung­guhnya, dia sudah mengaduk­-aduk dan menjelajahi seluruh sudut mal ini.  Akhirnya matanya tertumbuk pada sepasang sepatu kaca (mirip sepatu Cinderella).
Bunga selalu ingat cerita mbak­-nya tentang Cinderella.  Di suatu pesta dansa Cinderella mening­galkan sepatunya. (Tertinggal?).  Sebab itu Pangeran mencari pemilik sepatu itu untuk dijadi­kan permaisuri.  Saat itu Mbak Kembang selalu bilang dengan telak "Kalau Bunga nanti sudah berusia 21 tahun jangan mening­galkan sepatu ya, agar tidak di­cari oleh Pangeran."
Bunga, tergagap-gagap.  Dia tak pernah meninggalkan sepa­tu agar dicari oleh lelaki mana pun.  Namun, dia sudah memas­tikan Indralah yang akan men­jadi suaminya.  Akhirnya Bunga memutuskan kado yang tepat bagi mbak-nya adalah baju yang bermotifkan kupu-kupu yang sedang menari.
Di dalam taksi yang memba­wanya ke rumah sakit, tiba-tiba Bunga merasakan bayangan mbak-nya berkelebat.  Sungguh, orangtuanya tak rnemiliki foto Kembang.  Kala para wartawan memuat wawancara dengan pa­panya yang ahli analisa ekonomi itu, foto keluarga yang terpampang di koran cuma dialah seba­gai satu-satunya anak mereka.
Bunga sudah sampai di rumah sakit.  Seorang perawat mem­bawanya ke sebuah kamar.  Tiba-tiba dia merasa berada di muka cermin yang berdiri di mukanya, "Mbak Kembang yang sangat serupa dengan diri­nya." Bunga berlari dan menci­umnya.  "Mbak, saya Bunga adik sampeyan.  Selamat ulang tahun Mbak, ini kado dari Papa, Ma­ma, Bude Tin, Tante Nin, Om Nano juga dari saya dan pacar­ku Indra.  Saya tadi sudah minta izin dokter akan merayakan ulang tahun Mbak dengan ma­kan di restoran.  Buka dong ka­donya Mbak."
Kembang seperti tercenung melihat kado-kado itu dan pelan-pelan dibukanya kado itu satu per satu.  Kemudian Kem­bang berteriak, "Mama, Papa dan Indra semua impoten... saya mau pakai bajumu yang kau pakai itu sekarang juga."
"Mbak Kembang, Indralah yang menyemangati saya untuk bertemu dengan sampeyan.  Dia yang bilang begini kepada­ku, "Rasa malu karena punya saudara gila adalah persepsi masyarakat.  Karenanya, me­ngapa kita harus selalu bersikap seperti anggapan masyarakat yang normatif itu!...
Kembang melihatnya lekat-lekat dan tertawa cekikikan.
Sambil menikmati makanan, Bunga melihat mbak-nya yang tampaknya sehat dan cantik.  Bunga merasa perlu bercerita, "Mbak, saya ingat cerita sam­peyan, jangan menaruh sepatu kalau kita sudah berusia 21 tahun, sebab akan dicari oleh sang pangeran untuk dijadikan permaisurinya.  Tapi, saya tidak pernah menaruh sepatu!  Seka­lipun, saya sudah memutuskan Indralah yang akan jadi ayah dari anak-anakku."
Kembang, melihatnya lekat­-lekat, "Pikirlah dirimu, sendiri nanti sakit perut ... aduh saya pusing.  Ada banyak anjing, babi dan kerbau di sini.  "
BUNGA merasa perlu me­nanyakan kepada dokter apakah Kembang punya kemajuan setelah dirawat sela­ma sepuluh tahun di sini.
Dokter cuma berkata begini.  "Kemajuannya ada, sekalipun dia masih panik kalau lagi haid. Sebaiknya kau coba membawa­nya pulang ke rumah, barang se­bulan, agar bisa bersosialisasi dengan keluargamu.  Kau harus­nya bangga dengannya karena pagi ini saya mendapat faks dari organisasi yang memamerkan hasil sulaman Kembang.  Mere­ka menganggap sulaman hasil karyanya memiliki nilai seni tinggi.  Yah, setiap tahun kami mengirim hasil kerajinan para pasien kami untuk berpameran ke mancanegara.  Organisasi ter­sebut memamerkan setiap hasil karya para penyandang cacat mental dari seluruh dunia.  Se­bab itu, bagi setiap pasien, kami tidak pernah menyebutnya se­bagai orang gila.  Karenanya, ke­mungkinan untuk sembuh se­lalu kami harapkan dari setiap pasien kami.  Sekarang, lihatlah kakakmu di ruang senam.  Coba­lah berbicara sebanyak-ba­nyaknya agar dia bisa kembali ke lingkungan masyarakat se­cepat-cepatnya."
Bunga melihat perempuan yang sangat langsing itu sedang senam.  Kalau saja mereka bisa, tentu sangatlah asyiknya untuk bisa mengobrol kembali dengan Mbak Kembang, seperti dahulu!
Kemudian, ia melihat Mbak menghampiri dan mengajak du­duk di sebuah pohon, "Mbak, saya ingat waktu kita kecil dulu kita bersama ingin tahu sebesar apa bayi semut.  Yang kita kete­mukan adalah sepasang kupu-kupu yang baru keluar dari kepompongnya.  Saya sering ber­pikir Mbak akan seperti kupu­kupu itu suatu hari, yang bisa keluar darikepompongnya."
Mbak Kembang melihatnya dan tersenyum.  Dia seperti se­mua perempuan muda yang se­hat dan cantik.
"Mbak, saya akan minta izin Papa, Mama, untuk mengajak sampeyan kembali pulang.  Dan saya akan memperkenalkan sampeyan kepada Indra.  Mbak pasti suka kepadanya.  Selain itu, saya akan berusaha untuk mencarikan orang yang mau memamerkan hasil sulaman Mbak.  Saya kira hal seperti ini belum pernah dilakukan oleh organisasi-organisasi sosial di negeri kita.  Karena kita sering menganggap orang yang sakit seperti Mbak dan para penyan­dang cacat mental lainnya, tidak punya potensi untuk mengaktu­alitaskan diri di masyarakat."
Kembang melihatnya, dan ke­mudian menangis dengan sa­ngat keras.  "Aku mau pulang.  Aku kangen sama Papa dan Mama!"
Seperti yang diduga Bunga, Papa dan Mama tidak setuju un­tuk membawa pulang Mbak Kembang, sekalipun cuma sebulan.  Papa bilang lewat telepon, "Kita semua sibuk, siapa yang akan menjaga mbak-mu?  Apa perawat?  Apa tidak sulit men­cari perawat yang mau merawat orang seperti mbak-mu?  Bilang pada dokter, jangan main coba­-coba begitu, kalau sudah sem­buh ya sembuh.  Apa kau bilang kami tidak mencintainya?  Kami menaruhnya di rumah sakit yang mahal dan mewah itu agar dia mendapat perawatan dokter yang terbaik di negeri ini."
Ketika akan berpamitan de­ngan Mbak-nya Bunga tak bisa menahan air mata. Tiba-tiba Kembang memeluknya. "Adik jangan menangis, ini kupu-kupu hidup untukmu.  Simpanlah karena ini kenang-kenangan untukmu."
Bunga menangis keras.  Dan tiba-tiba Kembang mendorong­nya, "Pulang-pulang sana, pi­kirlah dirimu sendiri.  Aku jadi pusing!  Awas ada babi, anjing dan keledai."
Bertahun-tahun semen­jak itu, Bunga, Indra dan anaknya berada di negeri ini.  Pagi ini, Bunga merasa Indra sulit diajak bersahabat dengan­nya.  Oleh karena itu, dia meng­ajak anaknya ke taman kupu­-kupu, tempat kupu-kupu dari daerah tropis singgah dan bermukim di sini.
Di bangku taman dia duduk dan membaca faks yang datang kemarin dari orangtuanya.  Mereka mengabarkan Mbak Kem­bang sudah meninggal dunia dan diistirahatkan di dekat rumah sakit itu.
Dalam faks itu Mama juga me­nulis, "Saya kaget; dia mirip ka­mu waktu meninggalnya.  Dan setelah upacara penguburan se­lesai kami melihat sepasang kupu-kupu, senantiasa berpu­tar-putar di atas pusaranya.  Anakku yang malang itu sudah berbahagia di sisi-Nya.  Oleh karena itu, jangan terlampau bersedih dan dipikirkan.  Dalam situasi  yang seperti ini sebaiknya  kau dan Indra cepat-cepat menyelesaikan kuliahmu, agar kita tak kehabisan dana untuk kalian. Lebih baik mari kita doakan  bersama agar mbak-mu diterima di sisi-Nya
Tiba-tiba anaknya menarik­narik lengannya, "Mama kupu­kupu itu dari tadi mengitari Mama.  Ayo, Ma, kita tangkap.  "
Anaknya mencoba menang­kapnya, namun sepasang kupu-­kupu itu terbang dan menjauh yang tampak seperti menari­-nari.  Dan tarian itu mirip tarian mbak-nya, Kembang, saat mem­peragakan bagaimana Cin­derella dan Pangeran yang se­dang  jatuh cinta berdansa.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar