Sabtu, 08 Desember 2012

DESKRIPSI, ANALISIS KOLOKASI SINONIM BAHASA INDONESIA



1. Latar Belakang
Kajian psikolinguistik menunjukkan adanya hubungan erat antara jumlah kosa kata seseorang dengan kreativitas berbahasa baik lisan maupun tertulis (Soenjono, 2010:161-172). Asumsinya semakin banyak jumlah kata yang dikuasai seseorang semakin baik dan kreatif orang berbahasa.  Sejumlah kosa kata yang dimiliki bisa bermacam-macam baik yang bermakna sama, mirip,  maupun yang berbeda, bahkan berlawanan. Kata-kata yang bermakna sama atau hampir sama itu dalam kajian linguistik disebut sinonim. Penguasaan kata bermakna sinonim memungkinkan seseorang memproduksi ujaran (lisan) dan tulisan secara lebih kreatif dan variatif.
 Kreativitas berbahasa seseorang dapat dibangun melalui pemakaian kata sinonim secara tepat. Kata merupakan khazanah bahasa yang dapat mencerminkan kreativitas penggunanya. Kreativitas penggunaan kata di sini dibatasi pada penggunaan sinonimi dan kolokasinya. Kata-kata  bersinonim pada dasarnya memiliki nuansa makna atau makna yang hampir sama (Kentjono, 1982:79). Jika sebuah kata memiliki makna yang sama dengan kata lain, tentu keduanya bisa saling menggantikan. Namun, pada kenyataannya dua atau lebih bentuk yang memiliki hubungan makna yang sama (hampir sama) tidak selalu dapat saling menggantikan dalam konstruksi kalimat (Two or more words with very closely related meanings are called synonyms. They can often, though not always, be substituted for each other in sentences (Yule, 1985:117). Masalah kolokasi akhirnya muncul ketika kata yang bersinonim itu dalam penggunaannya tidak secara mutlak saling menggantikan.

2. Hakikat Sinonim
Kata sinonim terbentuk dari sin ("sama" atau "serupa") dan akar kata onim "nama" yang bermakna "sebuah kata yang dike­lompokkan dengan kata-kata lain di dalam klasifikasi yang sama berdasarkan makna umum,". Dengan kata lain, sinonim adalah kata-kata yang mengandung makna pusat yang sama tetapi berbeda dalam nilai rasa.  Pada umumnya sinonim diartikan sebagai ungkapan-ungkapan yang mempunyai arti yang sama.
Sinonimi diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama; atau ungkapan yang maknanya lebih kurang sama dengan ungkapan lain. Secara garis besar, kata-kata sinonim adalah kata-kata yang sama artinya. Namun, sebenarnya tidak ada dua kata yang seratus persen bersinonim. Keraf (1984:131) menegaskan bahwa antara dua kata selalu terdapat perbedaan, walaupun sedikit saja; baik perbedaan nilai rasa kata maupun perbedaan makna dan perbedaan lingkungan yang dapat dimasukinya. Sinonimi merupakan salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana. Sinonimi berfungsi menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana. Verhaar (1982:132) membedakan kesinoniman menurut taraf di mana bentuk tersebut terdapat, yaitu antarmorfem, antarkata, antarfrasa, dan antarkalimat.
Jadi, secara singkat dapat dirumukan bahwa sinonim adalah kata-kata yang bermakna denotasi yang sama tetapi berbeda dalam konotasi. Perbedaan makna konotasi yang dimaksudkan baru akan tampak jika kata itu dikaitkan dengan perilaku sitaksisnya. Artinya, makna konotasi akan jelas ketika kata-kata itu ditempatkan dalam pola atau struktur kalimat.  Contoh (a). pintar, pandai, cakap, cerdik, cerdas, banyak akal, mahir; (b). gagah, kuat, tegap, perkasa, berani, megah; (c). mati, meninggal, berpulang, mangkat, wafat, mampus; (d) bodoh, tolol, dungu, goblok, otak udang; (e) cantik, molek, bagus, baik, indah, permai.
Mem­bandingkan sinonim-sinonim membantu pemakai bahasa melihat hubungan antara kata-kata yang bersamaan makna (Tarigan, 2009).  Selain itu, membantu menggeneralisasikan dan mengklasifikasikan kata-kata serta konsep-konsep. Sino­nim memungkinkan seseorang mengekspresikan gagasan yang sama dalam berbagai cara tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik.

3. Masalah Kolokasi Penggunaan Sinonim
Dalam praktiknya, penggunaan kata bersinonim tidak selalu mudah karena ada patokan atau kriteria yang harus dipenuhi. Salah satu hal penting terkait prinsip kolokasi pemakaiannya. Kolokasi atau sanding kata adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan. Kata-kata yang berkolokasi adalah kata-kata yang cenderung dipakai dalam satu domain atau jaringan tertentu. Pilihan leksikal seseorang untuk membentuk konstruksi kalimat, mempertimbangkan nilai rasa dan kecocokan asosiasi antara satu kata dengan kata yang berdampingan dalam kalimat. Pola kolokasi ini  disebut juga sebagai susunan beruntun  yang berkaitan dengan konsep deiksis (Kaswanti, 1984: 201-238). Asosiasi yang tetap antara kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat disebut kolokasi (collocation). Kata-kata seperti sekolah, guru, siswa, pembelajaran, pelajaran, buku, perpustakaan, kelas adalah kata-kata yang secara kolokatif dibatasi dalam domain pendidikan.  Konstruksi  ”Petani setiap hari membaca buku  di perpustakaan sekolah”  tergolong tidak kolokatif karena kata petani tidak tepat disandingkan  dengan unsur lain dalam konstruksi tersebut.
Persoalan kolokasi ini sekaligus memberi ciri sebuah kata sinonim. Ada banyak alasan yang bisa diterima mengapa bentuk sinonim itu muncul dalam praktik berbahasa. Paling kurang ada lima hal yang bisa diterima sebagai alasan kehadiran sinonim dalam praktik berbahasa yaitu (a) pasangan kata bersinonim bersumber pada dialek yang berbeda misalnya aku-gua (dialek Jakarta) atau fall (Amerika)   autumn (di Britania) (b) sinonim muncul karena penggunaan gaya (style) berbeda misalnya makan-santap (c) sinonim muncul karena mau menampilkan makna emotif dan afektif yang berbeda misalnya kata  sayang-cinta (d) kata bersinonim memiliki keterbatasan kolokasi yang berbeda misalnya kandang-sangkar (e) kata sinonim berpotensi melahirkan makna yang tumpang tindih misalnya kata senang-gembira (Palmer, 1986:89-93; Rahyono, 2012:119-142).
Penggunaan sinonim yang tidak kolokatif  Anjing meninggal misalnya, tidak memenuhi tuntutan kolokasi antara kata anjing dan meninggal. Anjing lebih tepat berdampingan dengan kata mati dan manusia lebih tepat berdampingan dengan kata meninggal. Hal yang sama, meskipun makna kata-kata cantik, molek, bagus, baik, indah, permai hampir sama, atau bersinonim, dalam pemakaiannya dibatasi oleh prinsip kolokasi. Contoh:  tidak wajar mengatakan: *wanita itu indah  atau *gadis ini permai tetapi wanita itu cantik atau gadis ini molek. Ketidakwajaran penggunaan sinonim seperti ini berkaitan dengan konsep kolokasi.

4. Upaya Mempelajari dan Mengenal  Sinonim
Dalam praktiknya, penggunaan sinonim itu tidak semudah yang dibayangkan. Hal ini tampak dalam penggunaan sinonim yang tidak memenuhi kriteria kolokasi. Ini terjadi karena  penggunaan sinonim kurang cermat dalam membuat pembedaan (diskriminasi) antara satu sinonim dengan sinonim lainnya. Diskriminasi yang baik terjadi jika kata bersinonim itu digunakan dalam kaitannya dengan tataran linguistik lainnya seperti sintaksis dan semantik.  Sebagai contoh, kata ”tidak” dan ”bukan” merupakan dua kata bersinonim yang secara umum berperan sebagai unsur negasi.  Dalam penggunaannya, dua kata yang berperan negasi ini sering dicampuradukkan. Untuk itu perlu pembedaan yang tegas perihal unsur yang dinegasikan kedua kata bersinonim itu.
Pembedaan akan tampak jika setiap kata yang tergolong sinonim itu dianalisis berdasarkan makna dasar dan makna tambahannya, dilengkapi dengan contoh penggunaannya dalam kalimat. Bentuk seperti dsb., dll., dst. termasuk sinonim tetapi  sering dicampuradukkan dalam pemakaiannya. Bentuk dsb. seharusnya merupakan bentuk ringkas dari rincian sebelumnya yang sama jenis, kategori misalnya ibu membeli pisang, mangga, apel, jeruk, dsb. Bentuk dll. merupakan lanjutan dari rincian tentang barang yang tidak sejenis misalnya Andre membawa, sepatu, baju, pisang, dll. Bentuk dst. Merupakan lanjutan rincian berupa urutan misalnya satu, dua, tiga, empat, dst. (Rampung, 2005:31-34)  

5. Penggolongan Sinonim
Sinonim dapat dikelompokkan berdasarkan asal-usul unsur pembentukkannya, proses morfologisnya; kategori kata pembentuknya, dan kemungkinan distribusi unsur-unsurnya. Berdasarkan asal unsurnya  dibedakan menjadi (1) kata asli dan kata asli (bertemu – berjumpa;  baik - bagus – indah), (2) kata asli dan kata serapan ( bunga - puspa; kusuma (Skr), (3) kata serapan dan kata serapan (kitab (Ar) - pustaka (Skr).
Dilihat berdasarkan proses morfologis sinonim dapat dibentuk dari (1) kata dasar dan kata dasar [betul – benar; dapat – bisa; musuh – lawan], (2) kata dasar dan kata  jadian [awal – permulaan; karya – karangan], (3) kata jadian dan kata jadian [ketua – pemimpin; cendekiawan - terpelajar]. Berdasarkan  kategori kata pembentuknya sinonim dibedakan (1) kata benda-kata benda [pembantu-pelayan; pegawai-karyawan], (2) kata kerja-kata kerja [melihat-mengintip], (3) kata sifat-kata sifat [senang-gembira], (4)  kata keterangan-kata keterangan [amat-sangat], (5) kata tugas-kata tugas [dengan-secara]
Selanjutnya, berdasarkan kemungkinan distribusinya sinonim dibedakan menjadi sinonim berdistribusi paradigmatik (horizontal) dan sintagmatik (vertikal). Distribusi paradigmatik memungkinkan penggantian (substitusi) suatu un­sur dalam kalimat atau frase dengan unsur lain secara menegak (vertikal).  Dengan cara ini, kata-kata bersinonim dapat diketahui bedanya. 
Berdasarkan  Nilai Rasa (Makna Emotif). Kata-kata bersinonim seperti mati - meninggal - mangkat - gugur ­tewas - mampus dapat dilihat bedanya berdasarkan nilai rasanya.  Nilai rasa yang berbeda menyebabkan perbedaan dalam kelaziman pemakaiannya (Kridalaksana, 1988).  Perhatikanlah kalimat yang memuat kata sinonim:  mati - meninggal - mangkat - gugur - tewas – mampus
(1) Kucingnya [mati, *meninggal, *mangkat, *gugur, *tewas,*mampus] tertabrak.
(2) Nenek [meningal, ?mati, *mangkat, *gugur, *tewas,*mampus] karena sakit jantung.
(3) Raja Goa [mangkat , ?mati, ?meningal, *gugur, *tewas, *mampus] pada tahun 1950-an.
(4) Banyak tentara [gugur, ?mati, ?meninggal, *mangkat, ?tewas, *mampus] sebelum Jajak Pendapat di Timor Leste.
(5) Dalam tabrakan bus itu tercatat lima penumpang [tewas, mati, meninggal, *mangkat, * gugur, *mampus].
(6) Penjahat yang dikejar-kejar itu kedapatan sudah [mampus, ?meningal, *mangkat, *gugur, *tewas] di Kali Brantas

6. Deskripsi, Analisisis Kolokasi Sinonim
Uraian ini hanya beusaha mengambil beberapa contoh dengan melewati dua tahap (1) menjelaskan makna umum dan makna khusus setiap kata yang tergolong serumpun sinonim (2) melengkapinya dengan contoh penggunaannya dalam konstruksi kalimat. Tujuannya untuk memperlihatkan sekaligus membuktikan bahwa sinonim memang tidak mutlak tetapi dibatasi konsep kolokasi. Berikut ditampilkan dan dianalisis penggunaan beberapa kata sininonim.

6.1 untuk, buat, bagi, guna
Keempat kata tugas itu dipakai untuk menyatakan hubungan tujuan.
Untuk: jika mendahului kata benda; kata ganti bertugas sebagai pengantar objek penyerta; penerima, dan jika mendahului kata kerja bertugas sebagai pengantar keterangan tujuan.
Buat:  setugas dengan kata untuk, tetapi lebih banyak dipakai dalam bahasa tutur  atau bahasa pergaulan sehari-hari.
Bagi: jika mendahului kata benda; kata ganti menunjukkan 'apa; siapa' yang memperoleh; tidak pernah mendahului kata kerja.
Guna:  bertugas sebagai pengantar keterangan tujuan (setugas de­ngan kata untuk); tidak pernah dipakai sebagai pengantar objek penyerta.
Contoh
(1)   Niko membeli apel [untuk, buat,*bagi,*guna] Hirman. Kata buat dapat menggantikan kata untuk, sedangkan kata *bagi dan *guna tidak.
(2)   Waduk Karangkates bermanfaat  [bagi, buat, untuk, ?guna]  petani. Kata buat dan untuk dapat menggantikan kata bagi, sedangkan kata guna terasa janggal.
(3)   Mahasiswa asing itu tinggal di Malang [untuk, guna, buat, *bagi]  mempelajari bahasa  Indonesia. Kata guna dan buat dapat menggantikan kata untuk, sedang­kan kata bagi tidak dapat.
Kalimat (1) s.d. (3) memperlihatkan kemungkinan distribusi paradigmatik. Distribusi menurut pengertian paradigmatik dapat dibedakan atas dua distribusi paralel dan dis­tribusi komplementer. Berdistribusi paralel jika penggantian dengan unsur lain itu menghasilkan bentuk baru yang gramatikal (betul). Berdistribusi komplementer jika penggantian tersebut menghasilkan bentuk baru yang ti­dak gramatikal (salah). 
Yang disebut distribusi (berdasarkan pengertian sintagmatik) ialah kemungkinan suatu unsur dalam kali­mat; frase dapat dipertukarkan tempatnya (dipermutasikan) atau dapat bergabung (berkombinasi) dengan unsur lainnya secara mendatar.  Dengan cara ini kata-kata bersinonim dapat diketahui perbedaannya.  Perhatikanlah penggunaan kata sudah - telah
(1)   Acara perpisahan sudah selesai. Kemungkinan permutasinya menjadi:  (1a) Acara perpisahan selesai sudah.
(2)   Acara perpishan telah selesai. Kemungkinan permutasinya menjadi: (2a) *Acara kita selesai telah
 Kata sudah dan telah berdistribusi sama (dapat saling menggan­tikan) jika diletakkan mendahului kata yang diterangkan [con­toh (1) dan (2)].  Kata sudah dapat terletak di belakang kata yang diterangkan, sedangkan kata telah tidak dapat [contoh (la) dan (2a)].  Jadi, kata sudah yang terletak di belakang kata yang dite­rangkan tidak dapat digantikan dengan kata telah.

6.2 hingga-sampai
Keduanya dipakai untuk menyatakan batas akhir waktu/tempat.
Hingga: tidak dapat diikuti kata dengan atau didahului kata tidak/belum/sudah.
Sampai: dapat diikuti kata dengan atau didahului kata tidak/belum/sudah.
(1)   Saya belajar [hingga/sampai] jauh malam.
(2)   Dari Malang [hingga/sampai] Surabaya mereka bercakap-cakap terus.
(3)   Seminar berlangsung dari tanggal 14 [*hingga/sampai] dengan  19 Desember 2012.
(4)   Surat yang Anda kirimkan itu tidak/belum/sudah [*hingga/sampai] padanya.

 6.3   seperti -sebagai -sebagaimana
Ketiganya dipakai untuk menyatakan hubungan perbandingan.
 Seperti:    menyatakan relasi perbandingan yang (1) mengan­dung perumpamaan dan (2) menandai makna 'kemi­ripan'/'kesamaan'.
Sebagai     :di samping menyatakan hubungan perbandingan yang (1) mengandung perumpamaan dan (2) menan­dai makna 'kemiripan'/'kesamaan', dipakai juga un­tuk menandai makna 'berlaku sebagai'/'selaku'.
Sebagaimana : menyatakan hubungan perbandingan yang menandai makna 'kemiripan'/'kesamaan'.
(1)    [Seperti/Sebagai/*Sebagaimana] telur diujung tanduk (perumpamaan).
(2)   Imron menerima Ary [seperti/sebagai/?sebagaimana] saudaranya sendiri.
(3)   [*Seperti/Sebagai/*Sebagaimana] calon pendidik kita harus disiplin.
(4)   [Seperti/?Sebagai/Sebagaimana] saudara-saudaranya, dia termasuk murid yang pandai.

 

6.4. jangan, dilarang

Kedua kata ingkar itu dipakai untuk menyatakan ingkar perintah/ larangan.
Jangan :  (a)     perintah ditujukan kepada orang kedua secara langsung; dan (b) dapat bergabung dengan kata kerja aktif berawalan me(N)- atau kata kerja pasif berawalan di-.
Dilarang : (a)   Perintah itu ditujukan kepada orang kedua (lawan bi­cara) tidak secara langsung; dan (b) tidak lazim bergabung dengan kata kerja pasif ber­awalan di-.
[Jangan/Dilarang] masuk!/merokok!
[Jangan/ *Dilarang] dibuuang, disimpan saja.

6.5 baru -masih
Kedua kata keterangan itu dipakai untuk menunjukkan waktu ber­langsungnya suatu kejadian.
Baru:    menunjukkan awal mulainya suatu kejadian (belum lama ter­jadi).
Masih: menunjukkan suatu kejadian tetap berlangsung terus (belum berakhir).
Jangan ribut di sini, adikmu [baru/masih] tidur.(baru=sedang, lagi); (masih = sejak tadi belum bangun)
Pertandingan [baru/*masih] berlangsung 15 menit, gawang Indonesia kebobolan
Yang hadir [baru/*masih] beberapa orang.
Adiknya sudah menikah, sedangkan kakaknya [*baru/masih] membujang.

6.6 tidak - bukan
Keduanya dipakai untuk menyatakan ingkar (negasi). Kata  tidak biasanya bergabung (berkolokasi) dengan kata kerja atau kata sifat, Tidak berposisi mendahului kata kerja atau kata sifat. Kata bukan biasanya bergabung (berkolokasi)  dengan kata benda. Bukan: berposisi mendahului kata benda atau yang dibendakan.
(1)   Saya tidak [merokok, sakit, *dokter].
(2)   Saya bukan [dokter, *merokok, *sakit].
(3)   Setelah diteliti, ternyata (*tidak; bukan) mobil yang menabrak Andy, melainkan becak.
(4)   Tony (tidak; *bukan) bekerja karena sakit.
(5)   Andy (*bukan; tidak)  menembak kucing, tetapi  anjing

6.7 sesuai - selaras - serasi - seimbang - setimpal
Kata-kata di atas menyatakan hubungan persesuaian.
Sesuai: sama atau tidak bertentangan; menyimpang dengan keadaan; hal;  peraturan yang sebenarnya.
Selaras : sejalan dengan ... ; tidak berbeda dengan ....
Serasi: cocok, harmonis, berpatutan dengan ...
Seimbang : sama berat ( = setimbang dengan ... )
Setimpal   :    sepadan dengan . . .  sebanding dengan ...
(1)   Budaya asing yang diserap diharapkan [sesuai; selaras; ?serasi;  *seimbang; *setimpal] dengan kepribadian bangsa.
(2)   Perkembangan bahasa anak [sesuai; selaras; seirama; ?serasi; ?seimbang;  *setimpal] dengan perkembangan usia.
(3)   Jaket hujan yang dipakai Budy sungguh [sesuai; ?selaras; ?seirama; serasi; ?seimbang; ?setimpal] dengan warna kulitnya
(4)   Hasil panenan tahun ini tidak [sesuai; ?selaras; ?seirama; ?serasi; seimbang;  ?setimpal] dengan biaya yang dikeluarkannya.
(5)   Perampok itu hukuman [sesuai; ?selaras; ?seirama; ?serasi seimbang setimpal] dengan perbuatannya.

6.8 Cepat, segera ,lekas ,lancar, tangkas, gesit, terampil, deras, laju, kencang
Semua kata     di atas bermakna utama/bermakna denotasi cepat.
cepat : dalam waktu singkat dapat mencapai jarak jauh (perjalan­an, gerakan, kejadian).
Segera: cepat tentang peralihan waktu, saat yang satu ke saat yang lain.
Lekas: cepat tentang pekerjaan; perbuatan; tidak berlama-lama.
Lancar: cepat tentang keadaan tanpa hambatan; cepat dan fasih berkata; berbicara.
Tangkas: cepat tentang gerakan yang sigap dan gesit.
Gesit: cepat bergerak dan cekatan.
Terampil: cepat dan cekatan mengerjakan pekerjaan.
Deras: cepat tentang aliran air, hujan.
Laju: cepat tentang gerak kapal, kendaraan, perahu, burung, pelari.
Kencang: cepat tentang gerak angin, orang -berlati, kapal; perahu.
(1)   Perundingan antara Israel Palestina itu berjalan sangat  [cepat; lancar; ?segera; ?lekas]
(2)   Kami  mengharapkan  Saudara [segera;  lekas; ?cepat; ?lancar] datang ke kantor.
(3)   Minumlah jamu cap Jago  ini agar sakitmu  [lekas ; ?cepat; ?segera ; *lancar] sembuh.
(4)   Meskipun baru beberapa bulan di Malang, Hirman dapat berbahasa Jawa dengan  [lancar; cepat; *lekas; *segera].
(5)   Dengan [tangkas;  cepat; ?terampil; * deras; *kencang] pesilat menangkis lawannya.
(6)   Dengan [ gisit;  cepat; tangkas; terampil] Ronaldo menggiring bola ke gawang lawan.
(7)   Pembangunan memerlukan  tenaga [terampil; * kencang; *cepat;  *deras;  *lancar].
(8)   Karena hujan  [deras ; * cepat; * kencang; *cepat;  *lancar] kota Malang kebanjiran.
(9)   Mobil  berjalan lebih [laju; cepat; *deras; ?kencang;  *lancar] daripada becak.
(10)         Angin bertiup [kencang; *cepat; *deras; *lancar; *gesit] menumbangkan pepohonan.

6.9 bulat, bundar
Sebagai kata sifat, kata bulat umumnya merujuk pada sifat benda tiga dimensi (bervolume), misalnya bumi bulat, sedangkan bundar merujuk pada sifat benda dua dimensi, misalnya meja bundar. Namun demikian, kedua kata ini kadang dapat saling menggantikan. Bulat 1 berbentuk sabagi bola; 2 berbentuk lingkaran; bundar (tanpa bersudut); 3 tidak terpecah; utuh; 4 tanpa kecuali; 5 seia sekata; sepenuhnya. Bundar : berbentuk lingkaran (melengkung) dengan jari-jari yang sama. Dapat dilihat bahwa bulat memiliki lebih banyak makna daripada bundar. Ada beberapa makna pada bulat yang tidak dapat digantikan bundar. Kita tidak dapat, misalnya, menyebut bilangan bundar, suara bundar, dan kebundaran tekad.

6.10 semua - seluruh - segala – segenap,  sekalian
Kelima kata ini dipakai untuk menyatakan jamak. Karena itu, kata benda yang mengikutinya tidak perlu diulang. Kata semua, seluruh, segala, sekalian, dan segenap memiliki persamaan dan perbedaan arti. Persamaan arti menyebabkan kata itu dapat saling dipertukarkan, sedangkan perbedaan arti menyebabkan kata itu tidak dapat saling dipertukarkan.
Semua: (a) dapat berdiri sendiri; (b) dapat terletak baik di muka maupun di belakang kata yang diterangkan;  (c) menyatakan pengertian 'jumlah' benda (abstrak atau konkret) yang banyak (d) dapat bergabung dengan kata benda yang bermakna 'keanekaragaman'
Seluruh: (a) tidak dapat berdiri sendiri; (b) selalu terletak di muka kata yang diterangkan; (c) menyatakan pengertian ‘keutuhan’ (d) tidak dapat bergabung dengan kata benda yang bermakna 'keanekaragaman'.
Segala: (a) tidak dapat berdiri sendiri; (b) selalu terletak di muka kata yang diterangkan; (c) menyatakan pengertian keanekaragaman  (d) selalu bergabung dengan kata benda yang bermakna 'keanekaragaman'.
Segenap: (a)  tidak dapat berdiri sendiri; (b) selalu terletak di muka kata yang diterangkan; (c) menyatakan pengertian semua secara lengkap; sem­purna (tak ada yang terkecuali); (d)tidak dapat bergabung dengan kata yang bermakna 'keanekaragaman'
Sekalian  (a) menyatakan keserentakan. (b) hanya digunakan untuk mengacu pada orang atau manusia (c) dapat dipertukarkan dengan semua seperti pada kalimat berikut.  Sekalian orang di ruangan itu memperhatikan pembicara dapat ditukarkan kalimat Semua orang di ruangan itu memperhatikan pembicara. *Sekalian meja akan diangkut ke tempat lain,  tergolong kalimat yang tidak berterima
(1)   Anaknya lima orang dan [semua *seluruh *segala, *segenap] laki-laki.
(2)   Saudaranya [semua,*seluruh, *segala, *segenap] laki-laki.
(3)   Saudaranya laki-laki [semua, *seluruh., *segala., *segenap]
(4)   Bahasa Indonesia tersebar ke [seluruh,*semua,*segala, ?segenap] tanah air Indonesia.
(5)   Bhineka Tunggal Ika bertujuan mewujudkan kesatuan dalam [segala, semua ?seluruh, *segenap] aspek  kehidupan nasional.
(6)   [Semua, ?seluruh, *Segala]  anggota keluarga hadir dalam pesta itu.

6.11 ialah - adalah - yaitu
Ketiganya dipakai untuk menegaskan batas atau hubungan subjek (S) dan predikat (P) dalam kalimat nominal.
Ialah : dipakai dalam kalimat nominal bersubjek orang ketiga
Adalah: dipakai dalam kalimat nominal bersubjek orang  perta­ma, kedua, atau ketiga; dan biasa dipakai dalam kalimat nominal yang berwujud definisi.
Yaitu  : pemakaian kata yaitu pada dasarnya sama dengan kata ialah; dan dipakai sebagai pengantar penjelas kata benda yang mendahuluinya.
(1)   Bahasa [ialah; adalah; yaitu] alat berkomunikasi yang paling penting bagi manusia.
(2)   Alat berkomunikasi paling penting bagi manusia[ialah; adalah; yaitu] bahasa.
(3)   Bahasa [ialah; adalah; yaitu] ekspresi pikiran dan peraraan manusia.
(4)   Penelitian ada  dua jenis [*ialah; *adalah; yaitu] kuantitatif dan kualitatif
(5)   Prinsip demokrasi [*ialah; *adalah; yaitu]  pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat.
(6)   Kita [*ialah; adalah; *yaitu]   bangsa yang ramah tamah.
(7)   Tristan [*ialah; adalah; *yaitu] mahasiswa yang kreatif.
(8)   Surabaya [ialah; adalah; yaitu]  ibu kota provinsi Jawa Timur.
Kata ialah, adalah, dan yaitu pada kalimat (1), (2), dan (3) dipakai untuk memperjelas hubungan S dan P sehingga merupakan keharusan. Jika tidak makna kalimat akan kabur. Kata ialah; adalah; yaitu pada kalimat Cth (1) dapat diganti dengan kata merupakan.

 

6.12 Pekerjaan, Profesi, dan Jabatan

Apa saja yang dikerjakan atau dilakukan seseorang merupakan pekerjaan. Yang dimaksudkan dengan pekerjaan disini ialah jenis perbuatan atau kegiatan untuk memperoleh imbalan atau upah. Dengan ciri makna yang demikian, pekerjaan dapat juga disebut mata pencarian atau pokok penghidupan. Dalam konteks itu, secara khusus kita mengenal pula jenis pekerjaan yang lazim disebut profesi dan jabatan.
Jenis pekerjaan yang menuntut pendidikan dan keahlian khusus disebut profesi. Yang dapat digolongkan ke dalam kategori itu, antara lain, ialah pekerjaan seorang dokter, guru, pengacara, dan peneliti. Pekerjaan pengemudi, mandor, pembantu rumah tangga tidak termasuk profesi.
Jabatan merupakan jenis pekerjaan yang berhubungan dengan struktur suatu organisasi. Direktur, kepala bidang, dan sekretaris, misalnya, merupakan jabatan. Dalam pengertian itu, dikenal pula istilah seperti jabatan fungsional, jabatan struktural, dan jabatan rangkap.

6.13 menjinjing ,membimbing, menuntun, mendukung, menatang, menyandang, memikul, menggalas, memapah, mengepit, menggotong, mengusung, mengambin
Makna dasar; umum untuk semua kata sinonim ini adalah membawa.  Makna dasar (umum) bawa ini terangkum dalam makna menjinjing, membimbing, menuntun, mendukung, menatang, dsb.  Perbedaan kata-kata bersinonim seperti contoh di atas terletak pada cara melakukannya.
Menjinjing : membawa dengan satu tangan terulur ke bawah (contoh menjinjing sepatu)
Membimbing:  membawa dengan dipegang tangannya (contoh membimbing anak kecil) dengan dituntun (menuntun orang buta)
menuntun :  membawa di punggung dengan kedua belah tangan
mendukung: membawa di belakang (mendukung orang lumpuh)
menatang: membawa benda cair dengan telapak tangan (menatang minyak)
menyandang: membawa dengan tali yang disampaikan; disampirkan di bahu (menyandang senapan)
memikul: membawa di bahu dengan pikulan (memikul kayu)
menggalas: membawa barang di bahu dengan tongkat (menggalas bungkusan)
memapah: membawa orang dengan menyangga tangannya agar dapat berjalan (memapah orang sakit)
mengepit: membawa di ketiak (mengepit tas, buku, map, dsb.)
menggotong: membawa secara bersama-sama dua orang atau lebih dengan tangan (menggotong lemari, meja, balok, dsb.)
mengusung: membawa beramai-ramai di bahu (mengusung tandu, peti jenazah, dsb.)
mengambin: membawa dengan ambin (kain) (mengambin anak)


7. Masalah Sinonim Ganda
Masalah lain, yang sering tidak disadari, berkaitan dengan penggunaan sinonim ganda dalam satu-satuan konstruksi bahasa (baca kalimat). Konstruksi ganda itu misalnya penggunaan secara besama-sama dan simultan bentuk seperti: dan juga;  lagi pula, tambahan lagi, tambahan pula, hanya saja, demi untuk,  agar supaya, lalu berikut, lalu kemudian, kemudian berikutnya, pun  juga, lalu sesudah itu. Pemakaian sinonim ganda seperti itu persis berlawanan dengan hakikat lahirnya sinonim-sinonim yang mengharuskan pebahasa menentukan pilihan yang tepat.

8.Penutup
Apa yang disampaikan melalui lembaran diskusi ini hanya sebagian kecil dari kata sinonim yang ada dalam bahasa Indonesia. Karena itu, upaya untuk menjelaskan bentuk sinonim lain yang tidak sempat diuraikan dalam tulisan ini tentu saja merupakan langkah yang baik dan berguna.

***

Daftar Pustaka
Kaswanti, Bambang Purwo. 1984.  Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Kentjono, D. (Ed). 1982. Dasar-dasar Linguistik Umum. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia
Keraf, Gorys. 1984.  Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Kridalaksana, Harimurti. 1988. Kamus Sinonim Bahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.
Palmer, F.R. 1986. Semantics. Cambridge: Cambridge UP.
Poerwodarminta, W.J.S. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka.
Rahyono, FX. 2012. Studi Makna. Jakarta: Penaku.
Rampung, Bonefasius. 2005. Fatamorgana Bahasa Indonesia 1. Yogyakarta: Pustaka Nusatama.
Soenjono, Dardjowidjojo. 2010. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Obor.
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Semantik. Bandung. Angkasa
Tim Redaksi Kamus Bahasa Indonesia. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahsa Departemen Pendidikan Nasinal.
Verhaar, J.W.M. 1982. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Yule, G. 1985. The Study of Language. Cambridge: Cambridge University Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar