Jumat, 12 Juni 2015

Cerpen Gelap, Gelap Sekali



Gelap, Gelap Sekali


Gelap di luar dan hening di dalam. Dengus napas istriku teratur. Lampu tempel sudah kumatikan. Hanya dingin malam yang menyeruak dari celah dinding bambu membuat aku menarik selimut melewati dada. Sesekali suara burung malam terdengar di kejauhan. Barangkali burung hantu yang mencari mangsa, berpindah-pindah dari satu arah ke arah lain. Tanah huma di pinggir hutan mungkin mengubah kawasan hunian binatang sekitar.
Aku sulit memejamkan mata karena nyamuk kecil yang sering mendengung dengan bunyi yang nyaring, sesekali nyamuk itu menerkam kuping. Malam semakin larut ketika merasakan ada sesuatu yang mengusik gelapnya malam. Beberapa rumah panggung terdapat di desa yang baru kami bangun, sekitar setahun yang lalu, tanah garapan baru. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya kira-kira lima puluh meter. Gemerisik sesuatu antara belukar semakin mengganggu ketika terdengar ketukan di rumah tetangga. Derap kaki bersepatu berat semakin jelas terdengar disusul dengan gedoran. Ada teriakan kasar. Aku mengintip dari celah dinding, tetapi tidak ada sesuatu yang tampak. Gelap malam memeluk rahasia malam. Teriakan terdengar ketika langkah kaki itu agak menjauh. Ada pukulan yang keras membuat teriakan lenyap. Sunyi malam mendekap.
Kugoyang-goyang tubuh istriku sambil berbisik, ”Kau dengar suara-suara ribut itu?”
Ia membuka matanya dan menggosok kelopak matanya, lalu menjawab, ”Sayup-sayup. Seolah-olah ada sesuatu yang terjadi.”
”Apa, ya?” kataku seolah-olah berkata kepada diri sendiri.
Beberapa menit kami tenggelam dalam hening.
Sepanjang malam kami tidak dapat tidur, tak juga berani berbicara atau menduga-duga apa yang terjadi. Rasanya malam merangkak amat lama.
Subuh, ada tangisan dari arah tetangga sebelah.
Ketika ayam berkokok, aku memberanikan diri turun tangga rumah, dan bergegas ke rumah sebelah.
Beberapa orang tetangga lain sudah ada di situ. Aku bergabung dengan mereka.
”Ada apa?” kataku.
Seorang kepala dusun yang kami angkat sendiri malah balik bertanya, ”Tidakkah Saudara dengar peristiwa tadi dalam?”
”Ya, kudengar langkah kaki, gedoran dan orang berteriak karena dipukul. Aku tidak berani keluar. Sepanjang malam aku dilanda rasa takut,” kataku.
Tarmin, kepala dusun itu, kemudian berkata, ”Suami ibu ini tadi malam diculik orang, juga Turman yang tinggal di ujung dusun.”
”Oleh siapa?” tanyaku.
”Belum tahu.”
Tangis ibu Saleh tak henti- henti.
Kepala dusun pagi sekali menghubungi ketiga belas keluarga yang tinggal di perhumaan itu. Kami berkumpul di rumahnya. Yang hadir hanya sebelas kepala keluarga. Dua orang yang hilang pada malam itu. Saleh dan Turman. Saleh si pendiam namun mudah menolong orang. Turman si pemberani yang mendorong kami memulai menggarap tanah di pinggir hutan itu. Menurut kami, kedua orang itu adalah teladan dalam segala hal.
Kurang lebih setahun sebelumnya, kami membuka ladang baru, tanah huma. Jauh dari kampung halaman kami. Jarak kampung halaman kami lebih seratus kilometer, dan untuk sementara kami meninggalkan anak-anak bersama kakek-nenek di tanah leluhur yang sudah sesak penduduk.
Sebagai ladang baru, hasilnya lumayan. Tanah huma membuat tanaman subur, pada panen pertama tentunya. Kami memasuki tahun kedua dalam suasana dusun yang tenang. Rasa persahabatan dan kekeluargaan lebih menonjol daripada sikap bersaing. Kami mengalami nasib yang sama di tanah leluhur yang semakin sempit karena pertambahan penduduk. Rasa persaudaraan yang tinggi terbentuk karena penderitaan yang sama, dan memiliki harapan yang sama. Mengubah nasib. Walaupun di ladang yang sangat bergantung kepada kemurahan alam, hujan.
Pertemuan hari itu sarat dengan usul cara menjaga keamanan dusun.
”Tapi penculikan ini, melihat dari jejak kaki,” kata Sahir, ”rasanya adalah jejak kaki orang bersenjata api.”
Yang lain-lain terdiam.
”Jangan-jangan ketika kita jaga malam, justru dengan lebih mudah diculik satu demi satu,” katanya melanjutkan.
Seminggu kemudian, dalam kantuk yang penat, menjelang subuh aku tertidur lelap. Baru saja beberapa menit terlelap, aku mendengar pintu digedor dan tiba-tiba menganga karena didobrak dari luar. Dalam sekejap beberapa sosok tubuh merangsek ke dalam membuat istriku tiba- tiba menjerit. Tamparan di mukanya membuatnya terhuyung dan diam dalam jerembab. Beberapa tangan yang kokoh menarik kedua tangan dan kakiku. Aku diseret dalam kegelapan malam. Mereka menggelandang tubuhku dan mengikat kedua tanganku ke belakang. Mulutku dibekap dengan sepotong kain. Dalam gigitan malam yang dingin menyengat, mereka melemparkan tubuhku ke dalam sebuah truk yang menunggu di tepi jalan. Aku merintih kesakitan. Kutahu ada orang lain di dalam truk itu karena kaki mereka bersentuhan dengan kakiku.
Sebelum kabut meninggalkan malam, truk berhenti di sebuah tempat. Kudengar suara-suara orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku diturunkan dari truk bersama sembilan orang lainnya yang tampaknya senasib denganku. Tidak seorang pun dari antara mereka yang kukenal.
Kami digiring ke sebuah rumah gedung tua yang tampak kokoh dari luar. Ada penjaga bersenjata di segala sudut. Di sebuah ruangan satu demi satu kami diempaskan ke lantai. Ikatan tangan kami dilepaskan satu demi satu. Nyeri rasa luka di bekas ikatan itu. Menjelang siang seorang berwajah garang duduk di belakang meja reyot, dan kami duduk di kursi rotan di hadapannya. Satu demi satu kami ditanyai: nama, keluarga, alamat, asal-usul, pekerjaan, sejak kapan masuk organisasi politik, siapa pemimpinnya, dan macam-macam jenis pertanyaan yang aku sendiri tidak mengerti.
Sore itu perut diisi dengan beberapa potong ubi rebus. Tengah malam, ketika perut masih keroncongan, namaku dipanggil dari kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni dua belas orang. Aku berdiri dan menuju ke sebuah ruangan. Dari ruangan lain kudengar jeritan orang dipukul. Aku duduk dan tidak dapat menjawab pertanyaan interogator itu. Lalu ia tuduh aku masuk gerakan tutup mulut (GTM). Ia lalu berdiri di belakangku dan memegang dagu dan kepalaku, mencoba memutar leherku. ”Jawab! Atau kupatahkan lehermu!”
Aku diam saja. Kemudian ia melepaskan kedua tangannya, tapi menohok punggungku membuat aku jatuh pingsan. Ketika aku tersadar, aku sudah berada di tengah-tengah kawan seselku. Mereka mengoles punggungku dengan minyak kelapa. Aku belum mampu memusatkan pikiran untuk mendengar apa yang dikatakan mereka. Jamahan tangan mereka sedikit melegakan rasa sakitku.
Sebulan kemudian aku mendengar secara sembunyi-sembunyi dari sesama tahanan bahwa hampir semua lelaki di dusunku sudah ”diangkat” dan kaum perempuan melarikan diri ke orang tua mereka masing-masing. Beberapa kawan seselku ”pergi” dan tidak pernah kembali, diganti dengan tahanan baru, sampai pada akhirnya aku sendiri pun dipanggil bersama beberapa orang yang dahulu ditangkap bersamaku.
Menurut pengawal yang melemparkan kami ke dalam truk, kami akan dipindahkan ke tempat yang lebih nyaman, tenteram, pembebasan. Karena ia mengatakannya dengan senyuman dengan mata mengejek, yakinlah aku bahwa inilah hari akhir dalam kehidupanku. Wajah anak- anakku, istriku, melintas silih berganti di benakku. Tubuh-tubuh yang kurus bagai paku tipis yang karatan mungkinkah dibebaskan ke tempat yang nyaman dan tenteram? Aku tidak tahu dosa apa yang membuat aku harus mengalami derita seperti ini. Sampai bulan-bulan terakhir aku hendak di-”bebaskan” tidak ada pengakuan apa pun yang keluar dari mulutku. Pernah aku berpapasan dengan seorang interogator yang rasanya pernah kukenal dan memalingkan wajah daripadaku ketika sekilas bertatap mata. Diakah biang keladi dari derita lelaki dari dusunku? Ah, tidak berani aku berburuk sangka. Semua orang ingin mencari selamat sendiri.
Bayangan dalam benakku, anak-anak akan telantar, istriku dalam kesetiaannya harus banting tulang memberi makan mereka. Dan cap dalam keluarga, mereka termasuk turunan yang dianggap kutuk bagi bangsa ini.
Tiba-tiba hatiku menjerit. ”Tuhan, lindungilah mereka!”
Tendangan di pantatku menyadarkan aku. ”Ayo, naik! Naik! Naik!”
Truk menggelegar memecah kegelapan malam. Kami benar- benar menjadi warga kegelapan. Gelap dalam sel. Gelap dalam pertanyaan yang tak kunjung berjawab. Semuanya gelap gulita!
Berjam-jam kami yang ada di dalam truk diam dalam bahasa hati kami sendiri. Bahasa batin dengan kisah gelap. Karena telah terbiasa di dalam kegelapan malam dan siang, aku dapat menyaksikan celah antara kegelapan dan remang-remang malam. Truk berhenti di mulut sebuah jembatan yang besar dan panjang. Kami semua diturunkan dan berjalan satu demi satu menuju tengah jembatan, di sisi jembatan bagian tengah yang rusak penahannya.
Aku berjalan di barisan paling akhir dari lima belas orang. Orang yang berada di barisan depan disuruh berhenti di pinggir jembatan. Tiba-tiba sekelebat pedang yang terayun menebas lehernya. Ada lengkingan dan bunyi kepala ya berdebuk ke dalam sungai yang mengalir deras disusul gedebuk tubuh yang terempas ke dalam air. Selang beberapa menit suara yang sama bergenta, sampai giliranku pun tiba. Dalam kepergian malam, dalam sunyi air yang mengalir, dalam remang gelap, aku menyaksikan pedang yang berayun semakin melemah. Aku berdiri dan melihat pedang yang dientakkan. Dalam detik yang sama aku membungkuk dan terjun ke dalam sungai. Ikatan tangan yang telah kukendurkan dan ikatan tali di kaki yang merenggang membuat aku menyelam lebih mudah bergerak dalam kedalaman dan arus sungai. Beberapa menit kemudian aku muncul ke permukaan sementara arus terus membawa aku hanyut. Di dalam alun arus, aku semakin menepi sampai aku mampu berpijak di dasar sungai dan berjalan sambil merangkak menyusuri batu-batu.
Kulepaskan ikatan tangan dengan susah-payah, kemudian tali dari kaki. Air yang dingin menambah perihnya goresan tali. Aku merangkak ke tepi sungai dan mencoba mendengarkan langkah kaki. Tidak ada. Di kejauhan ada deru kendaraan yang semakin lama semakin hilang.
Berjam-jam aku berjalan dalam keremangan gelap malam, menyusuri tepi sungai dengan keyakinan bahwa lambat atau cepat pasti di sekitar alur sungai ada kampung terpencil. Dengan pakaian yang basah-kuyup dan langkah yang goyah, aku berjalan sejauh-jauh jarak yang dapat kutempuh.
Matahari mulai muncul di celah gunung. Aku tidak tahu di daerah mana aku berada. Di tepi sungai ada pisang yang sedang berbuah, merunduk rendah. Buah yang matang tapi ketika kukunyah, banyak batunya. Pisang monyet. Aku menduga, bila monyet pun bisa makan buah pisang monyet, pastilah manusia pun bisa. Tidak jauh dari sana ada durian belanda. Aku memanjatnya, dan mengambil buah yang ranum. Aku berterima kasih kepada Tuhan bahwa bumi ini kaya dengan kemurahan-Nya. Kukeringkan pakaianku di atas batu dan mereguk air dari pinggir sungai, yang tergenang dan bening. Ada mata air di situ. Setelah kekuatanku pulih, aku berjalan dan berjalan, menyongsong matahari yang terbit.
Di kaki gunung, tepatnya sebuah lembah yang landai, aku menemukan sebuah gubuk. Kukira gubuk itu milik pemilik ladang di situ. Kuketuk pintunya. Seorang lelaki tua dan ibu yang sudah berumur membuka pintu. Dari wajah mereka kulihat rasa terkejut. Aku memperkenalkan diri dan memberitahukan tentang diriku yang sebenarnya, dan pelarianku. Kedua orang tua itu mengangguk-angguk mengerti. Mereka mempersilakan aku sarapan pagi dengan pisang rebus.
Rasanya aku berminggu- minggu bersama mereka. Aku membantunya di ladang karena aku jauh lebih muda dari mereka. Akan tetapi, aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Setelah tubuhku pulih betul aku pamit dan mendaki gunung menuju ke tanah seberang. Kata orang tua itu, di seberang ada laut.
Bertahun-tahun aku menjadi kuli pelabuhan atau ikut nelayan pada malam hari. Siang hari aku tidur dan malam melaut bersama nelayan, atau kalau musim ombak, menjadi kuli pelabuhan bagi tongkang dan kapal yang merapat malam. Sesekali aku mencari tahu keberadaan istriku dari orang yang sebahasa denganku. Setelah berbulan-bulan, aku mendapat informasi mengenai alamat mereka, dan mengirimkan upah yang kuperoleh. Kiriman berikutnya tidak dapat kulakukan karena pada suatu hari aku berpapasan dengan seorang bekas interogatorku. Ia terkejut melihatku. Aku pun terkejut melihatnya. Aku cepat-cepat menghilang. Pergi ke laut, masuk tongkang yang hendak berlayar berbulan-bulan di laut, menjual ikan ke seberang.
Malam-malam berbintang, aku menghitungnya. Hari-hari pelarianku yang tidak kutahu kapan akan berakhir.
Sepuluh tahun? Dari beberapa pelabuhan, kukirim upahku, kepada anak-anakku. Tanpa alamat, karena aku bersama bintang di laut dengan pelaut yang tidak peduli pusaran politik. Mereka hanya peduli pusaran arus laut.
Alam keras membuat mereka hidup. Dan di sanalah aku merajut nasibku juga.
Sampai berpuluh tahun kemudian, iklim politik pun berubah, sekalipun laut tetap bergelora! Laut mengajariku untuk tabah. Bandung, 21 Agustus 2009

 

Cerpen Pemetik Air Mata



Pemetik Air Mata


Mereka hanya muncul malam hari. Peri-peri pemetik air mata. Selalu datang berombongan— kadang lebih dari dua puluh—seperti arak-arakan capung, menjinjing cawan mungil keemasan, yang melekuk dan mengulin di bagian ujungnya. Ke dalam cawan mungil itulah mereka tampung air mata yang mereka petik. Cawan itu tak lebih besar dari biji kenari, tapi bisa untuk menampung seluruh air mata kesedihan di dunia ini. Saat ada yang menangis malam-malam, peri-peri itu akan berkitaran mendekati, menunggu air mata itu menggelantung di pelupuk, kemudian pelan-pelan memetiknya. Bila sebulir air mata bergulir jatuh, mereka akan buru-buru menadahkan cawan itu. Begitu tersentuh jari-jari mereka yang ajaib, setiap butir air mata akan menjelma kristal.
Mereka tinggal di ceruk gua-gua purba. Ke sanalah butir-butir air mata yang dipetik itu dibawa. Di selisir ulir batu alir, di antara galur batu kapur berselubung tirai marmer bening yang licin dan basah, di jejulur akar-akar kalsit yang bercecabang di langit-langit stalagtit, peri-peri itu membangun sarang. Butir-butir air mata itu ditata menjadi sarang mereka, serupa istana-istana kecil yang saling terhubung jembatan gantung yang juga terbuat dari untaian air mata. Di langit-langit gua itu pula butir-butir air mata itu dironce terjuntai menyerupai jutaan lampu kristal yang berkilauan.
Seorang pencuri sarang walet menemukan tempat peri-peri pemetik air mata itu tak sengaja. Setelah berhari-hari menyelusup celah gua, ia merasakan kelembaban udara yang tak biasa, hawa yang membuat kuduknya meriap, dan menyadari dirinya telah tersesat dan tak akan lagi melihat dunia karena setiap kali bersikeras mencari jalan keluar ia justru merasa semakin mendekati kematian. Kesepian gua itu begitu hitam dan mengerikan. Bahkan kelelawar, ular dan lintah pun seperti memilih menjahuinya. Sayup jeritan dan gema kelepak ribuan walet seperti berada di dunia yang berbeda. Semua suara seperti lesap—bahkan ia tak mendengar suara napasnya sendiri—dan ia merasakan betapa udara tipis dan bau memualkan yang bukan berasal dari tumpukan kotoran kelelawar atau lumpur belerang membuatnya limbung dan perlahan-lahan seperti mulai mengapung.
Saat kesadarannya seperti terisap, lamat-lamat didengarnya tangisan yang begitu gaib, menggema dari palung gua. Sampai kemudian ia menyadari betapa tangisan itu berasal dari butir-butir kristal bening yang menempel dan bergelantungan nyaris memenuhi seluruh langit-langit stalagtit di mana ribuan peri mungil tampak beterbangan lalu lalang. Pada saat-saat tertentu butir-butir kristal air mata itu memang memperdengarkan kembali kesedihan yang masih tersimpan di dalamnya. Tak ada yang bisa menghapus kesedihan bukan, bahkan ketika kesedihan itu telah menjelma kristal? Di lambung gua itu bergaung jutaan tangisan yang terdengar bagaikan simfoni kesedihan yang agung.
Ketika akhirnya lelaki pencuri sarang walet itu meninggalkan jazirah peri dan menemukan jalan pulang, ia membawa sekarung kristal air mata yang kemudian dijualnya eceran. Kristal-kristal air mata itulah yang kini banyak dijajakan di pinggiran dan perempatan jalan.
***
Sandra tak percaya cerita itu. Meski ia sering melihat para pengasong menjajakan kristal air mata itu. Sering mereka mengetuk-ngetuk kaca mobilnya, setengah memaksa.
”Air mata, Bu? Murah… Seribu tiga, Bu… Seribu tiga…”
Dulu, semasa kanak, setiap kali melihat Mamanya diam-diam menangis, Sandra selalu berharap peri-peri pemetik air mata itu muncul. Mamanya memang sering menangis terisak malam-malam. Ia pun selalu menangis bila melihat Mamanya menangis. Tapi Sandra berusaha menahan tangisnya karena Mamanya pasti akan langsung membentak bila tahu ia menangis. ”Jangan cengeng anak setan!” Kadang teriakan itu disertai lembaran kaleng bir yang segera bergemerontangan di lantai yang penuh puntung dan debu rokok. Rumahnya memang selalu berantakan. Selalu ada pakaian dalam Mamanya yang berceceran begitu saja di lantai. Tumpahan bir di meja, bercak-bercak sisa muntahan di pojokan, botol-botol minuman yang menggelinding ke mana-mana. Kasur yang selalu melorot seprainya. Bantal- bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus- menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
Suara Mama memang nyaris selalu membentak. Pernah sekali Sastra bertanya soal Papanya, tetapi ia langsung disemprot mulutnya yang berbau alkohol, ”Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!” Meski begitu Sandra tahu kalau sesungguhnya perempuan itu menyayanginya. Bila pulang setelah pergi berhari-hari—Mamanya memang selalu pergi berhari-hari keluar kota atau entah ke mana, kadang mendadak pergi terburu-buru begitu saja malam-malam setelah menerima pager—selalu ada oleh-oleh menyenangkan untuk Sandra. Sering boneka. Tapi Sandra lebih senang bila ia dioleh-olehi buku cerita.
Sering, bila hari Minggu, Mamanya juga mengajaknya jalan-jalan. Membelikannya baju, mengajak makan kentang goreng atau ayam goreng. Saat Sandra menikmati es krim, perempuan itu tampak selalu menatap dengan mata penuh cinta. Tanpa sadar ia akan bergumam, ”Sandra, Sandra….” Sambil membersihkan mulut Sandra yang belepotan.
Tapi saat-saat paling menyenangkan bagi Sandra adalah saat perempuan itu membacakannya cerita dari buku berbahasa Inggris dengan gambar-gambar berwarna. Kadang tanpa sadar di tengah-tengah cerita yang dibacakannya, air mata Mamanya menetes.
”Kenapa Mama menangis?”
”Tidak, Sandra… Mama tidak menangis.”
”Kenapa manusia bisa menangis, Mama?”
”Karena manusia diciptakan dari kesedihan.”
”Kenapa mesti ada kesedihan, Mama?”
”Diamlah. Jangan cerewet. Atau Mama hentikan bacanya!”
Lalu Mama kembali membacakan cerita tentang peri-peri pemetik air mata.
Pada mulanya adalah sebutir air mata. Saat itu Tuhan begitu sedih dan kesepian, hingga meneteskan sebutir air mata. Dari sebutir air mata sejernih putih telur itulah tercipta semesta, hamparan kabut, langit lakmus yang belum dihuni bintang-bintang, makhluk-makhluk gaib, pepohonan dan sungai-sungai madu. Kemudian, pada hari ke tujuh, barulah terbit cahaya. Dari sebutir air mata itu pula muncul sepasang manusia pertama. Karena tahu manusia akan mengenal kesedihan, maka sebelum menciptakan maut, Tuhan menciptakan lebih dulu peri-peri pemetik buah kesedihan. Saat itu memang ada tumbuh Pohon Kesedihan, yang buah-buah bening segarnya selalu bercucuran dari ranting-rantingnya. Setiap kali datang musim semi, peri-peri itulah yang selalu memetiki buah-buah kesedihan yang telah ranum, yang membuat manusia tergoda menikmatinya.
Saat manusia sedih karena harus pergi dari surga, peri-peri pemetik air mata turun menyertai. Maka, sejak saat itu, bila ada manusia menangis malam-malam, peri-peri itu akan muncul dan memetik air matanya yang bercucuran.
Setiap kali mendapati Mamanya menangis, Sandra pun berharap peri-peri pemetik air mata itu muncul. Ia tahu peri-peri itu bisa menghapus kesedihan dari mata Mamanya. Tapi Sandra tak pernah melihat peri itu muncul, dan Mamanya terus terisak menahan tangis, sembari kadang-kadang memeluk dan dengan lembut menciumi Sandra yang pura-pura tertidur pulas. Setiap malam Sandra memang selalu pura-pura bisa tertidur lelap, terutama bila ada laki-laki entah siapa datang ke rumahnya. Sandra tak pernah lupa ketika suatu malam Mamanya pelan-pelan memindahkannya ke kolong ranjang dan mengira ia sudah tertidur, padahal ia bisa mendengar suara lenguh Mamanya dan laki-laki itu di atas ranjang. Juga suara dengus sebal Mamanya ketika akhirnya laki-laki itu mendengkur keras sekali. Di kolong ranjang Sandra terisak pelan, ”Mama… Mama….” Pipinya basah air mata.
Bahkan saat itu peri-peri pemetik air mata yang diharapkannya tak pernah muncul. Itulah sebabnya ia tak percaya.
***
Tapi Bita, anak semata wayangnya, punya beberapa butir kristal air mata itu. Dia membelinya dari seorang pedagang mainan di sekolahnya. Cerita tentang pencuri sarang walet yang menemukan koloni peri itu pun didengarnya dari Bita. Kata anaknya yang berumur 10 tahun itu, cerita itu dia dengar langsung dari penjual kristal air mata itu.
”Itu bohong, sayang…”
”Kenapa penjual itu mesti bohong, Mama? Ini memang air mata beneran, kok. Cobalah Mama dengerin, kadang-kadang ia mengeluarkan tangisan.” Lalu Bita berceloteh riang, kalau kawan-kawan sekolahnya juga banyak yang membeli butir-butir kristal air mata itu untuk dikoleksi. ”Semua anak laki-laki di sekolah sekarang enggak suka lagi adu jangkrik. Saat istirahat, mereka lebih suka mengadu kristal-kristal air mata miliknya. Kristal air mata yang mengeluarkan tangisan paling panjang dan paling menyedihkan yang menang.”
Bita menyimpan koleksi kristal air matanya di kotak kecil, dan selalu menaruhnya di sisi bantal tidurnya. Kadang Bita terbangun ketika didengarnya kristal-kristal air mata itu mengeluarkan tangisan. ”Bita senang mendengar tangisan mereka yang merdu, Mama,” katanya. ”Apa Mama juga suka menangis kalau malam?”
Tidak, tidak—tapi Sandra tak mengucapkannya.
”Apakah kalau Bita menangis, peri-peri itu juga akan muncul, Mama?”
Sandra mencoba tersenyum.
”“Sekarang tidurlah,” Sandra berusaha menghentikan percakapan, kemudian dengan lembut menyelimuti dan mencium keningnya. Baru saja beranjak hendak keluar kamar, terdengar suara Bita,
”Apa besok Papa jadi ngajak Bita jalan-jalan?”
Sandra tersenyum. ”Nanti Mama tanyakan Papamu, ya. Kamu kan tahu, Papamu sibuk.…”
Lalu mematikan lampu.
***
Suaminya tengah berbaring di ranjang ketika Sandra masuk. Senyumnya masih tetap memikat seperti saat pertama kali Sandra melihatnya, ketika suatu malam ia menyanyi di sebuah kafe. Senyum yang membuatnya jatuh cinta. Ia bukannya tak berdaya oleh senyum itu. Namun senyum itu sejak mula memang telah membuatnya percaya, bahwa ia akan menemukan hidup yang lebih baik. Sandra memang tak ingin nasibnya berakhir celaka seperti Mamanya: digeroti penyakit kelamin saat tua dan ditemukan mati tergorok di losmen murahan.
Tidak. Tidak. Sandra tidak ingin seperti Mamanya. Bahkan Sandra tahu kalau Mamanya tak pernah menginginkan ia menjadi seperti Mamanya. Sandra selalu ingat, dulu, di saat-saat Mamanya begitu tampak mencintainya, perempuan itu selalu mendekapnya erat-erat sembari sesekali berbisik terisak, ”Berjanjilah pada Mama, kamu akan menjadi wanita baik-baik, Sandra.”
”Seperti Mama?”
”Tidak. Kamu jangan seperti Mama, Sandra. Jangan seperti Mama….”
Sandra merasa hidupnya jauh lebih beruntung dari hidup Mamanya karena punya suami yang mencukupi hidupnya. Bagaimana pun suaminya memang laki-laki penuh perhatian yang pernah dikenalnya. Setidaknya dibanding puluhan laki-laki yang hanya iseng terhadapnya.
Berbaring di ranjang, hanya dengan selimut di bawah pinggang, suaminya terlihat segar. Hmm, pasti habis mandi air hangat, batin Sandra. Itu berarti laki-laki itu memang menginginkannya malam ini. Sandra segera meredupkan lampu, membuka gaunnya, dan bersijengkat naik ke ranjang. Bau harum tubuh laki-laki itu merangsanya untuk menciuminya. Ia hafal dengan denyut otot laki-laki itu yang perlahan meregang. Sandra ingin selalu membuat laki-laki itu betah bersamanya.
”Kamu menyenangkan sekali malam ini,” desah laki-laki itu tersengal, setelah lenguh panjang dan berbaring lemas memeluk Sandra.
”Makanya kamu nginep saja malam ini. Biar besok sekalian ngajak Bita jalan-jalan.”
Ketika laki-laki itu hanya diam, Sandra tahu kalau ia telah meminta yang tak mungkin laki-laki itu penuhi. Selama ini mereka memang sepakat, Sandralah yang akan mengurus Bita. Mengantar jemput ke sekolah. Menemani jalan-jalan atau pergi makan. Dan Sandra selalu mengatakan ”Papamu sibuk…” setiap kali Bita bertanya kenapa Papa enggak pernah ikut?
Sandra tahu malam ini laki-laki itu pun harus pergi. Sandra sudah terbiasa dengan pertemuan-pertemuan yang cuma sebentar seperti ini. Tapi ketika selepas jam 2 dini hari Sandra mendengar derum mobil laki-laki itu keluar rumahnya, ia benar-benar tak kuasa menahan air matanya. Dulu, saat ia seusia Bita, Sandra selalu pura-pura tertidur ketika ada laki-laki keluar masuk rumahnya. Apakah Bita kini juga pura-pura tak mendengar suara mobil itu pergi?
Sandra ingin semua ini akan berjalan baik seterusnya. Ia berusaha serapi mungkin menyembunyikan. Ia tak ingin Bita sedih. Ia ingin Bita menikmati masa-masa sekolahnya dengan nyaman dan tak cemas menghadapi pelajaran mengarang. Sandra kembali merasakan saat-saat paling sedih masa kanak-kanaknya, saat ia tahu kalau ibunya pelacur. Sungguh, ia tak ingin Bita tahu, kalau ibunya hanya istri simpanan.
Sandra merasa bantalnya basah. Ia berharap, sungguh-sungguh berharap, para peri pemetik air mata itu muncul malam ini. Yogyakarta, 2009
Seluruh kisah masa kanak-kanak Sandra bisa dibaca pada cerpen Pelajaran Mengarang, karya Seno Gumira Ajidarma.

Cerpen Mugiyono



Mugiyono


Namanya Mugiyono. Biasa dipanggil Enek, mungkin penyimpangan bunyi dari Ono, aku tak tahu pasti. Sejak aku lahir ia telah dipanggil Enek. Badannya besar, selebar dan setinggi daun pintu. Tapi wajahnya seperti anak-anak. Juga kelakuannya. Aku sangat betah bermain dengannya. Kurasa demikian juga ia. Temannya semua adalah anak kecil sebayaku waktu itu. Padahal usianya tiga kali usia kami. Kakak-kakak kami adalah bekas teman-temannya. Dan beberapa tahun kemudian kami juga meninggalkannya. Lalu adik-adik kami yang menggantikan posisi kami. Ia tetap berada di sana. Ia tak ke mana-mana. Sebagaimana namanya, ia selalu ada. Di tempatnya semula.
Aku tak ingat benar bagaimana awal mula perkenalanku dengan Enek. Tahu-tahu kami sudah sering main bersama. Dan sebagai pemilik badan paling besar, tentu saja ia sangat membantu kami. Misalnya untuk memanjat pohon kelapa mencari kelapa muda, atau menyelamatkan kami dari arus sungai yang terlalu deras. Enek adalah dewa penolong kami. Tapi juga badut yang kerap jadi bahan olokan kami. Entah kenapa kami suka menggodanya. Mungkin karena diam-diam kami merasa lebih pintar. Atau karena ia terlalu gampang kami bodohi. Ya. Lama-lama ia menjadi seperti adik kami. Kami yang harus mengemongnya. Dan untuk itu kami merasa berhak mengisenginya. Tapi ia adalah adik yang setia. Seperti Sukrasana kepada Sumantri dalam kisah pewayangan. Meski si adik terus-menerus dilukai, ia tetap setia dan membantu kakaknya. Demikianlah meski kemudian harus terbunuh di tangan sang kakak. Enek adalah Sukrasana, raksasa yang baik hati, yang mengusung taman Sri Wedari bagi kami. Dan setelah itu kami akan membunuhnya. Meninggalkannya sendirian.
Dan inilah kisah pembunuhan tersebut:
Saat itu kami lagi demam teater. Hampir tiap malam di musim ujian pementasan, kami menontonnya di kampus seni yang terletak persis di sebelah kampung kami. Enek juga ikut bersama kami. Dan ketika musim ujian itu telah selesai, kami bersepakat mendirikan kelompok teater sendiri. Enek ikut bergabung di dalamnya. Dengan gagah berani, tepatnya: asal-asalan, kami berlatih dan memainkan naskah-naskah ciptaan kami sendiri. Hingga akhirnya kami mulai berpentas dari panggung ke panggung kampung. Enek juga bermain. Dan ia selalu kebagian jatah menjadi raksasa atau perampok yang dungu dan gampang kami kalahkan. Tapi ia sangat menyenangi perannya. Kedua orangtuanya juga sangat bahagia melihat Enek tampil di atas panggung. Kami juga senang, karena tak satu pun dari kami yang mau memainkan peran tersebut. Di atas panggung kami membunuhnya berulang-ulang.
Hampir dua tahun kami bersama, hingga kemudian masing-masing dari kami berpisah. Aku mulai sibuk dengan teater di SMP-ku. Beberapa teman lain juga telah tergabung dengan kelompok teater anak yang lebih besar namanya di luar kampung. Kami juga mulai merambah drama-drama anak di televisi. Enek mulai kami tinggalkan. Ia tetap berada di kampung kami. Tidak ke mana-mana. Di luar kampung kami, ia tidak diterima sebagai anak-anak, sehingga tidak bisa bergabung dengan salah satu di antara kami.
Tiap kali berkumpul, di emper masjid selepas magrib, kami selalu saling membanggakan aktivitas masing-masing. Bagaimana kami bermain dengan aktor-aktor dewasa yang tenar, bermain drama di TVRI atau bermain ketoprak bersama pelawak-pelawak idola kami. Dan Enek mendengarkan semua itu dengan setia. Ia tak tampak iri atau sedih. Ini sebenarnya membikin kami agak jengkel. Sebagaimana anak-anak kecil yang lain, tentu saja kami akan merasa bangga jika ada yang iri dengan keberhasilan kami. Enek malah tampak senang dengan perkembangan dan kemajuan kami. Sialan. Kami semakin menjadi-jadi memamerkan cerita kami. Menambah-nambahinya di sana-sini. Kami berusaha membuat Enek iri dengan apa yang kami dapatkan di luar sana. Tapi kami tak pernah berhasil.
Suatu hari, tanpa sepengetahuan Enek, aku mengumpulkan teman-teman. Aku mengungkapkan rasa sebalku kepada Enek. Aku bilang kepada teman-teman bahwa tidak mungkin Enek tidak memiliki keinginan seperti kita. Ia hanya berpura-pura saja, kataku. Mereka, seperti dugaanku, juga memiliki perasaan yang kurang lebih sama. Dongkol alias nggondhuk dalam bahasa kami. Lalu kami bersepakat untuk mengerjainya. Kami ingin membuktikan bahwa diam-diam di dalam hatinya, Enek iri kepada kami.
Ide pertama datang dariku. Aku akan mengiriminya sebuah surat undangan untuk shooting di TVRI. Dengan meminjam mesin ketik Budi, aku menulis surat undangan itu. Agar meyakinkan kami juga membuat kop surat dan stempel palsu. Kop surat kami bikin sebagus mungkin, mengambil nama sebuah kelompok teater terkemuka di kota kami. Lalu kami fotokopi agar lebih meyakinkan. Stempel kami buat dari karet penghapus. Andri yang mengukirnya dengan pisau lipat. Bunyinya seperti ini:
Kepada Yth. Enek Mugiyono
Di tempat
Dengan ini kami mengundang Saudara untuk hadir dalam pengambilan gambar di TVRI Stasiun Yogyakarta. Kebetulan kami membutuhkan pemeran seperti Saudara. Sudah lama sebenarnya kami mencari alamat Saudara Enek. Kami sudah sering mendengar kiprah Saudara di panggung. Untuk itu kami mohon kehadiran Saudara di Studio 2 TVRI pada tanggal 19 Januari 1991 pukul 14.00 WIB. Mengenai peran dan naskah akan kita bicarakan langsung di sana.
Salam hormat kami
Teguh S
Kami masukkan surat tersebut ke dalam kotak pos. Kami berdebar menunggu tanggal yang telah ditentukan. Dan selama menunggu waktu pengambilan gambar palsu itu, tiap malam kami berkumpul di rumahnya. Kami ingin mendengar apa yang akan diceritakan Enek kepada kami mengenai surat undangan tersebut. Kami berharap Enek akan memamerkan undangan tersebut. Tapi selama seminggu menjelang tanggal tersebut, Enek tak bercerita apa-apa. Bahkan tak tampak perubahan sama sekali di raut wajahnya. Ia juga tak tampak menyembunyikan apa pun. Kami saling pandang dan tanya, jangan-jangan surat itu tak sampai ke tangannya. Mendekati tanggal 19 kami makin berdebar. Rencana kami bisa saja gagal.
Tanggal 19 Januari, siang hari selepas pulang sekolah kami berkumpul. Kami berencana mengikuti kepergian Enek jika memang dia menerima dan memenuhi undangan tersebut. Akhirnya pada jam setengah dua siang, Antok yang berjaga di dekat rumah Enek melaporkan bahwa Enek sudah bersiap dengan sepedanya. Dan tak lama kemudian kami melihat Enek mengayuh sepedanya meninggalkan kampung kami. Ia tampak tergesa-gesa dan gelisah. Ia seperti tak ingin kepergiannya diketahui oleh siapa pun. Setelah agak jauh, kami menguntitnya. Benar. Ia menuju arah studio TVRI. Kami terus menguntitnya dari kejauhan.
Sesampai di gerbang studio TVRI Enek menghentikan sepedanya. Ia mendatangi kantor satpam dan menanyakan sesuatu. Agak lama mereka bercakap. Mungkin Pak Satpam tidak mengerti apa yang tengah ditanyakan Enek. Lalu kami lihat Enek mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Itu surat undangan kami. Pak Satpam geleng-geleng kepala lalu tangannya menunjuk-nunjuk sebuah gedung. Enek segera melajukan sepedanya ke gedung yang tadi ditunjukkan oleh Pak Satpam. Kami mendekat lagi. Kami menyandarkan sepeda kami di seberang jalan. Lalu mengendap mendekati tembok untuk melihat apa yang terjadi pada Enek. Setelah memarkir sepedanya, Enek berjalan menuju pintu gedung. Enek melangkah terus. Tapi makin lama langkahnya makin lambat. Dan akhirnya berhenti di anak tangga depan pintu. Ia berdiri terpaku. Seperti ragu-ragu. Ayo! Ayo! Kami bersorak dalam hati berharap Enek segera melangkah masuk. Agak lama ia berdiri di sana. Tapi akhirnya Enek melangkah juga. Tidak menuju pintu, melainkan menuju ke samping gedung. Lalu berbelok, menghilang di balik gedung. Kami tak mampu melihatnya lagi. Kami tak tahu apa yang terjadi di sana.
Akhirnya kami memutuskan pulang karena sudah satu jam lebih Enek tak juga muncul. Sepedanya masih tetap terparkir di tempat semula. Kami pulang dengan hati yang tak tenang. Jangan-jangan, Enek malah beneran ikut shooting di dalam studio. Niatnya mengerjai malah kami sendiri yang kena. Sial. Kalau pun Enek cuma ngumpet di sana, setidaknya ia berhasil membuat kami berpanas-panasan mengawasinya.
Selepas magrib kami segera menuju ke rumahnya. Pengin tahu apakah ia sudah pulang. Juga bertanya dari mana ia sesiangan tadi. Tapi kata ibunya Enek belum pulang, sedang pentas di TVRI. Kami saling pandang. Selepas isya kami balik lagi ke rumahnya. Hasilnya sama saja. Enek tetap belum pulang. Kami pulang ke rumah masing-masing. Aku tak bisa segera tidur malam itu. Jangan-jangan sesuatu yang buruk telah terjadi pada Enek. Dan semua itu adalah salahku.
Keesokan paginya, sambil berangkat ke sekolah, aku mampir ke rumah Enek. Aku panggil-panggil namanya. Tapi ibunya yang keluar. Enek belum bangun, katanya, semalam pulang tengah malam. Aku lega sekali. Tak penting lagi apa yang dilakukan Enek kemarin siang hingga tengah malam. Yang penting Enek pulang dengan selamat. Aku mengayuh sepeda ke sekolah dengan ringan.
Kami merasa tak enak karena telah mengerjainya. Tapi kami sama sekali tak menyesali perbuatan kami. Kami hanya harus berjalan melingkar kalau mau shalat di masjid supaya tidak melintasi rumah Enek dan bertemu dengannya. Tapi kami yakin keadaan ini tak akan berlangsung terlalu lama.
Seminggu kemudian keyakinan kami terbukti. Kami sudah kembali bercanda di rumah Enek. Seperti semula. Seperti Enek tak pernah mengayuh sepedanya di siang terik untuk memenuhi undangan bohong-bohongan. Kami kembali mengumbar cerita-cerita kami. Dan Enek, seperti biasa, mendengarkannya sambil manggut-manggut, menganggap cerita kami biasa saja, tidak terlalu istimewa. Sehingga kembali kami merasa perlu menyusun rencana untuk mengerjainya.
Rencana kedua datang dari Budi. Ia pernah mendengar sebuah akademi seni yang cukup nyentrik. Saking anehnya akademi ini sering jadi bahan olok-olokan di kalangan seniman. Namanya ATI. Singkatan dari Akademi Teater Indonesia. Didirikan oleh seorang seniman tua yang sekaligus menjadi rektor dan dosen tunggal di sana. Rumahnya yang sempit dan mirip kandang ayam diubah menjadi ruang kuliah. Dan, lucunya, para mahasiswa di sana boleh membayar uang kuliah dengan gula dan teh. Nah, kami akan memanas-manasi Enek untuk mendaftar menjadi mahasiswa di sana.
Di sebuah percakapan dengan Enek, Budi melontarkan idenya. Ia bilang bahwa bakat Enek sebagai aktor panggung bisa hilang jika ia tak rajin mengasahnya. Bakat sebesar yang dimiliki Enek sungguh sayang jika ditelantarkan di kampung begitu saja. Aku dan teman-teman lain juga mengimbuhinya. Kipasan kami makin lama makin kencang. Dan membuat hati Enek mau tak mau berdesir juga. Ia mulai terbawa. Kenangannya di panggung sewaktu bermain bersama kami mulai tumbuh lagi. Lebih besar dari yang seharusnya. Tepat di titik inilah, Budi memunculkan nama ATI. Di depan Enek kami mendandani ATI sedemikian rupa sehingga menjelma menjadi sebuah akademi seni terkemuka yang menjadi rebutan banyak mahasiswa. Bentuknya memang aneh, Nek, tapi begitulah sekolah seni yang bener, kataku. Dosennya cuma satu. Itu menunjukkan bahwa beliau adalah dosen yang luar biasa, tambah Budi. Dan kamu boleh membayar uang kuliah dengan beras atau apa saja. Tidak ada sekolah lain yang seperti itu. Sangat nyeni, kataku. Enek bilang malam itu akan berpikir dulu. Kami tahu dia tertarik. Dan pasti akan mengikuti bujukan kami. Studio TVRI tempo hari telah membuktikannya.
Keesokan paginya Enek sudah memunculkan jawaban. Siangnya selepas sekolah, kami berjanji untuk mengantar Enek mendaftar di sana. Siapkan saja fotokopi ijazah SMA-mu, kata kami.
Tak perlu lagi kuceritakan apa yang terjadi siang itu. Yang jelas hari berikutnya Enek telah berstatus mahasiswa. Mugiyono, mahasiswa ATI semester pertama. Ia mengajak kami makan di angkringan di hari pertama kuliahnya. Kami makan dengan lahap sampai kenyang.
Beberapa bulan kemudian kami mendapat undangan dari Enek untuk menyaksikan pementasannya. Pentas dalam rangka dies natalis kampusnya. Disna talis, katanya dengan bangga. Kami sama sekali tak bertanya kepadanya, peran apa yang akan dimainkannya. Kami yakin, perannya tak akan banyak berubah dari yang sudah-sudah: keluar sekali langsung mati, atau, keluar lama tapi tak bicara apa-apa. Aku dan Budi bertaruh limaratus perak. Aku untuk pilihan pertama dan Budi yang kedua.
Dan Budilah yang memenangkan taruhan. Enek menjadi seorang pengawal raja. Berdiri diam memegang tombak di belakang sang Raja sepanjang pertunjukan. Aku memberikan uang saku selama seminggu itu dengan gemas. Karena Enek akhirnya mati di akhir pertunjukan. Tapi kan tidak keluar langsung mati, kata Budi. Sekali lagi Enek terbunuh di panggung pertunjukan.
Tapi sesungguhnya, Enek tak bisa terbunuh dalam ingatanku, sekeras apa pun aku berusaha. Ia terus hidup dan melanjutkan kisahnya. Sampai beberapa hari yang lalu kudengar kabar ia telah menikah. Aku lega. Setidaknya ada seseorang yang akan menemaninya, dan kelak memberinya teman-teman kecil, yang akan menghiburnya di saat ia mau tak mau menjadi tua. Jogjakarta, 2009