Rabu, 03 Oktober 2012

LINGKUNGAN BAHASA

1.      Pengantar
Macam dan nama-nama bahasa pada umumnya dihubungkan dengan penuturnya dan di mana penutur itu hidup. Orang Inggris yang hidup di Inggris menggunakan bahasa Inggris. Orang Jepang hidup di Jepang  menggunakan bahasa Jepang. Orang Arab hidup di Arab menggunakan bahasa Arab, orang Jerman hidup di Jerman menggunakan bahasa Jerman, orang Jawa hidup di Jawa menggunakan bahasa Jawa, dst.   Kita bisa menambah deretan seperti ini sebanyak jumlah bahasa yang ada di dunia. Kenyataan seperti ini jelas membawa kita pada satu kesadaran bahwa bahasa itu ada hubungan dengan pentur dan tempat hidup penutur. Dalam bahasa yang lebih teknis, bisa dikatakan bahwa bahasa berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat penggunanya.
Diskusi ini akan membawa kita semua ke dalam satu kesadaran bersama bahwa perbedaan masyarakat dan lingkungan tempat suatu bahasa digunakan menghadirkan kenyataan kemajemukan bahasa manusia. Selanjutnya, kodrat sosial manusia mengharuskannya berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lain dengan bahasa yang berbeda.  Perbedaan bahasa  disadari pula menjadi kendala komunikasi antarmanusia. Untuk itulah,  orang berupaya memahami orang lain melalui usaha memahami bahasanya. Usaha itu dapat terjadi secara alamiah karena tuntutan komunikasi yang praktis dapat pula dilakukan secara sadar, terencana.  Dari sini muncullah istilah pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa. Dua proses ini akan berjalan dengan baik kalau ditempatkan dalam konteks pembicaraan tentang Bahasa dan Lingkungannya
Menurut  Taylor[1]  pemerolehan  bahasa  dipengaruhi   tiga variabel  penting,  (a)  bahasa  yang  diperoleh, (b)   anak  yang  memperoleh  bahasa,   dan (c)   lingkungan   tempat   bahasa   itu   diperoleh.   Seorang   anak   bisa memperoleh bahasa karena dilengkapi dengan keadaan fisik yang memungkinkannya menggunakan bahasa serta kemampuan kognitif yang dimilikinya. Di samping itu, anak juga tumbuh dan berkembang dalam suatu lingkungan kebahasaan yang digunakan  penuturnya  secara  aktif.  
Cakupan pembicaran ini berkaitan dengan pengertian Lingkungan Bahasa, Jenis Lingkungan Lingkungan bahasa, dan bagaimana Relevansi pembicaraan tentang Lingkungan bahasa dengan praksis pembelajaran bahasa kedua (B2) di sekolah.

2. Pengertian Lingkungan Bahasa
Definisi, pengertian Lingkungan Bahasa yang relevan dengan masalah pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua (B2) dirumuskan Dulay sebagai segala sesuatu yang didengar dan dilihat oleh pembelajar tentang bahasa baru yang dipelajari (everything the language learner hears and sees in the new language).[2] Segala sesuatu yang didengar dan dilihat pembelajar tentang bahasa baru yang dipelajari ini bisa mencakup berbagai situasi seperti percakapan di restoran dan di toko-toko, percakapan dengan teman, menonton televisi, membaca rambu lalulintas, membaca surat kabar, termasuk aktivitas di dalam kelas yang memberi kesempatan kepada para pembelajar untuk mendengar dan melihat berbagai hal yang berkaitan dengan bahasa baru yang akan dipelajarinya.
Kualitas lingkungan bahasa amat menentukan dalam mencapai keberhasilan pembelajaran bahasa baru (B2) yang dipelajari, mungkin mereka mendapatkan sedikit keterampilan membaca tetapi keterampilan mendengar dan berbicara akan tetap rendah karena berhadapan dengan bahasa yang baru. Para pembelajar bisa saja mengalami kesulitan dan merasa kecewa bila hanya mendapatkan pajanan  dalam bentuk dialog dan drill yang terus menerus di dalam kelas. Pajanan dalam bentuk dialog dan cara drill seperti itu membuat mereka hanya menguasai keterampilan komunikasi di dalam kelas tetapi masih mengalami kesulitan pada kondisi sosial lainnya, ketika berada di luar kelas. Tanpa pajanan sama sekali pembelajaran tidak mungkin dapat dilakukan. Oleh karena itu lingkungan bahasa yang baik adalah lingkungan yang dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pembelajar untuk mendapatkan pajanan yang berkaitan dengan bahasa yang sedang dipelajarinya.
Lingkungan bahasa adalah keseltuhan kondisi yang memungkinkan pembelajar bahasa mendapatkan berbagai masukan tentang bahasa yang hendak dipelajarinya. Masukan-masukan itu bisa bersifat formal dan informal (alamiah).  Dari sudut padang ini Dulay, menjelaskan dua lingkungan bahasa yang memungkinkan pembelajar bahasa mendapatkan masukan tentang bahasa yang dipelajarinya yaitu lingkungan bahasa yang bercorak formal dan lingkungan bahasa yang bercorak alamiah (natural).[3] Ellis pengaruh ini lingkungan formal dapat dilihat pada dua aspek, (1) Urutan pemerolehan bahasa kedua (2) Kecepatan atau keberhasilan dalam menguasai bahasa kedua[4].
Percakapan yang  berlangsung  wajar dan normal antara dua orang bercorak alamiah bisa dilihat dalam percakapan di toko, bank, atau tempat-tempat  orang berpesta. Dalam kondisi seperi itu orang yang terlibat dalam percakapan akan bertukar informasi ketika mereka berbahasa meskipun dalam keadaan terbatas. Pada saat mereka berbicara seperti itu, mereka melakukannya secara alamiah meskipun di balik struktur bahasa percakapan itu ada struktur bahasa yang diandaikan sudah diketahuinya. Bahasa yang digunakan dalam konteks ini hanya untuk kepentinmgan komunikasi atau yang bercorak fungsional. Pada saat orang berbicara kaidah, struktur kebahasaannya dikesampingkan. Dulay mengangkat sebuah ilustrasi terkait pajanan pada lingkungan bahasa formal ketika melatih pembelajar B2 dengan kalimat: Mary has a white blouse ; John has a blue shirt (Maria memiliki blus putih; John memiliki kemeja biru).  Dalam contoh ini yang dipentingkan bukan soal kebenaran Maria memiliki blus putih atau John sungguh memiliki kemeja biru. Hal yang dipentingkan dalam contoh ini, pembelajar bisa menggunakan kata putih dan biru itu dalam pola kalimat yang benar.
Lingkungan bahasa alamiah baik lingkungan asing (forreign environment) maupun lingkungan yang sudah dikenali (host environment) diyakini dapat memberikan sumbangan dalam meningkatkan keterampilan komunikasi (B2). Meskipun demikian berbagai keterbatasan tentu tidak terhindarkan misalnya keterbatasan pembicara untuk berbicara seperti halnya penutur asli (B2), ketidakpahaman akan komunikasi yang sedang terjadi, keterbatasan masa diam (silent period) yang membuat pembelajar B2 hanya bisa menyerap (B2) dan belum bisa menggunakannya.
Dulay, dkk. mempertanyakan peran lingkungan formal (pembelajaran formal) dalam upaya membantu pembelajar B2 menguasai bahasa yang hendak dipelajari. Penelitian mereka memperlihatkan bahwa lingkungan bahasa formal bukanlah lingkungan terbaik dalam membantu pembelajar bahasa dengan lancar. Meskipun demikian, tetap diakui bahwa  lingkungan bahasa formal  memberikan beberapa keuntungan (1) pembelajar dapat memodifikasi, merekonstruksi bentuk bahasa baru dengan bantuan kaidah yang telah dikuasinya  sehingga bahasa itu dapat digunakan secara tepat sesuai dengan situasinya (2) Memperlajari kaidah atau pengetahuan tentang B2 dapat memberi kepuasan kepada pembelajar sekaligus mendorongnya untuk terus mempelajari B2
Dalam kenyataan, keterbatasan lingkungan bahasa formal membuat pembelajar B2 bersikap ganda. Di satu sisi ada kenyataan dan klaim bahwa pengetahuan kebahasaan seseorang tidak selalu menjamin seseorang menggunakan  bahasa itu secara benar dalam kumunikasi yang sebenarnya, di sisi lain pembelajar yang menyadari kaidah akan merasa aman ketika berkomunikasi. Terlepas dari keterbatasan seperti ini, yang perlu disadari adalah proses belajar dan proses pemerolehan bahasa selalu menuntut adanya lingkungan bahasa. Lingkungan bahasa mutlak diperlukan dalam proses belajar dan pemerolehan B2.

3. Jenis Lingkungan Bahasa
Dilihat dari perspektif luas cakupannya Lingkungan bahasa dibedakan menjadi Lingkungan bahasa makro dan lingkungan bahasa mikro. Sementara, berdasarkan bagaimana proses memperoleh dan mempelajari B2. Lingkungan Bahasa itu dibedakan menjadi Lingkungan Alamiah dan Lingkungan Buatan. Pemerolehan alamiah terjadi di pasar, di toko ketika orang beriteraksi sosial. Lingkungan buatan merujuk pada pembelajaran.  Pembedaan ini memberi corak pemerolehan bahasa sebagai sesuatu yang informal sementara pembelajaran bercorak formal.
3.1 Lingkungan Bahasa Makro
Pembicaraan Lingkungan Bahasa dalam konteks Makro berkaitan dengan empat hal penting yang berpengaruh terhadap kualitas pemerolehan B2 yaitu (1) Kealamiahan (naturalness) bahasa yang didengar (2) peran pembelajar dalam komunikasi (3) ketersediaan pelbagai referensi yang konkret untuk menjelaskan makna B2 dan (4) persoalan siapa figur yang menjadi model untuk B2 yang dipelajari sebagai bahasa target.
3.1.1 Kealamiahan
Kealamiahan bahasa yang didengar diasumsikan turut meningkatkan perkembangan keterampilan komunikasi B2. Pajanan alamiah pada bahasa baru memicu pemerolehan bawah sadar keterampilan komunikasi pada B2 itu. Pengaruh positf dari pajanan terhadap komunikasi alamiah pada B2 dibuktikan dengan tiga penelitian yang pernah dilakukan. Dua penelitian melibatkan orang dewasa dan satu penelitian melibatkan anak-anak.
Carroll, misalnya, telah melakukan survey terhadap mahasiswa jurusan bahasa seperti yang dikutip Dulay. Penelitian ini memperlihatkan kelebihan lingkungan bahasa  alamiah dibandingkan dengan lingkungan bahasa formal dalam pemerolahan B2. Survey Carroll  terhadap 2.784 mahasiswa senior jurusan  bahasa Prancis, Jerman, Rusia,  dan Spanyol pada perguruan tinggi di Amerika. Carroll menemukan bahwa mahasiswa  jurusan bahasa asing rata-rata lebih buruk. Carroll juga menemukan keterkaitan antara waktu yang dihabiskan di luar negeri di lingkungan bahasa target (B2) dan hasil tes. Mereka yang setahun berada di luar negeri nilainya terbaik, yang berada di luar negeri hanya selama musim panas atau untuk suatu kunjungan memperlihatkan nilai terbaik berikutnya; dan yang terakhir adalah mereka yang hanya belajar  di lingkungan bahasa asing.
 Salah satu karakteristik yang membedakan lingkungan alamiah dari lingkungan formal adalah ada tidaknya kesempatan mendapatkan pajanan alamiah (natural exposure). Lingkungan B2 memungkinkan pembelajar  berbicara dengan teman penutur asli menyangkut pelbagai persoalan kehidupan mereka pada lingkungan yang baru.  Situasi lingkungan bahasa asing biasanya membatasi pembelajar untuk mendiskusikan pelbagai persoalan yang berkaitan dengan interese, minat mereka. Yang dibicarakan  biasanya justru terfokus pada pelbagai masalah formal bahasa yang dipelajari. Sesungguhnya interese pembelajar itu penting untuk diperhatikan dan dipertimbangkan dalam proses pemerolehan dan pembelajaran B2.
Temuan yang sama dilaporkan Saegert, Scott, Perkins dan Tucker[5]  yang menyelidiki 114 mahasiswa di universitas Amerika di Kairo Mesir dan 71 orang di Universitas Amerika di Beirut, Lebanon. Sebagian besar mahasiswa itu mengukiti kuliah dalam bahasa Inggris. Saegert mengumpulkan berbagai informasi  berkaitan dengan kemahairan berbahasa Inggris, berapa lama memperlajari bahasa Inggris formal, dan apakah mereka juga berpengalaman kuliah dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.  Peneliti tidak menemukan adanya peningkatan berarti berkaitan dengan kemahiran berbahasa Inggris seiring dengan bertambahnya masa belajar bahasa Inggris sebagai B2. Peneliti menyimpulkan bahwa alat prediksi yang lebih baik untuk kemahiran bahasa Inggris adalah penelitian yang berkaitan langsung dengan pengalaman pembelajar. Apakah subjek penelitian berpengalaman menggunakan bahasa Inggri sebagai media pengajaran. Pajanan bahasa Inggris untuk mahasiswa dalam pelajaran biologi misalnya, menunjukkan hubungan yang lebih sistematis terhadap tingkat kemahiran berbahasa dibandingkan dengan lamanya waktu yang digunakan dalam kelas bahasa Inggris.
Jane  Willis[6]  merumuskan kenyataan ini dalam pernyataannya bahwa  mempelajari  bahasa  (terutama  bahasa  asing)  yang  terpenting  adalah menggunakan  bahasa  itu. Dia  menunjuk  orang-orang  yang sering  bepergian ke  luar negeri,    orang-orang  yang  bekerja  di  luar  negeri,  dan  orang-orang  yang  menjalin kerja sama dengan penutur asli bahasa target sebagai contoh. Mereka memperlihatkan kemampuan komunikatif yang memadai meskipun mereka tidak pernah secara formal mempelajari kaidah bahasa target tersebut di sekolah. Mereka memiliki kemampuan komunikatif  yang  cukup  baik  karena  mereka  memiliki  motivasi  yang  tinggi  untuk dapat   berkomunukasi   dengan   menggunakan   bahasa   target,   menerima   pajanan (exposure)  yang  cukup  memadai,  dan  memiliki  kesempatan  untuk  menggunakan bahasa  target  tersebut.  Menurutnya  tanpa  pengajaran  formal  pemelajaran  dapat berlangsung karena pengajaran bukan satu-satunya fungsi pemelajaran.
3.1.2 Peran Pembelajar dalam Komunikasi
Dulay dkk.menampilkan tiga tipe komunikasi yang memeprlihatkan pembelajar terlibat yaitu (a) komunikasi satu arah (one way); (b) kmunikasi dua arah  terbatas (restricted two-way (c) komunikasi dua arah yang penuh (full two-way). Dalam model satu arah pembelajar mendengarkan atau membaca bahasa target (B2) tanpa merespon. Contoh komunikasi satu arah ini mendengarkan pembicaraan dan mendengarkan siaran radio, menonton film, tayangan televisi, membaca buku atau majalah.
Dalam komunikasi model kedua, dua arah terbatas, pembelajar merespon secara oral pada seseorang tetapi pembelajar tidak menggunakan B2 (bahasa target). Respon dengan menggunakan B1 atau cara komunikasi lain yang bukan B2 termasuk respon nonverbal misalnya menganggukkan kepala. Dalam komunikasi model ketiga dua arah penuh, pembelajar berbicara dalam B2 bertindak sebagai pengirim dan penerima pesan-pesan verbal.
Ketiga model kmunikasi ini dinilai penting karena masing-masing mempunyai tempatnya dalam memfasilitasi pemerolehan B2. Kebanyakan penelitian empiris yang dilakukan menekankan keuntungan komunkasi satu arah atau dua arah terbatas  pada awal pembelajaran dan menanti siswa siap memproduksi B2 sebelum menekankan komunikasi dua arah penuh. Hal seperti ini menurut Kaswanti[7] harus menjadi bahan pertimbangan guru yang berkencenderungan mengoreksi setiap kesalahan siswa.

3.1.3 Ketersediaan Referensi
Materi bahasa yang akan diajarkan kepada pembelajar pemula hendaknya disampaikan sedemikian rupa sehingga pembelajar dapat dengan mudah menangkap makna meskipun dalam batas-batas tertentu. Dalam konteks ligkungan bahasa makro hal ini penting karena berpengaruh terhadap keberhasilan perkembangan B2 yaitu ada atau tidak unsur luar bahasa yang juga turut membantu pembelajar saat menangkap makna bunyi-bunyi aneh dari sebuah bahasa baru yang dipelajarinya. Lingkungan bahasa yang mendukung seperti in disebut lingkungan bahasa yang mempunyai referensi konkret dalam arti subjek dan peristiwa dapat diindrai, dilihat dan didengar ketika bahasa itu sedang digunakan. Guru B2 dituntut menyadari pentingnya menyediakan konteks bagi B2  melalui alat bantu visual, kegiatan-kegiatan motorik, dalam konteks kini dan di sini agar makna bahasa baru itu dipahami secara jelas oleh para pembelajar awal.
Dulay memberikan contoh yang jelas tentang lingkungan bahasa yang kaya akan referensi konket dengan mengacu pada apa yang dilakukan para ibu atau pengasuh anak ketika mereka berbicara dan berhadapan dengan anak-anak di sekitar mereka dalam konteks nyata kini dan di sini. Dalam semangat keibuan seorang ibu atau pegasuh anak biasanya berbicara tentang hal konkret yang terjadi atau yang dilakukan anak-anak. Mereka akan menggmabarkan apa yang dilakukan anak atau apa yang baru saja dilakukan anak. Awas, susumu tumpah, Itu bukit pasir yang indah, minumlah jusmu, hentikan itu! Atau bisa juga bertanya tentang apa yang dilakukan anak-anak misalnya di mana kaus kakimu?[8]
Penutur yang bersifat keibuan biasanya berbicaa tentang kegiatan yang tidak memisahkan waktu dan tempat. Mereka tidak membahas apa yang akan terjadi minggu depan, bulan depan  apalagi tahun depan, tidak berbicara tentang apa yang terjadi di tempat lain atau tentang peristiwadi negara lain. Seperti halnya para peneliti yang memfokuskan perhatiannya pada konteks kini dan di sini. Praktik seperti ini dilakukan untuk menampilkan  merujuk pada referensi yang dapat dilihat secara konkret oleh anak.

3.1.4 Model Bahasa Target (B2)
Di samping pengaruh positif lingkungan bahasa yang menjadi aturan di mana pembelajar tidak dipaksa untuk berbicara dengan bahasa baru sebelum mereka siap, terdapat lingkungan makro keempat yaitu sumber bahasa yang didengar pembelajar. Ada kemungkinan banyak model, contoh penutur (sebagai model yang potensial dan setiap mereka bisa berbicara denga menggunakan bahasa target (B2) tetapi setiap pembelajar tentu saja tidak memperlakukan mereka dalam cara yang sama. Perlu disadari bahwa meskipun banyak pajanan yang ditampilkan pembelajar tentu tidak seluruhnya belajar  dari pajanan yang mereka dapatkan itu. Hasil pembelajaran yang tidak diharapkan kemungkinan terjadi sebagai hasil perhatian mereka yang cukup selektif terhadap model pembicara yang berbeda-beda dan bukan hasil dari persoalan-persoalan pembelajaran yang mereka miliki.
(a)    Teman sebaya dan Guru
Ada banyak contoh yang dilakukan para peneliti pembelajaran bahasa Inggris perihal model pembicara yang lebih disukai pembelajar dari pada pembicara lainnya. Hal ini jelas berpengaruh pada kemampuan dan kualitas berbicara mereka. Ilustrasi  berikut memberi gambaran tentang bagaimana pembelajar lebih menyukai satu model pembicara dibandingkan dengan pembicara lainnya. Teman sebaya dan Guru terlibat dalam tindakan berbicara. Keduanya, baik guru maupun teman sebaya berbicara dengan menggunakan B2 (bahasa target).
Saat keduanya bericara dengan bahasa target, berdasarkan observasi, ternayata pembelajar bahasa target lebih menyukai teman sebayanya sebagai model. Penelitian Milon menampilkan seorang anak usia tujuh tahun yang berbicara menggunakan bahasa Jepang dan berpindah ke Hawai ia lebih suka menggunakan bahasa Inggris versi Hawai yang digunakan oleh anak-anak berusia tujuh tahun daripada menggunakan bahasa Ingggris standar yang dipakai gurunya selama tahun pertama dia bersekolah. Ketika kemudian anak itu berpindah ke lingkungan kelas menengah dia lebih mudah dan dengan cepat menggunakan bahasa Inggris standar yang digunakan oleh teman-temanya.
Dulay juga mencatat adanya temuan yang sama berkaitan dengan hasil studi B2 dalam program Imersi (penceburan) yang dilakukan di Kanada dan Amerika. Dalam program penceburan seperti ini satu-satunya yang berbicara B2 adalah guru. Tidak ada siswa yang berbicara menggunakan bahasa target. Mereka diceburkan saja. Satu-satunya sumber yang memberi pajanan adalah guru. Dalam program imersi ini semua pembelajar memperlajari ilmu dalam bahasa target. Mereka hanya bisa menggunakan bahasa pertama (B1) saat mereka berada di luar kelas.
Program Imersi ini sebenarnya mau menggambarkan bahwa kemampuan berbicara pembelajar bukanlah hasil perbaikan terhadap masalah yang dihadapi anak berkaitan dengan B2 sebagai bahasa target. Juga tidak memberikan gambaran tentang kualitas bahasa target yang digunakan guru di dalam kelas. Hasil dari program ini hanya mau memperlihatan tendensi atau kecenderungan pembelajar terhadap model  B2 atau bahasa targetyang lebih diminati.

(b)    Teman Sebaya dan Orangtua
Dalam pemebalajaran bahasa pertama ditemukan bahwa kalau karakteristik pembicaraan antara orangtua dan teman sebaya itu berbeda, anaka-anak cenderung mengikuti karakteristik pembicaraan teman sebayanya. Ada penelitian yang melaporkan bahwa anak-anak kulit hitam yang diteliti di Washington DC lebih suka menggunakan dialek teman sebayanya (dialek Inggris kulit hitam yang jauh berbeda dari dialek Inggris standar) daripada menggunakan dialek yang dipakai orang oragtua mereka. Kenyataan yang sama ditemukan bahwa baik anak kulit hitam maupun anak berkulit putih pada kelas menengah di daerah Timur Laut New Jersey lebih senang belajar mengucapkan r’s sebelum konsonan seperti kebiasaan temannya di Jerse daripada menghilangkan bunyi r’s itu seperti yang dilakukan orangtua  mereka yang dibesarkan di New York.  Penelitian ini mau menegaskan bahwa anak-anak belajar tentang tingkah laku berbahasa lebih banyak dari teman mereka daripada dari orangtua.
(c)    Kelompok sosial sendiri dan kelompok sosial lain
Selain tendensi umum, anak lebih menyukai teman sebaya daripada orang dewasa sebagai model dalam belajar bahasa, bebara anak juga mempunyai kencenderungan terhadap dialek atau bahasa yang digunakan oleh anggota kelompok  etnisnya sendiri. Salah satu penelitian yang dicatat Dulay mengungkapkan kenyataan bahwa anak-anak Maori lebih senang belajar dialek bahasa Inggris mereka sendiri daripada bahasa Inggris standar yang berlaku di Selandia Baru yang digunakan anak-anak. Dalam beberapa kasus tendensi ini secara sadar disampaikan guru. Seorang guru melaporkan bahwa seorang anak Maori berkata kepadanya seperti ini:” Orang Maori mengatakan ”Who’s your name?, jadi saya mengataka seperti itu.  Bahasa Inggris orang Maori sering dijadikan simbol penting bagi keanggotaan kelompok dan sumber keamanan bagi anak-anak ini.  Dalam hal ini, pembelajar dengan mudahnya mengatakan bahwa  dia ingin kedengaran  seperti etnik yang diasosikan pada drinya.
Dengan ini mau dikatakan bahwa pentingnya bahasa sebagai penanda identitas kelompok sosial yang lebih disukai jangan dan tidak boleh diremehkan di dalam kelas. Pelbagai kecenderungan seperti yang digambarkan di atas, secara signifikan akan berpengaruh terhadap kualitas bahasa yang dihasilkan.  Perbedaan karakteistik pembicaraan pembelajar yang dihasilkan berdasarkan pilihan model jelas bukan karena mereka kesulitan memepelajari B2 tetapi keanggotaan sosial yang disenangi. Di sini jelas implikasinya bahwa ketersediaan model penutur yang berbeda  menjadi kunci penentu kualitas bahasa yang dihasilkan pembelajar.

3.2 Lingkungan Bahasa Mikro
Faktor Lingkungan Mikro merupakan  karakteristik struktur bahasa yang lebih khusus atau spesifik yang didengar pembelajar. Mungkin orang bertanya seberapa sering pertanyaan Ya/Tidak  muncul dalam lingkungan pembelajar  atau apakah guru melakukan perbaikan ketika pembelajar melakukan kesalah terkait penggunaan kata yang membedakan jenis kelamin?
Tercatat ada tiga faktor mikro untuk lingkungan bahasa yang telah diteliti dengan sudut pandang pengaruhnya tehadap tingkat dan kualitas pemerolehan bahasa yaitu Salience, Feedback, dan Frequency. Salience merujuk pada sesuatu yang paling menonjol. Feedback  mengacu pada tanggapan pendengar atau pembaca terhadapa ucapan, dan atau tulisan pembelajar.  Frequency merujuk pada jumlah berapa kali pembelajar mendengar atau melihat sebuah struktur. Faktor lingkungan mikro tampaknya tidak terlalu berpengaruh terhadadap pembelajaran seperti yang diharapkan.
3.2.1 Yang Dipentingkan  yang Menonjol
Apa yang menonjol biasanya menarik perhatian. Hal yang menonjol biasanya mudah dilihat dan didengar. Kemenonjolan ini merujuk pada kemudahan suatu struktur dilihat atau didengar.  Sebagai contoh kebanyakan orang mengenal penggunaan artikel the dalam bahasa Inggris daripada  penggunaan bentuk lampau yang ditandai dengan penambahan –ed yang ditempatkan begitu saja pada akhir kata kerja.
Para psikolinguis mendefinisikan Salience dengan merujuk pada karakteristik tertentu yang kelihatanya membentuk sebuah artikel yang kelihatan dan kedengaran lebih menonjol dibandingan dengan hal lainnya. Karakteristik seperti ini bisa saja mencakup sejumlah unsur fonetik apakah artikel itu sebuah suku kata atau bukan. Apa yang paling menonjol didengar pembelajar  itulah yang lebih menarik mereka.  Sebaliknya apa yang belum pernah didengar tidak mungkin dipelajar.

3.2.2 Umpan Balik
Faktor lingkungan mikro yang kedua adalah umpan balik. Dalam penelitian yang berkaitan dengan pemerolehan bahasa Feetback umumnya merujuk pada tanggapan pendengar dan penutur yang diberikan atas ucapan atau atas tulisan pembelajar. Jenis umpan balik itu berupa pembetulan, persetujuan, atau umpan balik positif.  Cara lainnya adalah memperluas atau memodifikasi ucapan pembelajar tanpa sadar memberikan perhatian pada modifikasi itu. Respon seperti ini dikenal sebagai ekspansi.
(a)    Koreksi
Penelitian menghasilkan pandangan yang kurang positif terhadap pengaruh koreksi pada kesalahan pembelajar. Guru yang berpengalaman telah mengetahui cukup lama bahwa mengoreksi ucapan dan penguasaan grammar siswa mengatakan mereka menginginkan koreksi dan guru menyiapkan koreksi sebanyak yang mereka bisa, nyatanya baik pada guru maupun siswa kesalahan sering tidak terpengaruh oleh koreksi. Pada sebuah studi yang dirancang untuk menentukan pengaruh koreksi kesalahan yang berbeda pada karangan siswa dewasa ditemukan bahwa baik koreksi terhadap semua kesalahan maupun koreksi terhadap kesalahan secara selektif tidak membuat perbedaan yang berarti untuk kemahiran siswa dalam hal menulis
(b)    Ekspansi
Ekspansi melibatkan model yang sistmatis apakah versi yang benar atau yang lebih lengkap dari ucapan anak tanpa mengusik perhatian anak pada aktivitas itu. Pengaruh ekspansi pada perkembangan ucapan anak telah diuji sejauh ini pada pemerolehan bahasa pertama. Misalnya, jika seorang anak mengatakan Mommy eggnog orangtuanya mungkin mengatakan dalam meresponnya Mommy had her eggnog.
Pengaruh ekspansi pada pembelajaran bahasa Inggris tidak seleuruhnya jelas.  Hipotesis penelitian mengatakan bahwa model yang sistematis dari koreksi yang benar secara gramatikal dari ucapan anak-anak bisa menjadi kekuatan utama dalam kemajuan pemerolehan ternyata ditolak. Penelitian iani menemukan bahwa ekspansi yang diberikan satu jam per hari selama periode tiga bulan hampir tidak ada pengaruhnya pada ucapan anak-anak ang ditelitinya. Namun demikian penelitian yang lebih kemudian menemukan bahwa anak-anak yang secara sistematis disiapkan ekspansi kalimat selama 13 minggu agak lebih maju secara linguistik dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan atau treatmen. Oleh karena itu, pengaruh yang  pasti dari ekspansi pada perkembangan bahasa anak masih belum jelas.

3.2.3 Frekuensi
Dalam penelitian berkaiatan dengan masalah pemerolehan bahasa Frekuensi kemunculan sebuah struktur merujuk pada berapa kali pembelajar mendengar sebuah struktur yang diberikan. Seorang misalnya bisa menghitung berapa kali w-h questins muncul dalam ucapan seorang ibu pada anaknya pada suatu situasi yang bisa mempresentasikan apa yang didengar anak secara keselruhan. Hitungan itu bisa dianggap frekuensi dari w-h questions di lingkungan bahasa anak.
Umumnya diasumsikan bahwa semakain banyak pembelajar mendengar struktur tertentu, semakin cepat struktur itu diperolehnya. Walaupun sebuah penelitian mendukung keyakinan ini, penelitian lain ternyata tidak. Dalam sebuah penelitian yang berlangsung selama empat tahun terhadap tiga anak yang tidak dikenal yang belajar bahasa Inggris sebagai bahasa pertama ditemukan bahwa anak-anak semua belajar 14 struktur grammar dengan urutan tertentu.  Peneliti kemudian melihat frekuensi digunakannya struktur itu oleh orangtua anaka-anak itu selama percakapan antara anak dengan orangtua. Peneliti beranggapan bahwa frekuesi munculnya struktur itu berhubungan dengan urutan yang mereka pelajari. Kenyataan justru terbalik, ditemukan bahwa struktur yang mereka pelajari lebih awal tidak merupakan struktur yang digunakan paling sering oleh orangtua mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara frekuensi orangtua mengucapkan sebuah struktur dengan urutan pemerolehan bahasa pada anak.
4. Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa di Sekolah
Sungguh disadari, Lingkungan bahasa  menurut  Dulay,  et  all.  (1982)    merupakan   salah   satu   komponen   penting   karena secara   signifikan berperan  meningkatkan  motivasi  dan  penguasaan belajar  B2.  Pertanyaan  yang  perlu dikemukakan  adalah  siapakah  yang  bertanggungjawab untuk  menciptakan  dan  mengembangkan  lingkungan B2.  Dulay,  et  all.  (1982) menegaskan  bahwa  tanggungjawab  penciptaan  lingkungan  bahasa untuk B2   di  kelas  adalah  guru  bahasa.  Mengajarkan  B2  atau  bahasa  asing berarti menciptakan sebagian atau seluruh lingkungan bahasa sasaran bagi siswa.
Dalam  implementasinya  di  sekolah,  bentuk  lingkungan  yang dapat dikembangkan dapat berupa lingkungan verbal dan visual. Lingkungan B2 dalam  bentuk  verbal  dapat  dikembangkan  melalui  aktivitas  komunikasi  lisan  di  kelas maupun di luar kelas misalnya tegur sapa antarteman dengan menggunakan B2, penyampaian  pegumuman  secara  lisan dengan B2,  lomba  pidato  B2, debat  B2,  atau  aktivitas-aktivitas  lain  yang memberikan  kesempatan  kepada siswa   menggunakan B2 secara kreatif  sebagai   alat   komunikasi   lisan.   Sementara   itu, pengembangan     lingkungan     dalam     bentuk     visual     dapat     dilakukan     Majalah dinding ber-B2, pengumman tertulis ber-B2; slogan-slogan ber-B2; Petunjuk-petunjuk tertulis ber-B2.
Untuk  meningkatkan  motivasi  belajar  B2,  aktivitas  pemerolehan B2 itu   hendaknya   diciptakan   sedemikan   rupa.   Dalam   implementasinya,   guru diharapkan  membiasakan  penggunaan  B2  di  kelas  maupun  di  luar  kelas  secara proporsional,  bertahap,  dan  fungsional.  Selain  itu,  guru  juga  membelajarkan  siswa  untuk membiasakan    penggunaan B2  sebagai    alat    komunikasi,    bukan    hanya membelajarkan  aturan-aturan kaidah B2 atau pengetahuan tentang B2 secara  analitis  yang  rumit,  membosankan,  dan  membebani  siswa.  Beberapa  lembaga pendidikan yang menekankan pembiasaan penggunaan bahasa B2 membuktikan bahwa pembelajaran melalui pemerolehan menunjukkan hasil yang maksimal.
Allwright seperti dikutip Ellis (1994: 565) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan “the fundamental fact of classroom pedagogy” karrena karena di dalam kelas terjadi interksi langsung antara manusia yang berada di dalam kelas, yaitu komunikasi langsung antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru. Hal ini, menyatakan bahwa interaksi dalam proses belajar di kelas khususnya proses pembelajaran bahasa kedua (B2) sangatlah penting.
Steinberg (1993)[9] menyebutkan karakteristik lingkungan pembelajaran bahasa di kelas ada lima segi yaitu (1) Lingkungan pembelajaran bahasa dikelas sangat diwarnai oleh faktor psikologi sosial kelas yang meliputi penyesuaian-penyusaian, disiplin, dan prosedur yang digunakan (2) Di lingkungan kelas dilakukan praseleksi terhadap data linguistik, yang dilakukan guru berdasarkan kurikulum yang digunakan (3) Di lingkungan sekolah disajikan kaidah-kaidah gramatikal secara eksplisit untuk meningkatkan kualitas berbahasa siswa yang tidak dijumpai di lingkungan alamiah (4) Di lingkungan kelas sering disajikan data dan situasi bahasa yang artifisial (buatan), tidak seperti dalam lingkungan kebahasaan alamiah (5) Di lingkungan kelas disediakan alat-alat peraga seperti buku teks, buku penunjang, papan tulis, tugas-tugas yang harus diselasaikan,dan sebagainya.

BUKU RUJUKAN
Dulay, Heidi, dkk..  1982.  Language  Two.  New  York:  OxfordUnivesitiy Press.
Ellis, Rod. 1986. Understanding Second Language Acquisition. Oxford: Oxford University Press.
Kaswanti,  Bambang Purwo 1984. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, Yogyakarta: Kanisius.
Insup, Taylor,. 1990. Psycholinguistiks: Learning and  Using  Language. Englewood Cliffts: Prentice-Hall.Inc.
Steinberg, D. Denny. 1993. An Introduction to Psycholinguistic, Longman: London & New York.
Willis,  Jane, 1996.  A Framework  for Task-Based  Learning. England: Longman.





[1] Insup Taylor, Psycholinguistiks:    Learning    and    Using    Language. Englewood Cliffts: Prentice-Hall.Inc. 1990, hal.230.
[2] Heidi Dulay, Marina Burt dan Stephen Krashen, Language Two, New York: Oxford University Press, 1982 hal.13.
[3] Ibid.
[4] Rod Ellis, Understanding Second Langguage Acquisition, New York: Oxford University Press, 1986, hal..215-218

[5] Dulay, Burth, dan Krashen, Op.Cit.16
[6] Jane , Willis,  A Framework  for Task-Based  Learning. England: Longman,.1996.


[7] Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, Yogyakarta: Kanisius 1984 hal.85.
[8] Dulay, Op.,Cit., 26.
[9] Denny D Steinberg, An Introduction to Psycholinguistic, Longman: London & New Yorki, 1993

Tidak ada komentar:

Posting Komentar