Sabtu, 15 September 2012

WUJUD MORFEM BAHASA INDONESIA



WUJUD MORFEM BAHASA INDONESIA
Bonefasius Rampung

1. Pengantar
Topik  “Wujud Morfem” yang akan diskusikan melalui tulisan ini merujuk pada salah satu bagian dari kajian kebahasaan yang lebih luas yang disebut Morfologi. Morfologi itu  merupakan bagian dari kajian kebahasaan seperti halnya fonologi yang mengkaji bahasa dari aspek bunyi bahasa, sintaksis yang mengkaji bahasa dalam kaitannya dengan struktur kalimat, semantik yang mengkaji bahasa dari segi makna, dan pragmatik yang mengkaji bahasa dalam kaitannya dengan makna yang disertai konteks. Memperhatikan posisi morfem sebagai bagian dari unsur morfologi mengharuskan diskusi atau pembicaraan tentang morfem itu tidak terpisahkan dari pemahaman akan morfologi.[2]
Diskusi tentang “Wujud Morfem” ini dengan sendirinya terkait dengan beberapa hal yang merupakan bagian kajian morfologi dalam konteks yang lebih luas yaitu masalah gramatika sebuah bahasa. Dalam konteks inilah kita bisa memahami kalau Sumadi menjelaskan aspek-aspek kebahasaan itu dalam konsep yang lebih luas yang disebutnya sebagai Satuan Gramatik[3]Morfologi merupakan bagian dari ilmu bahasa atau lingustik. Ilmu bahasa secara singkat dapat dijelaskan sebagai ilmu yang mempelajari seluk beluk bahasa secara ilmiah atau secara scientifik, morfologi mempelajari seluk beluk struktur kata. Bagian terkecil dari morfologi adalah morfem. Morfem mempelajari tentang satuan bahasa terkecil yang maknanya relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil. Diskusi ini difokuskan pada salah satu unsur kajian bidang morfologi khususnya tentang morfem yang meliputi (a) Pengertian Morfem (b) Klasifikasi Morfem (c) Morfem, Morf, Alomorf, Kata (d) Prinsip-prinsip Pengenalan Morfem (e) Wujud Morfem Bahasa Indonesia. Mengingat, morfem itu bagian morfologi maka gambaran tentang morfologi  mengawali uraian ini.
2. Morfologi[4]
2.1 Pengertian Morfologi
Morfologi bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-peruahan bentuk kata terhadap golongan kata dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik (Ramlan, 1978:19).
Morfologi adalah studi tentang morfem dan susunannya di dalam pembentukan kata. Morfem adalah satuan terkecil bermakna yang akurat yang merupakan kata atau bagian kata. Susunan morfem yang diatur menurut morfologi suatu bahasa meliputi semua kombinasi yang membentuk kata atau bagian dari kata (Nida,1963).
Morfologi adalah cabang lunguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian kata secara gramatikal (Verhaar,2010:11,97).
Kridalaksana (1984) berpandapat bahwa morfologi adalah (a) bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasi-kombinasinya; (b) bagian dari struktur bahasa yang mencakup kata dan bagian-bagian kata, yaitu morfem.
M. Faisal (2009) menyatakan bahwa morfologi merupakan bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk kata.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara morfem yang satu dengan morfem yang lain untuk membentuk sebuah kata.
3. Morfem dan Wujud Morfem
     Pokok-pokok yang akan diuraikan dalam bagian ini berkaitan dengan (a) pengertian morfem (b) klasifikasi morfem (c) perbedaan morfem, morf, alomorf (d) perbandingan morfem dengan kata (e) prinsip-prinsip pengenalan morfem (f) wujud morfem.
3.1 Pengertian Morfem[5]
Morfem, sebagaimana disinggung sebelumnya,  merupakan satuan yang paling kecil yang dapat dipelajari dalam kaitannya dengan morfologi. Namun, apa yang dimaksudkan dengan morfem belum dijelaskan. Berikut ini beberapa batasan tentang morfem itu.
1.            Satuan gramatik terkecil sebagai (komposit bentuk yang mempunyai arti) yang tidak dapat dibagi lagi menjadi satuan gramatik lain yang lebih kecil (Sumadi, 2012:45)
2.            Morfem ialah satuan gramatik yang paling kecil yang tidak mempunyai satuan lain selain unsurnya (Ramlan, 1983 : 26).
3.            Morfem ialah satuan bentuk terkecil yang mempunyai arti (Alwasilah, 1983 : 10).
4.            Morfem ialah kesatuan gramatik yang terkecil yang mengandung arti, yang tidak mempunyai kesamaan baik dalam bentuk maupun dalam arti dengan bentuk-bentuk yang lain (Sitindoan, 1984 : 64).
5.            Morfem adalah komposit bentuk pengertian yang terkecil yang sama atau mirip yang berulang (Samsuri, 1982 : 170). Yang dimaksud berulang di sini yaitu kehadirannya berkali-kali dalam tuturan.
6.            Morfem sebagai “ a linguistic from wich bears no partial phonetic-semantic resemblance to any other form, is a simple form or morpheme. (“satu bentuk lingual yang sebagiannya tidak mirip dengan bentuk lain mana pun secara bunyi maupun arti adalah bentuk tunggal atau morfem) ( Bloomfield (1933 : 161)
7.            Morphemes are the smallest individually meaningfull element is the utterances of a language (morfem adalah unsur-unsur yang masing-masing mempunyai makna dalam tutur sebuah bahasa) (Hockett, 1958 : 123).
8.            Morfem adalah bentuk bahasa yang terkecil yang tidak dapat lagi dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, misalnya kata sutra jika dibagi menjadi su dan tra, bagian-bagian itu tidak dapat lagi disebut morfem karena tidak mempunyai makna. Demikian juga me- dan -kan tidak dapat dibagi menjadi bagian yang lebih kecil (Badudu, 1985).
Dari semua definisi itu dapat dirumuskan hakikat morfem itu sebagai (1) satuan gramatik (2) kualifikasinya kecil tidak terbagi (3) tampilannya bisa bebas bisa terikat (4) bermakna bisa leksikal bisa gramtikal.
Sebagai contoh bentuk duduk, tidur, sakit, pergi adalah morfem-morfem karena bentuk-bentuk ini tidak dapat dibagi menjadi bentuk-bentuk terkecil lainnya serta mengandung makna atau arti leksis.  Bentuk meN- juga merupakan morfem, karena merupakan bentuk terkecil bahasa Indonesia. Selain bentuk meN- ada bentuk, ke-, ter-, peN-, di-, per-an, peN-an secara leksikal semuanya  memang tidak bermakna tetapi, tetapi mempunyai makna gramatikal. Jadi jelas, bahwa morfem itu bisa berbentuk bebas bisa berbentuk terikat. Oleh karena itu, morfem dapat diklasifikasikan menjadi morfem bebas dan morfem ikatSecara lebih rinci penjelasan tentang penjenisan morfem dapat dilihat pada pokok klasifikasi morfem.
3.2 Klasifikasi Morfem[6]
Berdasarkan kriteria tertentu, morfem dapat diklasifikasikan  menjadi beberapa jenis. Penjenisan ini dapat ditinjau dari dua aspek yaitu hubungan dan distribusi morfem dengan unsur lain dalam bahasa. Samsuri (1988) menggolongkan morfem berdasarkan empat kategori itu (1) berdasarkan hubungan struktur (2) hubungan posisi (3) distribusi (4) proses morfologis.
Dilihat berdasarkan hubungan strukturalnya morfem dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
(a)         Morfem yang bersifat adiktif (tambahan) adalah morfem-morfem umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit. Unsur-unsur morfem tersebut tidak lain penambahan yang satu dengan yang lain.
(b)         Morfem yang bersifat replasif (penggantian), yaitu morfem-merfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu disebabkan oleh perubahan waktu atau perubahan jumlah. Contoh morfem replasif ini terdapat dalam bahasa Inggris.
(c)         Morfem bersifat substraktif (pengurangan), misalnya terdapat dalam bahasa Perancis. Dalam bahasa ini, terdapat bentuk adjektif yang dikenakan pada bentuk betina dan jantan secara ketatabahasaan. Misalnya sifat palsu, baik, panas, kecil jika dikaitkan dengan kata betina bentuknya /fos/, /bon/, /sod/, /ptit/ tetapi kalau dikaitkan dengan kata berjenis jantan menjadi /fo/, /bo/, /so/, /pti/.
Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
(a)    bersifat urutan. Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian, yaitu /ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan karena yang satu diurutkan sesudah yang lainnya. Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem lainnya.
(b)   bersifat sisipan, Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat dilihat dari kata /telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi /t…unjuk/+/-el-/.
(c)    bersifat simultan. Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada kata-kata seperti /kehujanan/, /kesiangan/, dan sebagainya. Bentuk /kehujanan/ terdiri dari /ke-…-an/ dan /hujan/, /kesiangan/ terdiri dari /ke-…-an/ dan /siang/. Bentuk /ke-an/ dalam bahasa Indonesia merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk /kehujan/ atau /hujanan/ maupun /kesiang/ atau /siangan/. Morfem simultan itu sering disebut morfem kontinu (discontinuous morpheme).[7]
Ditinjau dari distribusinya, morfem dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : morfem bebas dan morfem terikat.[8]
(a)                Morfem[9] bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk kalimat. Dengan demikian, morfem bebas merupakan morfem yang diucapkan tersendiri; seperti: gelas, meja, pergi dan sebagainya. Morfem bebas sudah termasuk kata meskipun  konsep kata tidak hanya morfem bebas, kata juga meliputi semua bentuk gabungan antara morfem terikat dengan morfem bebas, morfem dasar dengan morfem dasar. Jadi dapat dikatakan bahwa morfem bebas itu kata dasar (Santoso, 2004; Chaer, 2012: 146-166).
(b)                Morfem terikat merupakan morfem yang belum mengandung arti, maka morfem ini belum mempunyai potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata, morfem ini harus digabung dengan morfem bebas. Menurut Samsuri (1994), morfem terikat tidak pernah di dalam bahasa yang wajar diucapkan tersendiri. Morfem-morfem ini, selain contoh yang telah diuraikan pada bagian awal, umpanya: ter-, per-, -i, -an. Di samping itu ada juga bentuk-bentuk seperti – juang, -gurau, -tawa, yang tidak pernah juga diucapkan tersendiri, melainkan selalu dengan salah satu imbuhan atau lebih. Tetapi sebagai morfem terikat, yang berbeda dengan imbuhan, bisa mengadakan bentukan atau konstruksi dengan morfem terikat yang lain (Santoso, 2004).
Sumadi (2012: 50-63)[10] mengelompokkan morfem bahasa Indonesia berdasarkan tujuh dasar yaitu (a) kemampuan morfem berdiri sendiri dalam suatu tuturan (b) kemampuan berdistribusinya morfem dengan morfem lain (c) produktivias morfem (d) relasi antarunsur morfem (e) sumber morfem (f) jumlah fonem pembentuk morfem (g) makna morfem.
(1)   Dilihat dari aspek kemampuan morfem untuk berdiri sendiri dalam suatu tuturan, kita mengenal morfem bebas, morfem semi bebas, dan morfem terikat.
Konsep bebas, semi bebas, dan terikat di sini mengacu pada relasi morfem dengan kajian morfologi dan sintaksis sehingga disebut bebas, semi bebas, dan  terikat secara morfologis dan secara sintaksis. Sebuah morfem dikatakan bebas secara morfologis artinya sebuah morfem dapat menjadi sebuah kata tanpa digabungkan dengan morfem lain. Bebas secara sintaksis artinya sebuah morfem tanpa  digabungkan dengan morfem lain sudah dapat dianggap sebagai kalimat. Bentuk seperti tas, rumah, kuda, batu, beras, misalnya dapat dikategorikan sebagai morfem bebas baik secara morfologis maupun secara sintaksis. Untuk itu cermatilah penggunaan bentuk ‘tas’ dalam  contoh tuturan antara pelayan toko dan pembeli berikut:
Pelayan : Ibu mau membeli apa?
Pembeli : Tas.
Bentuk ‘tas’ dalam dialog ini tergolong morfem bebas baik secara morfologis maupun secara sintaksis. Bentuki ‘tas’ merupakan bentuk yang paling kecil, tak terbagikan dapat berdiri sendiri sebagai kata (morfologi) dan sebagai jawaban atas pertanyaan bentuk ‘tas’ merupakan wujud kalimat (sintaksis). Bentuk tas dalam konteks jawaban merupakan bentuk elips dari jawaban lengkap : (Saya mau membeli) tas.
Morfem semi bebas adalah morfem yang bebas secara morfologis artinya telah berujud kata tetapi masih terikat secara sintaksis. Terikat secara sintaksis artinya morfem yang berujud kata tidak dapat diperlakukan sebagai kalimat seperti pada contoh ‘tas’ di atas. Bentuk-bentuk seperti dan, tetapi, agar, untuk, melainkan, sehingga, ketika, walaupun, demi, karena, namun, merupakan morfem bebas secara morfologis karena semuanya merupakan kata tetapi terikat secara sintaksis. Cermatilah tuturan antara guru dan siswa berikut:
Guru: Mengapa Anda terlambat?
Siswa : (a) *karena
             (b) macet
Bentuk jawaban (a) dengan ‘karena’ dalam dialog ini tidak bermakna meskipun ‘karena’ merupakan kata. Jawaban (b) adalah morfem yang bebas karena kata macet merupakan kalimat (dari konstruksi lengkap Saya datang terlambat karena macet). Bentuk ‘karena’ tidak dapat diperlakukan sebagai kalimat seperti ‘macet’  sehingga tergolong morfem semi bebas. Bentuk ‘karena’ merupakan morfem yang bebas secara morfolgis tetapi terikat secara sintaksis sehingga menjadi morfem semi bebas. Dari contoh ini dapat dikatakan bahwa semua konjungsi tergolong morfem semi bebas.
Morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam suatu tuturan dan terterikatannya baik secara morfologis maupun secara sintaksis. Morfem terikat dapat berwujud (a) afiks (prefiks, infiks, sufiks, konfiks/simulfiks) (b) klitika (c) bentuk dasar terikat (d) morfem unik. Klitika[11] merupakan satuan gramatik yang terikat seperti afiks, bukan bentuk dasar tetapi memiliki makna leksikal dan garamatikal. Bentuk  -ku, -mu, -nya, -isme, tergolong klitika bisa terlihat pada bentuk kampusku, sepatumu, senymannya, kapitalisme.
Salah satu morfem terikat adalah bentuk dasar terikat. Bentuk dasar bebas sudah dapat dikatakan sebagai kata dan dapat dilekati afiks untuk membentuk bentuk dasar atau kata baru misalnya kata sekolah bisa dibentuk kata bersekolah, persekolahan, menyekolahkan. Lain halnya dengan bentuk dasar terikat seperti bentuk juang, temu, pakai. Bentuk juang baru menjadi kata hanya setelah diimbuhi ber- untuk bentuk berjuang, per-/-an untuk membentuk perjuangan, memper-/-kan untuk memperjuangkan.
Morfem unik adalah morfem yang hanya dapat digabungkan dengan bentuk tetentu. Morfem {renta} tergolong unik karena hanya bisa dipadukan dengan morfem {tua}; begitu juga morfem {belia, gulita} hanya bisa dipadukan pada morfem {muda, gelap}.

(2)   Morfem berdasarkan kemampuan berdistribusi dengan morfem lain
Dilhat dari distribusnya morfem dibedakan menjadi morfem tertutup dan morfem terbuka. Morfem terbuka berarti morfem itu bisa berdistribusi dengan morem lain, sedangkan morfem tertutup tidak bisa berdistribusi dengan morfem lain. Bentuk sudah dan telah secara semantik bermakna sinonim termasuk kalau kedua bentuk itu diberi imbuhan se- menghasilkan bentuk sesudah dan setelah.
Dalam proses berdistribusi dengan morfem lain tampak jelas keduanya berbeda. Bentuk sudah merupakan morfem terbuka karena bisa berdistribusi dengan morfem lain mumunculkan bentuk berkesudahan dan menyudahi. Sebaliknya bentuk telah tidak bisa menurunkan bentuk yang benar karena yang dihasilan adalah bentuk *berketelahan dan *menelahi. Dengan demikian telah adalah morfem yang tertutup. Contoh lain yang analog adalah  penggunaan bentuk mungkin dan barangkali yang bisa menurunkan bentuk kemungkinan, memungkinkan, termungkin, dimungkinkan tetapi tidak diterima adanya bentuk *kebarangkalian, *membarangkalikan, *terbarangkali, *dibarangkalikan. Bentuk-bentuk dasar yang berfungsi sebagai alat ada yang tergolong morfem terbuka dan ada yang tertutup. Contoh sapu terbuka  berdistribus dengan bentuk menyapu, tersapu, menyapukan, disapukan, sapuan. Bentuk piring tidak bisa berdistribusi seperti kata sapu. Hal yang sama berlaku pada bentuk berupa afiks. Contoh bentuk berlaku berdistribusi dengan bentuk diberlakukan, memberlakukan, pemberlakuan berbeda dengan bentuk
(3)   Berdasarkan Produktivias: produktif dan improduktif
Sebutan morfem produktif dan morfem improduktif merupakan penggolongan bersaran kemampuan morfem untuk menghasilkan bentuk-bentuk baru. Pembedaan morfem dengan kategori ini berlaku baik untuk afiks maupun morfem non-afiks. Mengacu pada uraian tentang morfem bebas, semibebas, terikat ditemukan juga adanya morfem produktif dan improduktif. Bentuk batu dan arloji tergolong morfem bebas tetapi batu morfem produktif (batu, membatu, batuan, berbatu, bebatuan, batu-batu sedangkan arloji morfem improduktif (arloji, arloji-arloji). Produktivitas morfem tidak sama. Morfem berupa afiks umumnya tergolong morfem produktif.
(4)   Berdasarkan Relasi Antarunsur
Dilihat berdasarkan relasi antar unsurnya morfem dibedakan menjadi morfem utuh dan terbelah. Utuh, jika tidak disisipi dengan unsur lain. Terbelah, jika disisipi unsur lain. Morfem rumah, batu, tangan, sepatu, kemah, dll. Adalah morfem utuh karena tidak dapat disisipi unusr lain.Sebaliknya morfem-morfem berupa afiks konfiks dikategorikan sebagai morfen terbelah karena relasi unatara u ntur itu berpeluang disisipi unsur lain. Morfem ke-/-an, misalnya bisa menunkan bentuk bermacam-macam bergantung unsur dasar yang hendak dimasukkan. Unsur nakal, sehat, malas, rajin yang dikorelasikan dengan unsur ke-/-an akan menghasilkan bentuk kenakalan, kesehatan, kemalasan, kerajinan.
(5)   Berdasarkan sumber: asli serapan
Dilihat dari sumbernya morfem bahasa Indonesia dibedakan menjadi morfem asli dan morfem serapan. Morfem dasar seperti rumah, air, batu dan morfem afiks ber-, ter- dapat dikategorikan morfem asli sedangan standar, organisasi, koperasi, isme, isasi, dll. Tergolong morfem serapan/pungutan.
(6)   Berdasarkan jumlah fonemnya: monofonemis dan polifenemis
Fonem momofonemis hanya terdiri dari satu fonem sedangkan polifenemis terdir dari banyak fonem. Bentuk a- dan i- pada morfem amoral dan ilegal tergolong monofonemis karena terdiri atas satu morfem {a- dan i-}. Kata amoral dan ilegal masing-masing terdiri atas dua morfem itu {a dan moral} dan {i- dan legal}. Dua bentuk ini terdiri dari morfem monofonemis /a-/ dan /i-/ dan morfem polifonemis masing /m/, /o/, /r/, /a/,/ l/ dan /l/, /e/, /g/, /a/, /l/.
(7)   Berdasarkan Makna : morfem leksikal dan gramatikal
Dipandang dari maknanya morfem dibedakan menjadi morfem bermakna leksikal dan morfem bermakna gramatikal. Makna leksikal merujuk mpada makna yang ada pada leksikon. Morfem {kuda, batu, besar, gemuk} bermakna leksikal menyakan binatang, benda, sifat. nSebaliknya morfem afiks seperti {ber-, ter-, me-, meN-, dll.) baru bermakna jika dilekatkan pada morfem lain. Bentuk ber- tidak bermakna tetapi ketika dilekatkan pada kata sepatu menjadi bersepatu maka ber- pada bentuk bersepatu bermakna mengenakan sepatu

3.3 Morfem dengan Morf, Alomorf, Kata
            Pembicaraan tentang morfem sebagai satuan gramatik yang tidak terbagi bersinggungan dengan beberapa istilah yang berkaitan yaitu kata morf dan alomorf. Penjelasan tentang terminologi ini dikaitian dengan konsep parole yang sifatnya abstrak[12]. Morfem adalah langue dan morf adalah parole. Dalam realisasi langue menjadi parol muncullah morf. Sebagai contoh morfem meN- dalam realisasinya akan menampilkan bentuk bervariasi men-, mem-, menye-, meng-, menge-  jika dilekatkan pada kata tembak, bajak, siram, kail, las. Realisasi dengan bentuk berbeda inilah yang disebut sebagai alomorf.
Dalam kenyataannya banyak morfem yang hanya mempunyai satu struktur yakni jumlah maupun urutan fonemnya selalu tetap. Di lain pihak, banyak morfem yang mempunyai beberapa struktur fonologis, misalnya morfem peN- mempunyai struktur-struktur fonologis pe-, pem-, pen-, peng-, peny-, dan penge-, seperti terlihat pada kata-kata: pelari, pembimbing, pendengar, penguji, penyakit, dan pengecat.satuan-satuan pe-, pem-, peng-, peny-, dan penge- masing-masing disebut morf yang semuanya alomorf dari morfem peN- (Ramlan, 1983 : 27; Prawirasumantri, 1985 : 128; Ahmadslamet, 1983 : 27; Keraf, 1983 : 51). Jadi dapatlah dikatakan bahwa morfem peN- mempunyai morf-morf  pe-, pem-, pen-, peng-, peny-, dan penge- sebagai alomorfnya.
            Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa alomorf itu merupakan variasi bentuk suatu morfem. Keraf (1982 : 51) mengatakan bahwa variasi itu disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya. Maksudnya, bergantung kepada jenis fonem awal sebuah satuan yang dilekati oleh morfem tersebut. Perubahan /N/ itu harus homogen. Sebagai contoh /N/ akan menjadi /m/ apabila dilekatkan pada bentuk dasar yang diawali fonem /b/. fonem /m/ dan /b/ sama-sama bunyi bilabial. Sedangkan yang dimaksud dengan morf adalah wujud kongkret dari alomorf itu sendiri
Dari urain ini tampak jelas keterkaitan antara morfem dan kata. Hubungan itu bisa dilihat dalam contoh berikut. Perhatikanlah satuan-satuan gramatik berikut ini
(1) tanda
(2) menandai
(3) tanda tangan
(4) dari Bandung
            Satuan tanda merupakan sebuah bentuk bebas karena tidak dapat dibagi menjadi satuan-satuan bebas lainnya. Satuan menandai tidak dapat dibagi menjadi bentuk bebas.  Bentuk atau satuan tanda tangan dapat dibagi menjadi dua satuan yakni tanda dan tangan. Namun kalau diteliti lebih jauh, sebenarnya satuan tanda tangan memiliki satu kesatuan yang utuh atau padu. Dengan perkataan lain, tanda tangan memiliki sifat sebuah kata yang membedakan dirinya dari frase (Ramlan, 1983 : 28; Prawirasumantri, 1985 : 129). Bentuk-bentuk atau satuan-satuan yang setipe itu tidak mungkin dipisahkan atau dibalikkan menjadi tangan tanda  atau dipisahkan satuan lain tanda itu tangan. Bentuk atau satuan sepeti itu dalam hubungannya keluar selalu merupakan satu kesatuan dari. Satuan itu bukan merupakan bentuk bebas seperti contoh lainnya di, ke, daripada- tetapi secara gramatis memiliki sifat bebas. Satuan-satuan seperti contoh di atas dari nomor 1 sampai dengan 4 di sebut kata.
Berdasarkan penjelasan di atas, nyatalah bahwa kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih. Kata-kata seperti: duduk, makan, tidur, meja masing-masing terdiri atas sebuah morfem, sedangkan penduduk, makanan, meja makan, kaki tangan masing-masing terdiri atas dua buah morfem. Kata-kata yang terdiri atas satu morfem disebut kata bermorfem tunggal atau kata monomorfemis (monomorphemic word) dan kata-kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih disebut kata bermorfem jamak atau kata polimorfemis (polymorphemic word) (Verhaar, 1984 : 54).
Dari paparan di atas dapatlah ditarik suatu ciri kata. Ciri kata pada dasarnya mencakup dua hal yaitu: (1) kata merupakan suatu kesatuan penuh dan komplit dalam sebuah ujaran bahasa, dan (2) kata dapat disendirikan yakni bahwa sebuah kata dalam kalimat dapat dipisahkan dari yang lain dan dapat dipindahkan (Parera, 1980 : 10).
3.4 Prinsip-prinsip Pengenalan Morfem
Sumadi (2012: 24) mengaskan deretan morfolgis berfungsi untuk menganalisisi dan menentukan apakah bentuk yang sama atau mirip merupakan morfem yang sama atau berbeda. Untuk itu, digunakan beberapa prinsip analisis morfem. Prinsip-prinsip itu secara singkat dijelaskan berikut ini:
(1)   Jika ada bentuk berulang yang sama dan mempunyai makna yang sama , bentuk yang sama itu harus dikategorikan  sebagai morfem yang sama.
Contoh ter pada kata: terbesar, terpintar, terdepan, terpanjang, tertinggi, terdalam, terlebar, terkenal semunya bermakna sama yaitu ter- menyatakan makna paling sesuai dengan bentuk dasarnya. Karena menyatakan makna yang sama maka ter adalah morfem yang sama.
(2)   Jika bentuk berulang yang mirip dan bermakna sama bentuk yang mirip itu harus dikategorikan sebagai morfem yang sama bila perbedaaanya dapat dijelaskan secara fonologis
Contoh bentuk meN- pada  deretan  meluas, meninggi, membesar, menyempit, mengeras bermakna sama yaitu menyatakan berubah menjadi (sesuai dengan bentuk dasar). Yang berbeda hanyalah proses morfologisnya yang bisa dijelaskan secara fonologis berkaitan dengan alomorf me-, men-, mem-, meny-, meng-.
(3)   Jika bentuk berulang yang mirip dan bermakna sama, bentuk yang mirip itu harus dikategorikan  sebagai morfem yang sama meskipun perbedaaanya tidak dapat dijelaskan secara fonologis tetapi dijelaskan secara morfologis.
Contoh ber- pada deretan : berwisata, bekerja, belajar bermakna sama yaitu melakukan pekerjaaan (sesuai dengan bentuk dasarnya). Perbedaan bentuk ber- , be- dan bel- pada deretan morfologis itu lebih tepat dijlaskan secara morfologis.
(4)   Bentuk-bentuk yang sama dan bermakna berbeda dikategorikan sebagai morfem yang berbeda.
Contoh: Bentuk bisa yang merujuk pada racun binatang dan bisa yang bermakna dapat,  dilihat dari segi bentuknya sama tetapi maknanya berbeda maka ‘bisa’ pada dua deretan morfologis itu merupakan morfem yang berbeda.
(5)   Bentuk yang sama dan memiliki hubungan makna dikategorikan  sebagai morfem yang sama jika distribusi berbeda dan dikategorikan sebagai morfem yang berbeda jika distribusinya sama.
Contoh: Deretan morfologis : mulut manusia, mulut buaya; mulut gua; mulut sumur bermakna berbeda tetapi ada hubungan berkaitan dengan bagian yang b isa dimasuki sesuatu. Yang berbeda adalah distribusinya yaitu pada manusia, buaya, gua, dan sumur. Karena itu kata mulut dikelompokkan menjadi satu morfem.
Bentuk kursi pada kalimat (a)  siswa duduk di kursi dan kursi pada kalimat (b) paman berhasil merebut kursi bupati mempynyai makna yang berbeda. Kursi pada kalimat (a) bermakna nama perabot tempat orang duduk sedang kursi pada kalimat (b) bermakna jabatan. Karena distribusinya sama dan maknanya berbeda maka  kursi menjadi morfem yang berbeda.
(6)   Bentuk-bentuk yang tersendiri tidak berkemiripan dengan bentuk lain tergolong sebagai morfem tersendiri.
Prinsip pengenalan morfem seperi ini juga dilakukan ahli bahasa yang lainmnya yang dikutip sebagai prinsip 7 prinsip berikut.[13]  Pengenalan morfem dapat dilakukan dengan cara membanding-bandingkan suatu bentukan yang berulang dengan cara mengadakan subtitusi (Prawirasumantri, 1985:129). Deretan morfologik atau paradigma merupakan salah satu cara untuk itu. Namun demikian, untuk mengenal suatu morfem lebih jauh, kita kita dapat menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Samsuri (1982:172) dan Ramlan (1983:31) mengemukakan masing-masing enam prinsip pengenalan morfem. Samsuri mengemukakan tiga prinsip pokok dan tiga prinsip tambahan, sedangkan Ramlan tidak membedakan keenam prinsip tersebut. Sementara itu Ahmadslamet (1982:46) mengetengahkan pendapat Nida (1963) memaparkan tujuh prinsip. Dalam uraian ini akan dipaparkan enam prinsip Ramlan dan satu prinsip tambahan dari Nida untuk melengkapinya.
Prinsip ke-1
Satuan-satuan atau bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis dan arti atau makna yang sama termasuk satu morfem. Bentuk baju pada kata berbaju, menjahit baju, baju batik, dan baju biru merupakan satu morfem. Satuan-satuannya itu mempunyai struktur fonologis yang sama yakni /b/a/j/u/ dan arti yang sama yaitu ‘alat penutup badan”.
Prinsip ke-2
Satuan-satuan atau bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang berbeda termasuk satu morfem apabila memiliki satu arti yang sama sedangkan perbedaan struktur tersebut dapat dijelaskan secara fonologis.
Satuan-satuan men-, mem-, meng-, meny-, menge-, me-, pada kata menjawab, membawa, menggali, menyuruh, mengebom, dan melerai mempunyai makna yang sama yaitu “menyatakan tindakan aktif”. Perbedaan struktur fonologis tersebut dapat dijelaskan secara fonologis yaitu disebabkan oleh lingkungan yang dimasukinya yakni fonem awal bentuk dasar yang mengikutinya yaitu /j/, /b/, /g/, /s/, kata yang terdiri atas satu suku kata, dan /l/. fonem /N/ pada morfem meN- berubah menjadi /m/ seperti pada kata membawa, hal itu disebabkan fonem /b/ merupakan fonem bilabial, sama dengan fonem /m/. karena fonem tersebut sejenis, maka pengucapannya akan mudah. Itulah sebabnya tidak menbaca, mengbaca, menybaca, atau mebaca dan mengebaca.

Prinsip ke-3
Satuan-satuan atau bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologis, masih dianggap sebagai satu morfem apabila mempunyai makna atau arti yang sama, dan mempunyai distribusi yang komplementer.
Satuan-satuan be-, ber-, dan bel- pada kata-kata bekerja, berjalan, dan belajar termasuk satu morfem, walau bentuk bel- pada belajar tidak dapat dijelaskan secara fonologis, tetapi ketiga bentuk itu merupakan bentuk yang komplementer (nonkontrastif). Maknanya pun sama, oleh karena itu termasuk morfem yang sama yaitu morfen ber-.
Prinsi ke-4
Apabila deretan suatu satuan berparalel dengan suatu kekosongan, maka kekosonganitu merupakan morfem yang disebut morfem zero. Bahasa Indonesia memiliki deretan struktur seperti di bawah ini.
(1) Ia membeli sepeda.
(2) Ia menjahit baju.
(3) Ia membaca buku.
(4) Ia makan roti.
(5) ia minum es.
Kelima kalimat tersebut berpola sama yaitu SPO (Subjek + Predikat + Objek). Predikatnya merupakan kata kerja transitif. Pada kalimat 1, 2, da 3 kata kerja itu ditandai oleh adanya afiks meN-, sedangkan pada kalimat 4 dan 5 ditandai oleh kekosongan yakni tidak hadirnya morfem meN-. Kekosongan itu merupakan sebuah morfem yang disebut morfem zero.
Prinsip ke-5
            Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologis yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda. Apabila bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama itu berbeda artinya, maka satuan-satuan itu merupakan morfem-morfem yang berbeda, akan tetapi apabila satuan-satuan itu mempunyai arti yang berhubungan, maka bentuk itu merupak satu morfem, dan merupakan morfem yang berbeda apabila distribusinya sama.
            Sebagai contoh kita ambil kata buku dalam “Ia membaca buku.” Yang berarti kitab, dan kata buku dalam “buku tebu” yang berarti “ruas” merupakan morfem yang berbeda walau struktur fonologisnya sama. Kata duduk dalam “Ia sedang duduk.” Merupakan satu morfem dengan duduk dalam “Duduk orang itu sangat sopan.” Karena keduanya mempunyai arti yang berhubungan dan mempunyai distribusi yang berbeda. Kata duduk dalam “Ia sedang duduk.” Berfungsi sebagai predikat, dan termasuk ke dalam golongan kata kerja, sedangkan duduk dalam “Duduk orang itu sangat sopan.” Berungsi sebagai subjek dan termasuk golongan kata benda sebagai akibat adanya proses niminalisasi. Sebaliknya kata mulut pada “Mulut gua itu lebar.” Merupakan morfem yang berbeda dengan kata mulut pada “Mulut orang itu lebar.” Karena arti keduanya berbeda sedangkan distribusinya sama yaitu sebagai subjek.
Prinsip ke-6
            Setiap satuan yang dapat dipisahkan merupakan morfem. Dengan kata lain, Nida menyebutnya setiap pembentukan yang dapat mengisi sendiri lajur sekatan suatu deretan struktur dianggap sebuah morfem. Perhatikanlah satuan-satuan yang terdapat pada lajur sekatan berikut ini.
di-


men-
per-
per-
men-
per-
ter-
ber-
se-
ke-
sama
sama
sama
sama
sama
sama
sama
sama
-kan
-an
-i
-kan
-i
-an

-an
-nya
-nya
-lah
-kah
           
Satuan-satuan di atas yang terdiri atas satu, dua, tiga, dan empat fonem, merupakan satuan-satuan yang disebut morfem, sebab semuanya dapat mengisi sekatan tertentu dengan arti atau makna tertentu pula. Bagian-bagian yang mengisi lajur atau sekatan berikut ini tidak dapat disebut morfem, sebab sama sekali tidak mengandung makna atau arti.
sa
ma
bersa
ma
sa
mai

Prinsi ke-7
Bagian gabungan yang diketahui maknanya setelah bergabung dengan bagian lainnya dianggap sebuah morfem.
            Contoh satuan atau bentuk seperti itu dalam bahasa Indonesia antara lain: keliar, juang, laying, seling, temu, baru jelas maknanya apabila bergabung menjadi: berkeliaran, berjuang, melayang, selingan, pertemuan. Seperti telah dijelaskan, satuan-satuan seperti itu disebut pokok kata. Selain pokok kata, banyak satuan lain dalam bahasa Indonesia yang baru mempunyai makna apabila bergabung dengan bentukan lain yang sangat khusus, misalnya belia, siur, bangka, renta, gulita yang hanya dapat hadir di belakang satuan-satuan muda, simpang, tua, tua, dan gelap. Bentukan atau satuan seperti itu dinamakan morfem unik yakni morfem yang hanya dapat bergabung dengan morfem tertentu



3.5 Wujud Morfem Bahasa Indonesia
Morfem adalah satuan grmatik terkecil yang tidak mempunyai satuan gramatik lain sebagai unsurnya. Morfem merupakan komposit bentuk dan makna. Morfem selalu dibicarakan dalam kaitannya dengan makana (Sumadi, 2012, 20, 46)
3.5.1. Wujud Morfem Bahasa Indonesia
(a)    Fonem atau deretan fonem segmental
Satuan gramatik : amoral à    1.morfem a- à merupakan morfem segemental
                                                2. morfem moral à morfem deretan fonem segmental
Satuan gramatik: alami  à       1.morfem alam à morfem deretan fonem segemental
                                                2.morfem –i à merupakan morfem segemental

Satuan gramatik mencabutià 1.meN-à morfem deretan fonem segmental /m/, /ә/ /ŋ/
                                                 2.cabut à merupakan morfem segemental /c/,/a/,/b/,/u/,/t/
                                                 3. morfem –i à merupakan morfem segemental
(b)   Fonem Suprasegmental/prosodià tidak dapat berdiri sendiri,
   à melekat pada deretan fonem segemental
   à melibatkan satuan gramatik berupa fonem atau deretan fonem segemental
Fonem Suprasegmental ini mencakup jeda, nada, dan intonasi. Ketepatan dan kecermatan penggunaan ketiga unsur ini, dalam konteks pemakaian bahasa (pragmatik) akan berpengaruh pada ketepatan makna yang dipersyaratkan suatu tuturan bermakna antara penutur dan mitratutur,
            Wujudnya (1) jeda – merupakan mofem cth. Rekreasi à re//kreasi
rekreasi maknanya berwisata
re//kreasi bermakna kreasi ulang
(1)    Istri  pejabat yang baru itu sedang memimpin rapat (ambigu/taksa)
(1a) Istri // pejabat yang baru itu sedang memimpin rapat (yang baru pejabat)
(1b) Istri  pejabat// yang baru itu sedang memimpin rapat (yang baru istri pejabat)
Istri pejabat sama dengan konstruksi istri kakak, rumah paman, dst. Konstruski (1b) menjelaskan  konstruksi istri milik pejabat, istrinya pejabat

Wujudnya (2) nada- merupakan morfem bebas dalam bahasa Indonesia terlihat pada contoh
                        (2a) Pergi.(berita)
                        (2b) Pergi? (tanya)
                        (2c) Pergi! (perintah/suruh)
Konstruksi (2a), (2b), (2c) di atas mempunyai kesamaan karena semuanya semuanya terbentuk dari satuan gramatik berupa klausa yang menempati salah satu fungsi (P, Predikat) dalam tataran sintaksis. Makna ketiganya menjadi berbeda justru karena nada akhir yang berbeda.
Wujudnya (3) intonasi merupakan gabungan jeda dan nada. Berada pada tataran gramatik berupkan kalimat (sintaksis)
(3a) Sejak tadi pagi rumah ini masih terkunci. (kontruksi: Ket, P, S) berita
(3b) Sejak tadi pagi rumah ini masih terkunci?(konstrksi Ket, P, S) tanya
Sekadar Contoh bagaimana intonasi mengubah makna dalam bahasa daerah Manggarai[14] ada morfem wau dan pau. Dua morfem ini jika diberi tekanan tertentu akan membawa makna yang berbeda. Morfem wau bila dilafalkan netral berarti bau, jika tekanan diletakan setelah huruf /w/  w’au berarti sanak keluarga dan jika tekanan diletakkan antara /a/dan /u/ wa’u berarti turun. Dalam kalimat
(a)    Aldo weli ikang wau  =  Aldo membeli ikan yang bau
(b)   Aldo campé haé w’au  néténg leso = Aldo menolong sanak keluarga setiap hari
(c)    Aldo poli wa’u mendon bao = Aldo baru saja turunkan bebannya.
Demikian juga morfem pau bisa bermakna mangga, bisa bermakna jatuh tergantung tekanan yang diberikan pada bentuk itu. Contoh (d) dan (e) berikut menjelaskan peran tekanan mengubah makna morfem.
(d)   Aldo pua pau mésé = Aldo memetik manga besar
(e)    Aldo pa’u du pua pau mésé = Aldo jatuh saat memetik mangga besar

4. Penutup
Pembicaraan tentang morfem, wujud morfem ini penting dipahami dalam rangka memahami kajian tentang morfologi yang menjadi bahan diskusi untuk pertemuan selanjutnya.

***
Pustaka Rujukan

Alwasilah,  A.Chaedar. 1983. Linguistik :Suatu Pengantar.Bandung: Angkasa.
Bloomfiled Leonard.1933. Language. New York: Holt
Chaer, Abdul. 2012. Lingusitik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Faisal, M., dkk. 2009. Kajian Bahasa Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Hockett, Charles. 1958. A Course in Modern Linguistics. New York: Macmillan.
Katamba, F. 1994. Modern Linguistics: Morphology. London: The Macmillan Press Ltd.
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Muslich, Masnur. 2009. Tata Bentuk Bahasa Indonesia: Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara.
Nida, Eugene A. 1963. Morphology, The Desciptive Analysis of the Words. Ann Arbor: The University of Michigan Press.
Parera, Yos. Daniel.1980. Pengantar Linguistik Umum: Bidang Morfologi. Ende: Nusa Indah.
Ramlan, M. 1987. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: C.V Karyono.
Santoso, Joko. 2004. Morfologi Bahasa Indonesia. Yogyakarta: FBS UNY.
Samsuri. 1982. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.
----------. 1988. Morfologi dan Pembentukan Kata. Jakarta: Ditjen Dikti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sitindoan, G. 1984. Pengantar Linguistik dan Tatabahasa Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.
Sumadi. 2012. Morfologi Bahasa Indonesia. Malang: UM Press.
Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Verheijen, A.J.Jilis. 1967. Kamus Manggarai I : Manggarai–Indonesia. Koninkljk Instituut Voor Talol- Land En Volkenkunde.







[1] Disiapkan sebagai tugas individu  untuk Mata Kuliah Linguistik dan dipresentasi Senin, 17 September 2012  pada Program Pascasarjana Universitas  Negeri Malang  
[2] Sebagai contoh bisa bandingkan dengan ulasan Abdul Chaer, 2002. Linguistik Umum, Jakarta: Rineka Cipta hlm.146-205 yang mengulas masalah morfem sebagai bagain dari Tataran Linguistik Morfologi.
[3] Lihat penjelasan tentang Morfem  dalam  Sumadi, 2012. Morfologi Bahasa Indonesia. Malang: UM Press hlm.7-`22, yang menempatkan dan membatasi makna morfem  sebagai satuan gramatik terkecil yang tidak mempunyai satuan gramatik lain sebagai unsurnya.
[4] Sengaja  ide, gagasan, definisi dari  beberapa ahli ditampilkan di sini untuk membantu memahami morfem  yang merupakan subbagian dari kajian kebahasaan bidang  Morfologi.
[5] Batasan-batasan tentang morfem dari  para ahlis yang dicatat di sini dalam rangka menemukan hakikat morfem dengan pengandaian bahwa pemahaman yang tepat akan hakikat morfem akan memberi sumbangan yang berarti dalam kajian kebahasaan lainnya.
[6] Klasifikasi atau penggolongan morfem dalam bahasa Indonesia tampaknya beragam untuk setiap ahli  bergantung pada dasar penggolongan yang digunakan. Di sini sengaja diperikan penjenisan morfem itu dari beberapa  ahli sekadar memperlihatkan pilihan dasar penggolongan tersebut.
[7] Penjelasan yang yang lain tentang Jenis dan penggolongan Morfem Bahasa Indonesia ini  bisa dibaca pada Masnur Muslid, 2009. Tata Bentuk Bahasa Indonesia: Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Terbitan Bumi Aksara Jakarta hlm.16-24.
[8] Sebutan morfem bebas, morfem terikat juga ada dalam kajian Sumadi (2012) bahkan ada morfem semi bebas. Klasifikasi Sumadi ini didasarkan pada kemampuan morfem itu untuk berada sendiri atau tidak dalam tuturan. Konsep tentang morfem bebas, terikat, dan semi bebas  di sini dipertalikan dengan aspek morfologis dan sintaksis. Penggolongan model Sumadi bisa dilihat pada pokok Penggolongan morfem menurut Sumadi.
[9] Pengelompokan morfem atas morfem bebas dan terikat juga bisa dibaca pada tulisan Abdul Chaer(2012) dalam Lingusitik Umum khususnya halaman 146-166.
[10] Lihat uraian dan penjelasan lengkap tentang jenis morfem bahasa Indonesia menurut Sumadi dalam Morfologi Bahasa Indonesia, 2012 hlm. 50-63 yang memuat tujuh dasar penggolongan morfem.
[11] Istilah klitika biasanya disebut juga dengan istilah bentuk ringkas. Dalam kenyataannya bentuk ringkas itu ada yang ditempatkan di belakang bentuk lain atau morfem lain (klitik akhir atau endklitika) dan ada yang dilekatkan di depan (klitikan depan atau proklitika). Kubuka bukuku, kutolak permintaanya
[12] Sumadi (2012: 19-22) menguraikan terminologi morf, dan alomorf ini dalam konteks morfem yang masih merupakan sesuatu yang abstrak dalam tataran langue yang harus direalisasikan. Morf dilihat sebagai wujud langue sehingga morf menjadi parole.
[13] Prinsip pengenalan morfem yang ditawarkan dalam literatur lain ini ditampilkan dalam rangka menambah referensi agar memahami konsep morfem secara luas.
[14] Dua bentuk ini diambil dari Kamus Manggarai  I : Manggarai-Indonesia karya Jilis AJ.Verheijen (1967) hlm. 483, 739.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar